Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengapa Banyak Sekali Orang Merasa Harus Berpendapat?

Erwin Setia oleh Erwin Setia
7 Mei 2019
A A
komentar

komentar

Share on FacebookShare on Twitter

Saya mengamati banyak orang memposisikan dirinya seolah ia adalah orang terpenting sedunia. Seolah-olah jika tanpa kehadirannya, maka dunia ini akan kacau balau. Lantaran itu, ia pun tak pernah mau absen untuk berpendapat perihal apa saja.

Ketika ada permasalahan agama, ia angkat bicara; lagi ngomongin politik, ia turut berpendapat; ada kisruh sepakbola, ia juga tak tinggal diam; ada gosip artis, ia ngoceh. Pokoknya apa saja topik yang sedang ngehits, ia akan ambil bagian.

Masalahnya, orang tersebut adalah manusia biasa. Ia bukan sejenis manusia super yang dianugerahi kemampuan sanggup memahami apa pun. Ia juga bukan seorang nabi yang menerima wahyu. Seperti kita, ia hanya manusia biasa dengan segala keterbatasannya.

Seharusnya setiap orang menyadari keterbatasannya masing-masing. Ada banyak hal yang tak bisa kita terabas, sehebat apa pun kita. Kita mungkin seorang doktor dalam bidang agama, tapi bukan berarti ketika ada polemik seputar pertambangan, mesti ikut berpendapat seolah-olah ahlinya. Padahal tidak tahu apa-apa soal itu.

Saya menemui banyak sekali orang-orang semacam itu. Orang-orang yang hanya karena kepandaiannya dalam suatu hal, merasa boleh berpendapat dan ikut campur dalam segala persoalan.

Ada seorang ustaz lulusan Timur Tengah berbicara tentang sastra. Mengatakan bahwa membaca novel itu tidak ada manfaatnya. Lebih baik waktu digunakan untuk membaca al-quran dan mengkaji materi agama.

Pada satu titik, apa yang diucapkannya benar adanya. Namun—tanpa mengurangi penghormatan saya kepada sang ustaz—perkataannya itu terlalu naïf. Seringkali orang yang mengatakan “baca novel itu tidak ada gunanya” dan semacamnya adalah orang yang tidak pernah membaca novel atau pernah tapi yang dibacanya adalah novel berkualitas teruk.

Bagaimana mungkin membaca novel dikatakan tidak ada gunanya sedangkan dalam novel terkandung banyak sekali kisah yang dapat menambah kepekaan perasaan dan merangsang pikiran. Bagaimana mungkin membaca Max Havelaar dikatakan tidak bermanfaat, sedangkan novel itu menjadi salah satu buku yang menggerakkan para pejuang untuk berani melawan kezaliman penjajah.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Kesalahkaprahan sejenis juga menimpa orang-orang yang konon ahli sastra. Orang-orang yang sudah membaca dan menulis banyak buku sastra. Lalu, lantaran latar belakang tersebut, ia pun jadi berani berbicara mengenai apa saja. Sampai masalah tafsir alquran dan fikih pun dicampurinya juga. Padahal ia tak punya kapasitas untuk itu.

Ia mengujarkan pendapatnya dengan balutan kata-kata indah dan memesona. Padahal, kalau dilihat dari segi keilmuan tafsir dan fikih, kata-katanya tak lebih dari bualan orang pandir semata. Ia mungkin hebat dalam masalah sastra, tapi bukan berarti menjadi berhak bicara hal yang tak dipahaminya.

Kecuali ia seorang Buya Hamka. Orang yang ahli agama juga pandai masalah sastra (kendati mengenai poin kedua kita bisa berdebat panjang).

Daftar jenis orang yang suka membicarakan sesuatu yang bukan bidangnya bisa sangat panjang. Daftar tersebut akan terus bertambah panjang kalau orang-orang itu tidak juga sadar akan posisinya. Bahwa ia manusia yang punya batas dan bahwa “kebebasan berpendapat” adalah frasa yang harus dibincangkan lebih jauh.

Ada pepatah Arab yang cocok mengenai ini: “Kalau kau lihat ada seseorang yang bicara bukan pada bidangnya, niscaya kau akan melihat berbagai keajaiban keluar dari mulutnya.”

Memang ajaib betul orang-orang yang doyan ngomong sesuatu yang tak ia kuasai. Tepatnya, ngawur betul. Ia mungkin pakar dalam sebuah disiplin ilmu, tapi begitu dengan percaya dirinya ia ikut-ikutan ngomong dalam disiplin ilmu yang tak dikuasainya—hanya karena topik tersebut lagi viral, misalnya—maka yang bakal muncul dari mulutnya bukanlah ilmu, tapi kengawuran belaka.

Saya heran mengapa banyak sekali orang merasa harus berpendapat terhadap segala hal. Okelah kalau ia paham atau paling tidak tahu soal apa yang dibicarakannya tersebut. Masalahnya, dengan dalih kebebasan berpendapat, banyak sekali orang yang ngomong asal-asalan saja alias cuma memperbanyak populasi sampah di dunia ini.

Maka tak heran, ada anak muda yang sehari-hari hanya ngegame, berani bicara soal fatwa halal-haram. Atau pekerja yang sehari-harinya jauh dari buku, berani bicara soal masalah orang banyak. Atau seorang artis kemarin sore, dengan polosnya menyamakan sebuah karya sastra monumental dengan roman picisan murahan.

Semuanya tak lain karena mereka merasa harus berpendapat. Padahal, apa susahnya sih diam. Mengunci mulut agar tak mengucapkan selain sesuatu yang kita pahami. Lagi pula, apa pentingnya sih ucapan kita? Memangnya kita siapa, nabi? Nabi saja ketika ditanya soal sesuatu yang tidak beliau pahami bilang “antum a’lamu bi-umuuri dunyaakum” (kalian lebih tahu perihal urusan dunia kalian), kok. (*)

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2019 oleh

Tags: Ahli AgamaberpendapatBuya Hamka
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Beli Kopi Pakai Tumbler Memang Ramah Lingkungan, tapi Plis, Dicuci Dulu, Jangan Minta Baristanya Nyuci Tumbler Kalian!

22 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026
Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau Mojok.co

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

24 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda! Mojok.co

Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda!

22 Juni 2026
Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.