ADVERTISEMENT

Panduan merawat ijazah agar tidak dituduh palsu oleh Roy Suryo di masa depan

Panduan merawat ijazah agar tidak dituduh palsu oleh Roy Suryo di masa depan

Dulu, orang tua kita selalu berpesan agar ijazah disimpan baik-baik. Jangan sampai terkena air, dimakan rayap, terlipat, apalagi hilang. Sebab, dokumen tersebut merupakan bukti bahwa kita pernah berjuang melewati masa sekolah, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, dan merasakan penderitaan bernama revisi skripsi.

Namun, sepertinya nasihat orang tua perlu diperbarui. Pada zaman sekarang, menjaga ijazah agar tidak rusak saja ternyata belum cukup. Kita juga perlu memastikan ijazah tidak menjadi bahan perdebatan publik, dianalisis berulang kali, atau tiba-tiba dipertanyakan keasliannya oleh orang yang bahkan tidak pernah menjadi teman sekelas kita.

ADVERTISEMENT

Fenomena polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang melibatkan Roy Suryo menjadi salah satu contoh betapa sebuah dokumen pendidikan bisa menyita perhatian masyarakat. Bahkan, dalam persidangan pada 5 November 2026, Jokowi memperlihatkan ijazahnya dari tingkat SD hingga perguruan tinggi di hadapan majelis hakim dan pengunjung sidang. Peristiwa ini kembali membuat masyarakat ramai membicarakan dokumen yang biasanya hanya tersimpan di dalam lemari.

Dari kejadian tersebut, mungkin sudah waktunya kita membuat panduan sederhana merawat ijazah. Bukan hanya agar tetap awet sampai puluhan tahun, tetapi juga agar tidak menimbulkan drama yang tidak diundang di kemudian hari.

Jangan simpan ijazah di sembarang tempat

Kesalahan paling umum dalam merawat ijazah adalah menyimpannya di tempat yang tidak jelas. Ada yang menaruhnya di lemari pakaian, diselipkan di antara buku pelajaran, bahkan ada yang lupa pernah menyimpannya di mana.

Padahal, ijazah bukan kertas bungkus gorengan yang bisa dibuang setelah digunakan. Dokumen ini memiliki nilai penting untuk berbagai keperluan, mulai dari melamar pekerjaan, melanjutkan pendidikan, hingga memenuhi persyaratan administrasi.

Sebaiknya, simpan ijazah dalam map khusus atau tempat penyimpanan yang kering dan aman. Jangan sampai ijazah sarjana yang diperjuangkan selama empat tahun justru berakhir mengenaskan karena terkena bocoran atap rumah.

Jangan terlalu sering dipegang, apalagi dipamerkan

Ijazah memang boleh dibanggakan. Bagaimanapun, mendapatkan selembar kertas tersebut membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar. Namun, bukan berarti setiap ada kesempatan kita harus mengeluarkannya dari lemari.

Semakin sering dokumen dipegang, semakin besar pula kemungkinan terkena kotoran, terlipat, atau mengalami kerusakan. Apalagi jika dipegang oleh banyak orang dengan tujuan yang berbeda-beda.

Simpan dokumen aslinya dan gunakan salinan apabila hanya diperlukan untuk keperluan administrasi biasa. Jika memang harus menunjukkan dokumen asli, pastikan dilakukan kepada pihak yang berwenang.

ADVERTISEMENT

Ingat, ijazah bukan kartu anggota yang harus ditunjukkan kepada setiap orang yang bertanya, “Memangnya kamu lulusan mana?”

Dokumentasikan ijazah sejak hari pertama

Zaman sekarang, memotret makanan sebelum dimakan saja sudah menjadi kebiasaan. Maka, memotret ijazah setelah diterima seharusnya tidak menjadi pekerjaan yang sulit.

Buatlah salinan digital dengan memindai dokumen menggunakan pemindai atau aplikasi yang sesuai. Simpan dalam beberapa tempat, misalnya penyimpanan awan dan perangkat pribadi yang aman.

Namun, jangan sampai hasil pemindaian justru diedit agar terlihat lebih bagus. Tidak perlu menambahkan efek, mempertajam warna secara berlebihan, atau mengubah bagian tertentu.

Ijazah bukan foto wisuda yang boleh diberi filter. Biarkan dokumen tersebut sebagaimana aslinya.

Jangan iseng mengubah tampilan ijazah

Ada kalanya seseorang merasa ijazahnya kurang menarik. Mungkin karena foto terlihat kurang bagus, tanda tangan kurang rapi, atau desainnya dianggap terlalu sederhana.

Namun, jangan pernah mencoba memperbaiki dokumen asli dengan cara sendiri. Mengubah tulisan, menambahkan cap, mengganti foto, atau memanipulasi bagian tertentu justru bisa menimbulkan masalah.

Kalau memang terdapat kesalahan administrasi, hubungi lembaga pendidikan yang menerbitkannya. Jangan mengambil keputusan sendiri hanya karena merasa bisa mengedit dokumen menggunakan aplikasi di ponsel.

Ingat, kemampuan menggunakan Photoshop tidak otomatis menjadikan seseorang ahli dalam memperbaiki dokumen pendidikan.

Kenali sejarah pendidikan sendiri

Ini mungkin terdengar lucu, tetapi penting. Jangan sampai ketika ditanya pernah sekolah di mana, kita justru lupa nama sekolah sendiri.

Simpan informasi mengenai tahun masuk, tahun kelulusan, nomor induk, nama lembaga pendidikan, hingga dokumen pendukung lainnya. Jika memungkinkan, simpan juga transkrip nilai dan dokumen administrasi yang berkaitan.

Sebab, suatu hari nanti kita mungkin membutuhkan informasi tersebut untuk keperluan pekerjaan atau pendidikan lanjutan.

Setidaknya, ketika ada yang bertanya tentang riwayat pendidikan, kita tidak perlu membuka grup WhatsApp alumni hanya untuk mengingat tahun kelulusan.

Jangan sampai ijazah lebih terkenal daripada pemiliknya

Pada akhirnya, ijazah memang hanya selembar dokumen, tetapi memiliki perjalanan panjang di belakangnya. Ada waktu, tenaga, biaya, dan perjuangan yang membuat seseorang berhasil mendapatkannya.

Polemik ijazah yang ramai dibicarakan masyarakat juga memberikan pelajaran bahwa dokumen pendidikan perlu dijaga, sementara persoalan keasliannya harus diselesaikan melalui bukti dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar dugaan, potongan gambar, atau kesimpulan yang beredar di media sosial.

Kita tentu tidak ingin ijazah yang selama ini disimpan rapi justru menjadi sumber persoalan di kemudian hari. Apalagi kalau niat awalnya hanya ingin melamar pekerjaan, tetapi malah harus menjelaskan riwayat pendidikan kepada satu negara.

Jadi, rawatlah ijazah baik-baik. Simpan di tempat aman, dokumentasikan dengan benar, dan jangan pernah memanipulasi isinya.

Sebab, setelah susah payah sekolah bertahun-tahun, rasanya cukup menyedihkan jika perjuangan tersebut harus berlanjut dengan urusan membuktikan bahwa kita benar-benar pernah menjadi mahasiswa.

Ingat, ijazah boleh disimpan di dalam map, tetapi keasliannya jangan sampai hanya tersimpan di dalam keyakinan pribadi.

Penulis: Jovita Alfiana Zahrani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris! dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Jovita Alfiana Zahrani

Mahasiswa semester 1 Poltekkes Kemenkes Surakarta. Menaruh perhatian pada isu-isu sosial dan hal-hal menarik di lingkungan sekitar. Setiap Jumat sore, rutin pulang ke kampung halamannya di Sragen.