ADVERTISEMENT

Makanan Nias yang serba pedas menyiksa lidah Solo saya yang terbiasa rasa manis dan gurih

Makanan Nias yang serba pedas menyiksa lidah Solo saya yang terbiasa rasa manis dan gurih Mojok.co

Tidak terasa sudah setahun saya merantau di Nias. Bagi saya, tidak ada hal lain yang bikin kepikiran di tempat ini kecuali urusan perut. Saya ingat betul, bagaimana seporsi rendang yang tampak pedas disuguhkan di hadapan saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Nias. 

Ekspresi saya pada waktu begitu ketara. Betapa takutnya saya memakan rendang itu. “Nggak apa-apa, nanti juga terbiasa,” ucap tuan rumah meyakinkan saya untuk harus mencoba. Satu suapan, dua suapan, lalu saya meneguk air dingin. Tapi, saya tetap lanjut makan hingga sekujur tubuh mandi keringat, bibir memerah, desisan ular mulai nyaring, dan perut mulai mules. 

ADVERTISEMENT

Setahun di Nias, saya bisa mengonfirmasi bahwa saya masih belum terbiasa dengan masakannya. Saya sudah banyak mencoba berbagai kuliner di rumah makan dan di pesta-pesta makan di sana. Lagi-lagi lidah ini masih perlu beradaptasi. 

Hal ini membuat saya jadi rindu dengan masakan di Solo. Saya kangen makanannya yang manis, legit, gurih, dan cenderung tidak pedas. Berbeda dengan di Nias, rasanya cenderung asin, gurih, asam segar, dan ada pilihan pedas. Disclaimer, bukan bermaksud merendahkan makanan tetapi ini hanya preferensi saya yang tentu berbeda dengan lainnya. 

Berikut beberapa alasan yang membuat saya jadi rindu masakan khas Kota Batik ini, menurut keyakinan saya.

Makanan di Nias mayoritas pedas, tidak seperti Solo

Makanan apa pun pasti selalu terselip rasa pedas, padahal kita tidak memintanya. Seperti nasi goreng, lontong, bumbu sate, gulai, rendang, dan masih banyak lagi. Bahkan, ketika masih dirasa belum pedas, mereka menambah sendiri takarannya. 

Saya sempat bertanya mengapa mayoritas makanan rasanya pedas semua. Jawabannya sederhana saja, di lidah mereka, makanan tidak pedas rasanya hambar. 

Masalahnya adalah setiap masakan yang dibuat itu sudah dijadikan satu bumbu saja. Misalnya lontong, kita tidak bisa request tidak pedas. Penjual hanya membuat satu kuah yang dibuat dan itu pedas. Sama halnya dengan gulai dan rendang yang sudah tersusun rapi di lemari pajangan lauk. 

Ada juga makanan yang dasarnya tidak pedas, tapi dicampur sambal. Seperti nasi uduk, sudah sering saya memesan agar tidak diberi sambal. Namun, karena tidak terbiasa, tangan penjual otomatis menambahkan sambel di atas nasi uduk itu. 

Kalau ada orang yang mengalami culture shock dengan kuliner Solo yang serba manis. Sebaliknya, saya malah culture shock dengan berbagai makanan yang serba pedas di Nias. 

ADVERTISEMENT

Sarapan mi putih atau mie kuning

Rasanya berat sekali ketika pagi-pagi langsung mengonsumsi mi. Bayangkan, lambung baru saja bekerja keras menguraikan bekas makanan semalam, paginya dia langsung ekstra lagi untuk memproses mie. Herannya itu sangat laku dijual dan sering habis menjelang siang. 

Sebenarnya, menu sarapan pagi selain mie sih masih ada. Seperti nasi uduk, nasi padang, bubur putih, bubur kacang hijau, dan kue-kue. Namun, mie putih dan kuning selalu memahami isi dompet kita. Dengan harga Rp. 3000 saja sudah bisa mengenyangkan perut. 

Terkadang untuk alasan menghemat, saya terpaksa membeli mie untuk mengganjal perut di pagi hari meskipun berujung mules. 

Karena itu saya jadi rindu dengan kuliner-kuliner sarapan pagi ketika di Solo. Seperti, sego kucing, nasi liwet, nasi kuning, tempe mendoan, yang ramah kantung dan tentunya lambung aman. 

Gulai harus menjadi santapan rutin setiap hari

Kebetulan saya dekat dengan salah satu rumah makan di Nias. Setiap ke sana saya selalu diberikan makanan secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Untuk menunya hampir semua yang dihidangkan adalah gulai. 

Masalahnya, hampir setiap selesai makan saya selalu absen di kamar mandi. Bukannya tidak bersyukur tetapi ini lah kenyataan pahit yang saya harus terima. Bahkan ketika saya konsultasi ke dokter terkait perut saya yang sering mules, dokter pun menyarankan untuk mengurangi mengonsumsi gulai.

Akhirnya, solusi paling aman untuk menjaga agar lambung tetap terjaga adalah dengan memasak sendiri. Tentu saya hanya bisa memasak telur dengan berbagai model, seperti orak-arik, dadar, mata sapi, dan omelet. Bosan sih, tapi ya mau bagaimana lagi, saya bukan master chef yang bisa memasak apa pun.

Benar kata Dilan “Jangan rindu. Ini berat. Kau takkan kuat”. Ketika pikiran ini mulai rindu dengan masakan khas Solo, saya hanya bisa menelan air liur. Langsung terbayang betapa nikmatnya duduk di Waduk Cengklik sambil menyantap soto ayam, atau pergi ke Pasar Gede dan mencicipi setiap kuliner yang dijual di sana.

Penulis: Nurrahman Assa Adah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Nura

Kontributor aktif media opini dan satir.