Jujur saja, memberanikan diri membeli mobil pertama itu ibarat memasuki gerbang dimensi baru. Sebagai orang yang selama bertahun-tahun hidupnya serba pasrah di atas jok Honda Revo dan Yamaha NMax, keputusan saya untuk meminang sebuah Suzuki Swift bekas sebagai mobil pertama keluarga kecil kami adalah sebuah keputusan besar.
Apakah saya menyesal? Sama sekali tidak.
Menjadikan Suzuki Swift sebagai unit pertama dalam hidup adalah satu hal yang tak pernah saya sesali,meski pada kenyataannya, mobil ini sukses memaksa saya untuk merogoh kantong lebih dalam dan belajar dunia otomotif secara bertahap, bahkan dari cara yang paling mendebarkan.
Mobil bekas itu tempatnya belajar merawat
Sebagai pembeli mobil bekas yang baru awam di dunia permobilan, ekspektasi awal saya tentu agak kelewat mulus. Bayangan saya, begitu kunci berpindah tangan, kita tinggal duduk manis, putar kenop AC, lalu meluncur tanpa beban di jalur Pantura.
Realitasnya tentu tidak semudah itu. Namanya juga unit seken, wajar kalau body mobilnya tidak mulus-mulus amat. Ada goresan-goresan halus bekas pemakaian pemilik sebelumnya yang menjadi saksi sejarah. Namun, bukan soal urusan visual eksterior yang bikin saya elus dada, melainkan “kejutan-kejutan” teknis di dalam kap mesin yang siap menguji keimanan finansial pemula.
Dimulai dari cuci radiator. Sebagai orang baru di dunia roda empat, saya baru tahu kalau saluran pendingin mesin itu tidak cukup cuma dicek airnya, tapi butuh dikuras dan dibersihkan berkala agar mesin Swift kesayangan tidak mendadak kena penyakit demam alias overheat di tengah jalan. Sebuah proses belajar yang lumayan membuat saya manggut-manggut.
Suara berdenging misterius dari dalam Suzuki Swift yang bikin saya tercekat
Puncak dari ujian mental sebagai pemilik mobil baru terjadi beberapa waktu lalu, saat saya mengajak Suzuki Swift melintasi rute harian Lamongan-Mojokerto.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul suara berdenging dari area mesin Swift. Bunyinya tidak main-main, sangat keras, nyaring, dan membuat orang-orang menoleh. Suara itu terus mengaung seiring putaran mesin.
Di dalam hati, pikiran saya langsung traveling ke mana-mana. Kepala saya mulai berhitung dengan panik: Duh, ini mesinnya mau jebol tah? Katupnya patah? Atau transmisi matic-nya yang rontok?
Saking frustrasinya mendengar dengungan horor itu, di pinggir jalan saya sempat batin: “Waduh, kalau servisnya sampai belasan juta rupiah, apa mending ini mobil tak jual sekalian trus ganti unit lain aja ya? Wkwkwk.” Sebuah respons panik khas anak motor yang kaget melihat masalah mesin mobil.
Dengan perasaan cemas itu, saya bawa mobil itu melipir ke bengkel terdekat. Montir membuka kap mesin, mendengarkan sebentar, lalu coba cari masalahnya.
Ternyata, masalahnya tak separah itu. Sumber suara berdenging yang bikin jantungan seolah mau kiamat itu cuma gara-gara bearing pulley AC Suzuki Swift yang sudah aus dan minta pensiun.
FYI, onderdilnya kecil, dan harganya cuma 70 ribu rupiah! Ya Allah, Gusti. Uang 70 ribu rupiah! Barang sekecil itu ternyata punya impact psikologis yang dahsyatnya bukan main. Begitu komponen kecil itu diganti, suara dengungan yang menyeramkan itu langsung lenyap seketika. Mesin kembali senyap, halus, dan adem.
Harga sebuah ketenangan saat istri tertidur di penumpang
Momen mengganti bearing Suzuki Swift 70 ribu itu memberikan saya sebuah pelajaran berharga tentang dunia otomotif. Ternyata, tidak semua masalah mobil itu menakutkan dan bikin kantong jebol. Banyak hal yang sebenarnya sepele, asalkan kita mau belajar dan telaten merawatnya.
Begitu mobil kembali tenang tanpa suara dengungan, perjalanan Lamongan-Mojokerto terasa jauh lebih nikmat. Efek terbesarnya adalah kenyamanan kabin kembali pulih total. Istri saya di jok penumpang bisa tertidur dengan pulas sepanjang jalan, bebas dari suara bising mesin dan terik matahari pesisir.
Melihat istri bisa tertidur tenang di dalam kabin Suzuki Swift tanpa perlu kebingungan pegangan jas hujan seperti waktu naik motor dulu, semua kerepotan kecil dan pengeluaran ekstra itu rasanya terbayar lunas. Memang betul, punya mobil bekas itu butuh ekstra sabar, tapi senyum dan kenyamanan keluarga di sebelah kita adalah subsidi yang tak ternilai harganya!
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok