ADVERTISEMENT

4 hal yang tidak terpikirkan sebelum “naik kelas” dari motor Honda Revo ke mobil Suzuki Swift

4 hal yang tidak terpikirkan sebelum "naik kelas" dari motor Honda Revo ke mobil Suzuki Swift Mojok.co

Bertahun-tahun naik Hondar Revo, kaget ketiga ganti naik Suzuki Swift.

Sepanjang hidup saya naik kendaraan roda dua alias motor. Hingga akhirnya, saya “hijrah” mengendarai roda empat atau mobil untuk mengaspal di jalanan. 

ADVERTISEMENT

Tidak ujug-ujug ganti dari motor ke mobil. Perjalanan evolusi kendaraan saya terbilang cukup realistis. Awalnya saya setia pada Honda Revo tua yang tahan banting, setelahnya semoat naik Yamaha NMax yang paling gagah se-kecamatan. Akhirnya, takdir mengizinkan saya meminang mobil Suzuki Swift bekas. Perjalanan keluarga kecil saya kini terhindar dari terik dan hujan.

Membeli mobil tentu saja patut disyukuri. Sebelumnya saya berkali-kali kehujanan bersama istri. Dan, ketika punya anak, saya memutuskan untuk beralih ke Suzuki Swift. Sebuah kemenangan kecil yang perlu dirayakan. Meski demikian, euforia itu ternyata tak selalu indah. Berikut adalah 4 hal nyata yang langsung saya rasakan setelah resmi meninggalkan Honda Revo dan beralih mengendarai Suzuki Swift!

#1 Urusan bensin, Suzuki Swift ternyata menyeramkan

Hal pertama yang langsung menampar kesadaran saya adalah urusan pengeluaran bahan bakar.

Dulu, semasa saya masih menunggangi Honda Revo untuk rute Lamongan-Mojokerto, urusan isi bensin adalah perkara receh. Cukup merogoh kocek Rp35.000, tangki bensin sudah terisi penuh, bahkan masih tersisa untuk beberapa kali putaran keliling kota. 

Lalu, setelah mencoba Suzuki Swift, rasanya jauh sekali. Saya harus mengisi Rp100.000. Iya, uang selembar berwarna merah itu biasanya menghasilkan sekitar 5 strip bahan bakar. Dalam sekali perjalanan Lamongan-Mojokerto, mobil itu biasanya menghabiskan sekitar 3 sampai 4 strip.

Kalau dihitung sekilas pada hari satu perjalanan, rasanya biasa saja. Tapi, ketika diulang berkali-kali dalam sebulan, pengeluaran bensin yang tadinya cukup untuk jajan sebulan, sekarang ludes dalam sekejap. 

#2 Pusing parkir dan berburu uang receh

Belum selesai urusan bensin yang bikin elus dada, masalah kedua yang langsung mendegradasi mental pengendara mobil baru adalah perkara parkir

Semasa pakai Honda Revo, saya tak pernah berpikir seputar parkiran. Mau berhenti di depan warung kopi pinggir jalan, tinggal pluk matikan mesin, taruh helm, selesai. 

ADVERTISEMENT

Begitu bawa Suzuki Swift? Wah, situasinya berubah jadi ajang uji kesabaran batin.

Setiap kali mau mampir ke minimarket atau warung, saya langsung kepikiran “Ada tempat parkirnya nggak ya?” Mungkin karena saya masih pemula, jadi untuk parkir sering kepikiran.

Belum lagi urusan uang receh. Pengendara mobil diwajibkan sedia koin recehan karena sebagaimana yang kita tahu ada begitu banyak pak ogah yang kita temui di jalan.

#3 Biaya servis dan perawatan Suzuki Swift ternyata lumayan

Dulu waktu masih mengendarai Honda Revo, urusan servis berkala itu adalah perkara yang sangat manusiawi. Revo itu tipikal kendaraan yang nrimo ing pandum. Ia tidak banyak menuntut, dan nurut diajak hidup apa adanya.

Begitu berganti ke Suzuki Swift, bayangan servis murah meriah itu langsung buyar. Dunia perbengkelan mobil ternyata punya pasarnya sendiri. Ganti oli mesin saja sudah butuh beberapa liter, belum lagi filter oli, AC, busi, sampai urusan minyak rem dan spooring-balancing.  

Yah, sesuatu yang nyaman memang perlu perawatan lebih.

#4 Kenyamanan untuk istri meski harus bayar lebih

Btw, di balik segala keriwuhan seputar bensin, parkir, sampai biaya servis yang lumayan menguras tabungan, harus diakui ada satu hal positif yang tidak bisa dibeli dengan motor bebek, yakni kenyamanan istri tercinta.

Dulu waktu masih pakai Honda Revo, ada kalanya saya merasa gagal. Terlebih ketika  perjalanan Lamongan-Mojokerto cuaca sedang terik-teriknya atau tiba-tiba hujan deras badai Pantura menerjang, saya sangat merasa gagal. Betapa kasihan istri yang kelelahan, kepanasan, kehujanan.

Saya tidak bermaksud sombong. Saya hanya bersyukur sudah ada di fase ini. Memang sih, harga kenyamanan itu harus dibayar mahal. Tapi, ya sudahlah, setidaknya senyum istri di jok penumpang adalah subsidi silang yang sepadan untuk dompet suami yang makin menipis! 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada dan artikel menarik lainnya di  TERMINAL MOJOK.

 

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.