ADVERTISEMENT

Saya mundur dari bendahara karang taruna, sebab tiga tahun mengurus uang kas tak seharusnya mengorbankan kewarasan

Saya mundur dari bendahara karang taruna, sebab tiga tahun mengurus uang kas tak seharusnya mengorbankan kewarasan

Menjadi bendahara karang taruna selama tiga tahun mengajarkan saya banyak hal. Mulai dari mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghadapi anggota yang lupa membayar iuran, hingga memahami bahwa dalam organisasi, yang paling melelahkan terkadang bukan pekerjaannya, melainkan manusianya.

Awalnya, saya pikir menjadi bendahara hanya perkara menghitung uang masuk, mencatat uang keluar, menyimpan bukti transaksi, lalu membuat laporan pertanggungjawaban. Sederhana. Selama angka di saldo buku kas dan jumlah uangnya cocok, semuanya akan baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

Ternyata, saya terlalu polos.

Setelah tiga tahun menjabat jadi bendahara karang taruna, saya akhirnya memutuskan mengundurkan diri. Bukan karena ingin bermusuhan dengan siapa pun, saya hanya merasa sudah waktunya berhenti.

Setidaknya ada tiga alasan yang membuat saya mengambil keputusan tersebut.

Harus stok sabar dan rutin ngingetin kas

Dalam organisasi, bendahara memang bertanggung jawab terhadap keuangan. Itu sudah jelas. Namun, tanggung jawab bukan berarti seluruh urusan keuangan harus ditanggung sendirian.

Masalahnya, kalau lagi rapat bulanan karang taruna dan pastinya ada iuran. Ada yang rajin membayar, ada yang harus diingatkan berkali-kali, ada yang nunggak, dan ada pula yang mendadak kehilangan kemampuan membaca pesan ketika grup WhatsApp membahas pembayaran.

Saya tidak mempermasalahkan nominal uangnya. Yang melelahkan adalah ketika tanggung jawab dianggap sebagai urusan satu orang, yaitu bendahara yang diuji kesabarannya menghadapi orang-orang banyak alasan tak mau membayar uang kas.

Rapat selesai, tiba-tiba ada yang meminjam uang ke rumah

Bayangkan, rapat sudah selesai, semua orang sudah pulang, dan saya pikir malam itu akhirnya bisa beristirahat. Eh, kadang tiba-tiba ada yang datang dengan wajah penuh harapan, lalu berkata, “Boleh pinjam uang sebentar? Minggu depan aku balikin.”

Hei, sadarlah wahai anak muda. Saya ini bendahara karang taruna, bukan bank keliling yang menyediakan layanan pinjaman. Uang kas adalah uang organisasi, bukan uang pribadi yang bisa dipinjamkan sesuka hati. Saldo kas yang tercatat juga bukan berarti semuanya tersedia untuk memenuhi kebutuhan mendadak setiap anggota.

ADVERTISEMENT

Kalaupun saya memiliki uang pribadi, bukan berarti setiap orang boleh menganggapnya sebagai dana darurat.

Nombok uang pribadi demi kegiatan karang taruna

Inilah salah satu pengalaman yang paling membuat saya kapok sebagai mantan bendahara karang taruna.

Ada kalanya kebutuhan kegiatan lebih besar daripada anggaran yang tersedia. Acara sudah direncanakan, kebutuhan harus dipenuhi, sementara uang kas ternyata tidak mencukupi. Dalam situasi seperti itu, uang pribadi terkadang menjadi jalan keluar paling cepat.

Saya pernah beberapa kali nombok uang karena angka di saldo buku kas dan kenyataan saat dihitung jauh berbeda. Sudah dihitung berulang kali, nominalnya tetap tak ada perubahan. Awalnya saya pikir mungkin uangnya yang terselip entah di mana. Bukti transaksi dan struk belanja? Ada. Catatan pemasukan dan pengeluaran? Tertulis juga. Namun, entah bagaimana kok bisa selisihnya cukup jauh. Padahal, rasanya saya juga tidak pernah foya-foya menggunakan uang kas karang taruna untuk kepentingan pribadi.

Awalnya mungkin terasa seperti pengorbanan kecil demi kepentingan bersama. Tapi, kalau terus berulang, rasanya pengorbanan itu bisa dianggap menjadi kebiasaan yang wajar. Saya paham kok kalau kegiatan organisasi terkadang menghadapi kebutuhan tak terduga. Namun, seharusnya ada pembicaraan bersama mengenai sumber dana dan cara menyelesaikan kekurangan anggaran, bukan otomatis membebankannya kepada bendahara.

Saya bersedia mengelola uang organisasi, tetapi tidak pernah mendaftar menjadi sponsor tetap kegiatan karang taruna. Pengabdian memang tidak selalu bisa diukur dengan uang. Namun, bukan berarti setiap pengabdian harus dibayar menggunakan isi dompet sendiri.

Hikmah yang dapat saya ambil dari jadi bendahara karang taruna

Tiga tahun menjadi bendahara karang taruna telah memberikan saya banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Saya belajar mengelola keuangan, menghadapi berbagai karakter orang, hingga memahami bahwa tanggung jawab organisasi tidak selalu berjalan semudah yang dibayangkan. Namun, saya juga menyadari bahwa berorganisasi bukan berarti harus terus-menerus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang pribadi. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dan menyadari bahwa kehidupan di luar organisasi juga layak mendapatkan perhatian.

Mengundurkan diri bukan berarti saya membenci organisasi atau menyesali pengalaman selama tiga tahun terakhir. Saya hanya ingin memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang, sekaligus membuka ruang bagi orang lain untuk belajar dan bertanggung jawab. Untuk sekarang, saya sangat menikmati posisi sebagai anggota biasa, nggak perlu pusing mikirin catatan kas, pinjaman mendadak, atau uang pribadi yang kembali menjadi korban.

Toh, karang taruna nggak akan bubar cuma karena satu orang berhenti menjadi bendahara. Masih ada anggota lain yang bisa belajar, mengambil tanggung jawab, dan melanjutkan pekerjaan yang selama ini saya kerjakan.

Penulis: Annisa Agrifina N Rofi’ah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Memilih Cut-Off Karang Taruna di Desa karena Toksik: Usia Mereka Muda tapi Pola Pikir Tua, Menormalisasi Banyak Hal Toksik termasuk Pungli dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Annisa Agrifina N Rofiah

Mahasiswa D4 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surakarta. Kebetulan saya suka menulis dan olahraga bola voli.