Beberapa hari belakangan, saya mulai sering menggunakan layanan pengantaran makanan secara online lantaran waktu istirahat makan siang di sela-sela pekerjaan yang tidak banyak. Namun, saya cukup terkejut ketika melihat banyaknya merchant saat ini yang menggunakan AI sebagai ilustrasi makanan. Saya langsung blak-blakan saja, jujur hal tersebut malah bikin nggak nafsu makan.
Nggak bisa dimungkiri, penggunaan AI memang semakin sulit dihindari. Selain minim biaya, hampir semua orang sepertinya tak perlu pengetahuan tingkat lanjut untuk menggunakannya. Kita cukup memberikan prompt sesuai imajinasi dan ilustrasi gambar pun muncul seketika.
Akan tetapi, saya rasa pemilik restoran harus mulai bijak dalam menggunakan AI untuk mengilustrasikan makanan. Bisa saja gambar-gambar pada menu tersebut malah menipu kami sebagai pembeli.
Gambar AI tidak realistis dan dilebih-lebihkan
Kelebihan utama penggunaan AI dalam ilustrasi makanan adalah penggunanya bisa secara bebas. Kalian tinggal memberikan instruksi agar makanan terlihat lebih menarik entah memodifikasi packaging, menambah porsi, hingga menyisipkan kondimen lain yang sebenarnya tidak akan didapatkan pembeli.
Celakanya, ilustrasi AI semacam itu malah kurang realistis. Alih-alih menarik perhatian pembeli, ilustrasi semacam itu justru berlebihan dan nggak enak dipandang.
Saya sendiri menemukan satu merchant ayam geprek yang ilustrasi butiran nasinya sangat glowing, potongan ayam sangat besar, dan olesan sambalnya menyelimuti hampir semua bagian ayam.
Nggak perlu sampai membuktikan keakuratan ilustrasi dengan membeli produknya. Saya tahu persis gambar menu dibuat pakai AI tanpa menggunakan foto makanan asli. Saat saya mengecek review restoran di aplikasi, kecurigaan saya terjawab, ada yang berkomentar bahwa porsi makanan yang datang tidak sesuai pada gambar. Kalau sudah begitu, apa bukan menipu namanya?
Pemilik restoran harus lebih aware dengan akad jual beli yang adil. Jangan sampai pembeli dikecewakan dan merasa tertipu karena makanan yang datang mempunyai tampilan jauh berbeda dengan yang terlihat pada menu.
Bagi beberapa orang yang kurang bisa membedakan gambar AI mungkin tertarik membeli, tapi kalau akhirnya kecewa dan nggak repeat order kan malah restoran yang rugi?
Gambar di menu sebaiknya asli
Beberapa orang mungkin kontra dengan penggunaan generative AI. Tidak sedikit pula yang menolak segala jenis gambar hasil buatan AI tak terkecuali. Namun, saya pribadi menyadari bahwa restoran juga ingin menekan pengeluaran. Itu mengapa, penggunaannya yang seharusnya dibatasi.
Sebagai contoh, ilustrasi gambar ayam geprek tadi seharusnya tetap menggunakan foto hasil produksi restorannya yang riil dan tidak ditambah-tambah porsinya. Kemudian, jika ingin menambah ilustrasi seperti efek api untuk memperlihatkan kesan pedas, barulah AI bisa digunakan.
Pemilik restoran nggak perlu takut ilustrasi kurang menarik. Nggak jarang saya malah beli makanan dari merchant yang menggunakan foto produk dari hasil jepretan HP untuk ilustrasi menu mereka.
Makanan Indonesia yang familiar seperti bakso, gado-gado, hingga sate sudah menggugah selera dari sananya. Penggunaan generative AI membuat makanan jadi nggak menggugah selera karena terlalu rapi. Mesin masih belum bisa mereplikasi butiran-butiran kacang pada bumbu gado-gado atau pantulan lemak pada kaldu kuah bakso.
Masalahnya, banyak restoran yang asal membuat gambar dari nol tanpa mau sedikit pun mau repot. Padahal gambar buatan AI itu sangat terlihat corak dan font-nya. Orang-orang yang pahan pun akan malas.
Akhirnya, semua kembali lagi ke integritas restoran. Walaupun bagi saya desain AI bikin sakit mata, penggunan AI juga sulit dihentikan 100%. Tentu saya ingin semua desain kembali dengan sentuhan manusia, namun pada konteks tertentu penggunaan AI yang ditekan seminimal mungkin masih bisa dimaafkan.
Pemilik restoran seharusnya juga nggak pelit-pelit amat lah investasi untuk bikin desain yang mumpuni. Kalau pun masih UMKM, jangan mau menyerahkan semua pekerjaan ke AI. Yuk, modal dikit aja buat bikin foto produk yang riil, pakai HP iPhone pinjam teman pun nggak masalah.
Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Harga Menu Makanan Berbahasa Inggris yang Selalu Lebih Mahal di Tiap Restoran dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.