ADVERTISEMENT

Saya apoteker, bukan peramal tablet kuning bulat yang Anda bawa ke apotek

Saya apoteker, bukan peramal tablet kuning bulat yang Anda bawa ke apotek

Setelah kerja di apotek sebagai apoteker, saya tau ada satu skill yang tidak pernah diajarkan di kuliah farmasi 4 tahun plus profesi 1 tahun yaitu skill meramal.

Suatu siang, seorang bapak datang membawa plastik klip bening berisi dua butir tablet tanpa tulisan. “Mbak, kemarin beli di sini kok, obatnya ini. Masa Mbak nggak tau?” Saya lihat tabletnya. Putih, bulat, polos. Di apotek, ada sekitar 50 jenis obat yang putih, bulat, dan polos. Kalau saya tebak benar, saya selamat. Kalau salah, Bapak yang masuk IGD.

ADVERTISEMENT

Belum sempat saya selesai menerawang plastik pertama, datang lagi ibu-ibu. “Mbak, mau obat pusing yang kuning bulat kemarin itu loh. Yang manjur.” Saya diam. Obat kuning bulat di rak apotek saya ada 47. Ada yang paracetamol, ada yang vitamin, ada yang buat alergi. Semuanya kuning, semuanya bulat, semuanya mengaku manjur. Saya mau tanya balik, “Kuningnya sekuning apa, Bu? Sekuning kunyit atau sekuning spanduk partai?” Tapi saya tahan.

Beberapa jam kemudian, datang lagi. Kali ini bapak-bapak paruh baya, menyodorkan sobekan kemasan warna merah tanpa nama. “Mbak, mau beli obat batuk ini ya. Kemarin beli di sini, ibu saya cocok.”

Saya lihat sobekannya. Merah. Di apotek, yang merah ada 25. Ada yang untuk batuk kering, batuk berdahak, batuk alergi, bahkan ada yang merah tapi isinya obat jantung.

Di titik itu saya cuma bisa mikir: apa saya harus bongkar semua rak yang merah dan suruh Bapak pilih sendiri kayak lagi milih cat tembok di toko bangunan? Masalahnya shift jaga apotek itu gantian. Kemarin yang jaga belum tentu saya. Jadi bagaimana saya bisa ingat Bapak beli yang mana.

Saya pekerja apotek, bukan peramal

Keesokan harinya, ada bapak-bapak datang ke apotek membawa sebuah tablet tanpa kemasan. Dia berkata ” teh mau beli tablet ini yah namanya X”. Saya tanya dosis yang berapa mg, sudah biasa pakai atau seperti apa. Pertanyaan ini penting, karena menyangkut kesembuhan, juga keselamatan.

Si bapak, dengan santai menjawab, yang kaya tablet ini teh, saya nggak tau dosis berapa lupa, tapi pasti tetehnya tau, kan sering liat di apotek. Di situ saya merasa menjadi orang yang serba tau di mata orang lain. Tapi saya juga merasa sedih karena saya bukan spektrofotometri yang bisa ukur kadar zat di dalam obat hanya dengan melihat.

Dari semua itu saya paham ibu, bapak, mungkin buru-buru. Mungkin juga lupa kemasan tidak terbawa. Cuma masalahnya, obat tidak seperti permen yang bisa asal diberikan dan dibeli sembarang. Akibatnya bisa fatal, nyawa jadi taruhan, pun kelangsungan hidup saya.

Saya memang tau obat, tapi tidak semua nama dan jenisnya saya hafal. Kalau saya hafal semua obat dari warna dan bentuknya, saya nggak akan diam di apotek. Saya sudah jadi ensiklopedia obat nasional berjalan dan diundang ke TV. Masalahnya saya apoteker, tugas saya memberi obat yang tepat dan aman, bukan main tebak-tebakan berhadiah. Karena kalau salah tebak, taruhannya bukan kuis, tapi keselamatan Bapak Ibu.

ADVERTISEMENT

Jadi, sebelum kalian datang ke apotek, mohon banget, ingat-ingat obat apa yang mau kalian beli. Kalau perlu, fotoin bungkusnya sebelum dikonsumsi. Jadi ketika dateng ke apotek, udah tau mana yang mau dibeli.

Sebab, saya apoteker, bukan peramal, apalagi baca pikiran kalian.

Penulis: Rahma Agustina
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menimbang Urgensi Apotek Kopdes, Saat Koperasi Desa Merambah Sektor Kesehatan dan Obat-obatan dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Rahma Agustina

Ibu dan apoteker yang hobi menulis. Suka menyampaikan edukasi kesehatan dan keresahan selama menjadi apoteker.