ADVERTISEMENT

Susah-susah kuliah, ternyata orang tua lebih bangga saat saya masih kerja di pabrik dan punya duit

Susah-susah kuliah, ternyata orang tua lebih bangga saat saya masih kerja di pabrik dan punya duit Mojok.co

Di lingkungan saya, kebanyakan orang mengincar kerja pabrik besar setelah lulus SMA maupun SMK, tidak kuliah. Begitu pula saya. Sejak lulus SMA, saya sudah menghadapi banyak lika-liku dunia kerja dan drama kantor.

Setelah kerja beberapa saat dan memutuskan untuk kuliah, jujur saja saya merasa kerdil. Saya merasa berbeda dengan lingkungan saya. Akan tetapi, semua itu tidak sia-sia. 

ADVERTISEMENT

Saya menyadari banyak hal setelah kuliah. Saya tertinggal dari sisi pengetahuan cara memandang dunia. Saat kerja saya cenderung mengikuti arus: kerja-lembur-pulang-tipes-kena mental-gajian. Lalu kembali masuk, harus tepat waktu.

Setelah kuliah? Saya diperlihatkan bahwa dunia tidak sesimpel itu. Orang-orang yang saya jumpai di kelas, dengan latar belakang beragam, memberi wejangan besar lewat tujuan hidup mereka. Suatu misi peradaban yang menekuni salah satu kodrat manusia, yaitu belajar.

Saya ikut kelas karyawan. Jadi isi kelasnya tentu karyawan juga. Ada yang sudah jadi bos besar PT, tapi tetap mau menjemput pengetahuan baru hingga kepala sekolah yang menyempatkan diri menimba ilmu lagi. Ada pula yang loncat dari profesi asalnya dengan alasan, “Yang ini berguna buat keluarga gua, Bro.”

Saya turut bangga setiap ada diskusi di kelas. Rasanya saya seperti mendapat banyak pompa paradigma, rezeki yang belum tentu didapat orang di luar sana karena tidak kuliah.

Saya bangga sudah bisa kuliah, tapi ternyata tidak dengan keluarga saya. 

Bagi orang tua, kedudukan uang lebih terpandang daripada status kuliah

Status sosial adalah cara nomor satu manusia dianggap “sudah jadi”, alias berhasil jadi manusia. Dan, itu didapat ketika seseorang sudah terikat oleh tempat: instansi, kantor, pabrik. Di sini, peran uang jauh lebih prestisius, apalagi saat acara keluarga. Pembicaraannya melekat, bahkan sudah jadi tradisi yang paling dihindari, terutama oleh Gen Z.

Kalimat pembukanya selalu begitu: “Anakku kerja di Epson lho, setiap bulan kita makan di Gacoan.” Atau, “Anakku rutin transfer tiap bulan buat modal bangun candi.” Dan masih banyak lagi.

Saya dengan bangga menginformasikan bahwa sekarang saya kuliah di Fakultas Hukum. Tapi, sesampainya di rumah, saya malah ditawari masuk pabrik biskuit, gaji dua minggu sudah bisa ambil PCX. 

ADVERTISEMENT

Sudah sarjana pun sulit mendapat kerja yang sesuai 

Saya paham, rasa bangga ketika anak punya pekerjaan itu bukan tanpa alasan. Terlebih di tengah sempitnya lapangan kerja sekarang ini. Mereka yang sudah sarjana pun sampai terpaksa menjalani profesi yang tidak sesuai dengan bidangnya. 

Asal tahu saja, per Mei 2026, BPS mencatat sekitar satu juta lulusan D4 sampai S3 masih menganggur, dan porsinya di antara seluruh penganggur naik dari 12,37% menjadi 14,31% sejak November 2025. Soal salah jalur, Data Mandiri Institute menaksir sekitar separuh pekerja kita bekerja tidak sesuai jurusan.

Kuliah pun jadi kena stigma. “Buat apa kuliah kalau ujungnya tidak dapat kerja sesuai keinginan?” begitu kurang lebihnya. Padahal, kuliah bukan semata-mata soal karier. Menurut saya sifatnya holistik, mulai dari pembentukan nalar, kematangan berpikir, sampai cara manusia memahami kehidupan. Mirisnya, sampai saat ini tujuan kuliah hanya dipandang sependek untuk dapat uang. 

Alwijo, seorang konten kreator yang sedang menyebar beasiswa di daerah NTT, membagikan pengalamannya lewat konten ketika mengunjungi salah satu SMA di Manggarai Barat. Ia bertanya siapa yang mau kuliah sehabis lulus. Hanya 4 orang yang menunjuk tangan, sisanya memilih langsung kerja. Alasan utamanya tentu biaya. Kata Alwi, uang dan energi mereka sudah habis memikirkan, “Besok makan apa?” Pendidikan bukan semata persoalan cita-cita, melainkan distribusi kesempatan. 

Mereka yang kuliah berarti punya kesempatan, punya privilese biaya, waktu, dan energi untuk mencari ilmu dan punya sudut pandang baru. Dan, semua ini saya sadari setelah kuliah yang mana keluarga dan lingkungan sekitar tidak pernah mendapatkannya. 

Penulis: Vanessa Elaena
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kuliah di kampus swasta bukan akhir dunia, dan PTN bukan segalanya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2026 oleh .

Vanessa Elaena

Kontributor aktif media opini dan satir.