ADVERTISEMENT

Tiga tahun jadi pengurus Pramuka, saya jadi sadar ekskul ini perlu dibenahi total kalau nggak mau tertinggal

Tiga tahun jadi pengurus Pramuka, saya jadi sadar ekskul ini perlu dibenahi total kalau nggak mau tertinggal

Jujur aja, motivasi saya berangkat Pramuka dulu kurang lebih sama dengan sebagian orang, kemakan omongan senior yang bilang “kalau nggak ikut, nggak bakal naik kelas”. Sialnya, meski tahu itu cuma omon-omon, saya malah terjerumus ikut sampai jadi pengurus Ambalan di SMA. Jadilah hampir tiga tahun melihat sendiri isi dapur organisasi yang rasanya, setidaknya di sekolah saya, hidup segan mati tak mau.

Dan jangan salah, keterusan ikut di sini sama sekali bukan karena Pramuka tempat yang menyenangkan. Malah, dari sini saya bisa melihat bahwa kalau ada yang salah dengan kegiatan ini, maka letaknya itu bukan pada organisasinya per se, tapi pada cara pengurus dan anggota menjalankannya.

ADVERTISEMENT

Pertama, Pramuka, stop jadi organisasi yang insecure

Memang ini nggak terjadi di semua sekolah. Tapi di banyak sekolah, termasuk sekolah saya, branding Pramuka itu keras; senioritas, polanya agak-agak komando kayak militer, dan hukuman bagi yang nggak nurut. Kalau acara pelantikan, kami dibangunkan pukul dua pagi hanya untuk disuruh memutari lapangan sambil diteriaki kakak kelas dari ujung ke ujung. Setelah jadi kakak kelas pun kami mengulangi pola yang sama.

Yang muda selalu jadi sasaran eval. Bahkan nggak usah jauh-jauh acara tertentu, kegiatan rutinnya saja kental dengan kakak kelas yang marah-marah tanpa alasan jelas. Menjadi yang termuda adalah posisi serbasalah di sini.

Sejak awal saya bingung dengan pola pikir ini. Kita melakukan sesuatu yang nggak menyenangkan, dengan cara yang nggak bikin orang senang, tapi berharap orang secara sukarela mendaftarkan diri. Kalau diibaratkan manusia, dia adalah manusia yang insecure dengan kebiasaannya sendiri. Dan bukannya berusaha berubah, manusia ini malah menipu diri sendiri bahwa begitulah cara yang benar.

Kalau nggak bisa ubah materinya, minimal ubah cara mengemasnya

Tiap jumat sore, kegiatan kami kurang lebih sama. Apel, baris-berbaris, setelah itu dilanjut materi di dalam kelas masing-masing. Belajar sandi semaphore atau sejarah Pramuka Indonesia yang bahan materinya nggak pernah diganti bertahun-tahun.

Setelah materi yang nggak seberapa itu selesai ditulis dan dihafal, ada waktu tersisa yang biasanya diisi permainan sederhana. Begitu terus sampai jam menunjukkan pukul empat. Sekilas kelihatan nggak ada yang salah. Tapi bisa dibayangkan betapa bosan dan sedikit sekali manfaat yang diperoleh setelah effort panas-panasan dan dimarahi kakak kelas tadi.

Saya paham kalau Pramuka mau tak mau isinya itu-itu lagi. Ya semaphore, tali-temali, bertahan di alam liar. Tapi poinnya adalah, kalau nggak mungkin mengubah isi pelajarannya, paling tidak punya kemauan untuk menjadikannya lebih seru dan bermanfaat. Sebab nantinya bukan cuma peserta yang dapat untung, anggota Pramuka pun jadi lebih belajar bagaimana caranya manajemen kelas yang baik.

Kegiatan yang menarik malah jarang dilakukan dan nggak ditonjolkan

Yang saya bayangkan waktu pertama kali memutuskan gabung adalah lomba antar-ambalan, kegiatan bareng Pramuka sekolah lain, galang dana, bakti sosial, dan kemah. Sayangnya itu semua jarang bahkan nggak pernah dilakukan.

Jatah waktunya habis untuk proker internal yang itu-itu saja, yang ujungnya cuma ditonton kami sendiri. Padahal kalau mau mencoba ganti atau paling tidak menggabungkannya dengan kegiatan di atas, kesempatannya terbuka lebar.

ADVERTISEMENT

Sementara ekskul lain memamerkan konten dan proyek hasil kerja berbulan-bulan, kami susah punya sesuatu untuk dipamerkan. Bukan karena tidak mampu, tapi karena kegiatan yang seru tidak pernah dijadikan menu utama. Alhasil, orang di luar Ambalan nggak pernah tahu sisi terbaik Pramuka, dan yang rugi ya kami sendiri.

Tiga tahun jadi pengurus, saya nggak lagi percaya Pramuka bermasalah karena zaman sudah berubah. Masalahnya ada pada kita yang bertahan dengan cara lama sambil berharap hasilnya baru. Kalau Pramuka mau berhenti jadi ekskul yang diikuti karena takut nggak naik kelas, pembenahannya harus dimulai dari dalam; kakak kelas berhenti teriak-teriak, materi dikemas lebih masuk akal, dan kegiatan seru dikeluarkan dari bayang-bayang proker rutin.

Saya sendiri masih senang dengan Ambalan saya dan pertemanan yang dibawanya. Justru karena itu, saya berharap adik-adik kelas merasakan yang lebih baik, sesimpel karena mereka pantas mendapatkannya.

Penulis: Hilmi Iskandar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2026 oleh .

Hilmi Iskandar

Mahasiswa di Jogja yang sedang overthinking bagaimana agar cerpennya bisa nongol di Harian Kompas.