Tidak lengkap rasanya berkunjung ke suatu daerah tanpa mencicipi kulinernya. Itulah yang saya pikirkan ketika berkunjung ke Wonosobo pada Juni 2025 lalu. Berdasar rekomendasi teman saya yang warga asli sana, saya akhirnya mencicipi mie ongklok untuk pertama kali.
Hidangan satu ini sangat cocok dengan hawa Wonosobo yang dingin. Kuah hangatnya bisa menghangatkan badan. Bagi yang belum tahu, mie ongklok adalah mie kuning basah khas Wonosobo. Makanan ini biasanya disajikan dengan irisan kol, daun bawang, dan disiram dengan kuah kental berkanji. Nama “ongklok” sendiri diambil dari sebutan alat bambu kecil tempat mengaduk mie saat direbus.
Akhirnya saya mampir ke salah satu warung di dekat Alun-alun Wonosobo. Warungnya berkonsep ruko sederhana semi terbuka dengan meja kayu panjang.
Di tengah hawa dingin kuliner ini begitu menggiurkan. Terlebih harganya sangat terjangkau, seporsi mie ongklok seharga Rp15.000. Apabila disajikan lengkap dengan sate sapi, harganya mencapai Rp20.000. Selain itu ada makanan pendamping berupa tempe kemul seharga Rp2.000 per biji. Ramah di kantong bukan?
Mie ongklok Wonosobo di lidah orang Klaten
Jujur ekspektasi saya pada mie ongklok Wonosobo sudah setinggi langit. Ya siapa sih yang tidak tergiur dengan makanan hangat di tengah udara dingin. Namun, ekspektasi tinggi itu langsung luntur setelah suapan pertama.
Di lidah saya, kuah makanan ini bikin kaget. Teksturnya yang kental seperti menempel di lidah. Selain itu, kuahnya ternyata didominasi oleh rasa manis dan gurih yang kuat.
Orang Klaten seperti saya nggak terbiasa dengan tekstur dan rasa ini. Dari kecil, lidah saya terbiasa dengan kuah yang bening, encer, dan segar. Begitulah tekstur dan rasa kuah pada soto, mie ayam, sup di Klaten.
Saya mencoba menyiasatinya dengan menambahkan sate sapi, tempe kemul, hingga sambal ke dalam mangkuk. Namun, upaya ini sia-sia. Lidah Klaten saya masih belum terima ada hidangan dengan kuah kental.
Hidangan favorit warlok
Di tengah dilema menyesuaikan diri dengan mie ongklok Wonosobo, teman saya makan dengan lahap. Dia orang Wonosobo dan makanan satu memang salah satu favoritnya. Bagi dia kombinasi mie, kuah kental, dan sate sapi ini adalah perpaduan rasa yang terbaik.
Teman saya cerita, saat menyantap mie ongklok dia tidak hanya menikmati rasa dan teksturnya. Di semangkuk mie itu ada kenangan akan kampung halamannya. Saya percaya saja. Sebab, semua itu memang tampak jelas dari ekspresi wajahnya.
Melihat dia makan dengan begitu lahap, saya hanya bisa tersenyum sambil mengaduk-aduk mangkuk. Rasanya lucu sekali, satu makanan yang sama tetapi menghasilkan reaksi yang saling bertolak belakang. Buat dia seperti surga kuliner, sementara buat saya rasanya masih membingungkan.
Bukannya tak enak, hanya beda selera saja
Dari pengalaman pertama makan mie ongklok di Alun-alun Wonosobo, saya menyadari satu hal, urusan selera makan setiap orang berbeda-beda. Orang Klaten sudah nyaman dengan kuah bening segar. Sementara orang Wonosobo lebih menyukai kehangatan kuah kental khas daerah mereka sendiri.
Jadi, mie ongklok ini sebenarnya bukan makanan yang tidak enak ya. Buktinya warung seperti Mie Ongklok Longkrang di dekat Alun-alun Wonosobo buka dari jam 09.00 hingga 20.00 WIB. Warung tersebut selalu tampak ramai dan dipadati pembeli pada jam-jam makan siang hingga menjelang malam. Mie ongklok juga memiliki banyak penggemar setia dari berbagai daerah saat berkunjung ke Wonosobo.
Hal ini murni masalah kecocokan lidah saja, seperti teman saya sesama warga Klaten yang pernah mencoba mie ongklok rata-rata merasakan hal serupa. Mereka kaget dengan kuah kental berkanji yang memiliki cita rasa manis pekat. Begitu pula sebaliknya, ketika teman saya yang asli Wonosobo diajak mencicipi Soto Kering khas Klaten. Ia merasa aneh karena soto yang disajikan tanpa kuah dan terlalu kering bagi lidahnya.
Perbandingan ini semakin mempertegas bahwa perbedaan selera kuliner itu nyata dan wajar. Jadi, kalau lain waktu main ke Wonosobo lagi, saya sepertinya akan tetap mampir ke warung mie ongklok. Bukan untuk makan mie nya, melainkan untuk memesan ulang sate sapi dan tempe kemulnya.
Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.