ADVERTISEMENT

Universitas Terbuka sang tulang punggung Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia

Universitas Terbuka sang tulang punggung Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia Mojok.co

Jika ada satu pepatah yang tepat untuk menggambarkan Universitas Terbuka (UT), maka pepatah itu adalah ibarat air tenang menghanyutkan. Yang berarti di balik penampilannya yang tampak biasa saja dan kerap luput dari perhatian, tersimpan kekuatan besar.

Bagaimana tidak? Kalian tahu angka partisipasi kuliah nasional? Itu loh angka yang menunjukkan indikator resmi yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur persentase penduduk yang sedang mengenyam pendidikan tinggi. Data ini dihimpun secara nasional melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

ADVERTISEMENT

Nah, untuk angka partisipasi kuliah nasional di Indonesia, ada di angka 32,89% pada 2025. Angka ini naik tipis dari 2024 yang sebesar 32%.

Lantas, apa hubungannya dengan UT? Jangan kaget ya, Bolo. Di angka 32,89% itu, UT  jadi perguruan tinggi yang menyumbang angka partisipasi paling tinggi. Bukan UGM, bukan pula UI. Tapi, UT.

Penyumbang angka partisipasi tertinggi

Mari kita cek faktanya.

Berdasarkan data resmi Kemendiktisaintek melalui PDDikti, tercatat ada lebih dari 800.000 mahasiswa aktif di Universitas Terbuka. Angka ini jelas luar biasa masif jika dibandingkan dengan kampus-kampus elite konvensional yang namanya sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Sebagai pembanding, Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki sekitar 56.000 hingga 57.000 mahasiswa aktif, Universitas Indonesia (UI) di kisaran 52.000 mahasiswa, serta Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga berkutat di angka puluhan ribu.

Walah… kalau dibandingkan UT ya jelas jauhnya itu jauh banget. Dari ratusan ribu ke puluhan ribu itu bak langit dan bumi.

Barangkali ada yang nyeletuk, “Alah, angka doang, nggak ada artinya apa-apa,” mending diem. Jangan keburu julid dulu.

Bukan sekadar angka biasa

Angka 800.000  lebih mahasiswa aktif yang terdaftar di Universitas Terbuka itu bukan sekadar deretan angka yang bisa dipamerkan di brosur penerimaan mahasiswa baru. Tapi, angka itu justru menjadi pertanda bahwa UT membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun yang ingin mengenyam pendidikan tinggi, tanpa melihat latar belakang.

ADVERTISEMENT

Akui saja. Saat ini, banyak orang yang berpikir dua kali untuk mendaftar kuliah. Faktor penghambatnya banyak. Mulai dari biaya, jarak, sistem kuliah yang tidak bersahabat dengan kaum pekerja, hingga kepentok batasan usia maksimal. Tapi, lihat apa yang dilakukan UT. Dia berhasil menepis semua persoalan tersebut lewat sistem yang UT usung.

Saat Universitas lain menyodorkan biaya UKT mencekik, UT membuka diri dengan UKT yang paling hanya ratusan ribu sebulan. Jarak juga tak jadi penghalang karena sistem perkuliahan dilakukan secara jarak jauh berbasis teknologi informasi. Cocok sekali dengan kaum pekerja yang waktunya harus terbagi dengan urusan mencari nafkah.

Dan, soal batasan usia maksimal? Hal-hal begituan tidak ada di UT. Mau berapapun usia calon mahasiswa selama yang bersangkutan lulusan SMU dan sederajat, semua boleh mendaftar di UT. Seolah, UT ini paham betul bahwa pendidikan adalah hal dasar yang tidak boleh diganggu gugat oleh apapun.

Makanya, kalau ada yang masih meremehkan angka-angka fantastis itu… Ah, sempit kali lah pikirannya.

Universitas Terbuka membuka pintu kesempatan lain

Dan kalian tahu? Tingginya tingkat partisipasi UT dalam kancah angka kuliah nasional juga membuat banyak orang menemukan lebih banyak kesempatan. Bukan hanya kesempatan untuk upgrade ilmu, tapi juga kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

Banyak alumni UT yang karirnya naik setelah wisuda. Banyak pula yang dapat peluang kerja lebih baik setelah mengantongi ijazah sarjana. Jangan lupakan juga, sejarah pernah mencatat UT sebagai universitas yang paling banyak meloloskan alumninya pada pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa tahun lalu.

Pencapaian ini jelas jadi tamparan nyata, terutama bagi mereka yang sempat skeptis bahwa kuliah jarak jauh itu diselenggarakan dengan ala kadarnya.

Wah, kalau memang ala kadarnya, mana mungkin UT mendapat berbagai macam penghargaan? Penghargaan dari dalam dan luar negeri pula!

Yang kayak gitu kok orang nggak pada mikir, ya? Heran.

Pada akhirnya, mari kita akui sama-sama bahwa tanpa UT, angka partisipasi pendidikan tinggi nasional bisa auto jeblok. Karena sejatinya UT bukan pelengkap sistem pendidikan tinggi, tapi UT adalah tulang punggungnya.

Menyala UT!

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Habis career break hidup harus tetap berjalan, putusan ini yang ubah jalan hidupku ke depan dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2026 oleh .

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.