ADVERTISEMENT

Cimenyan Bandung kecamatan yang kasihan, potensinya mati karena warganya sendiri

Cimenyan Bandung kecamatan yang kasihan, potensinya mati karena warganya sendiri Terminal

Sebagai warga Bandung, kadang saya heran melihat Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Kecamatan ini punya banyak sekali hal yang bikin bangga, tapi justru sering luput dari perhatian. Orang lebih mudah mengingat Cimenyan sebagai kawasan perumahan yang terus menjamur atau daerah pinggiran Kota Bandung. 

Padahal, Cimenyan punya banyak keunggulan. Sayangnya, semua potensi itu seolah terkubur. Bukan karena Cimenyan nggak menarik, tapi kurangnya perhatian dan kesadaran untuk mengangkat dan mempromosikannya.

ADVERTISEMENT

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak untuk melihat kembali tiga keunggulan Cimenyan yang selama ini kurang mendapat sorotan. Sebab, sayang rasanya kalau sebuah kecamatan dengan potensi sebesar ini hanya dikenal sebagai daerah pinggiran kota saja, bahkan oleh warganya sendiri.

#1 Cimenyan penghasil komoditas bawang merah

Siapa sangka, di balik statusnya yang sering dianggap “pinggiran Kota Bandung”, Cimenyan adalah pemain besar dalam urusan dapur nasional. Tanah di sini nggak cuma subur buat nanam beton perumahan, tapi juga berkah buat bawang merah.

Konon, menurut penuturan petani lokal, tradisi menanam bawang di sini sudah ada sejak zaman Bung Karno presiden Republik Indonesia yang pertama.

Hasilnya? Jangan ditanya. Bawang merah Cimenyan bukan cuma menghiasi pasar-pasar di Bandung Raya, tapi juga jadi penolong stok nasional saat bulan Ramadhan/lebaran tiba. Jadi, kalau kalian bisa makan sambal matah atau gorengan pakai bawang enak, berterima kasihlah sedikit pada keringat petani Cimenyan, Kabupaten Bandung.

#2 Tempat wisata yang sering diklaim milik Kota Bandung

Ini dia hal yang paling sering bikin saya gemas sekaligus bangga. Banyak tempat wisata ikonik di tempat ini yang sering disangka orang berada di Kota Bandung. Padahal, alamat aslinya di Kabupaten Bandung, tepatnya di Cimenyan.

Sebut saja Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Banyak wisatawan lokal maupun luar kota yang check-in lokasi di Kota Bandung, padahal secara legalitas, Tahura itu ada di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan.

Di sana ada segalanya: mulai dari penangkaran rusa sampai Curug Omas. Lalu ada Tebing Keraton yang dulu sempat merajai feed Instagram, Bukit Bintang yang menawarkan city light romantis di ketinggian 1442 MDPL, hingga Curug Batu Templek yang punya aura estetik bekas tambang.

Kecamatan Cimenyan ini paket lengkap, kalau mau romantis ada, mau yang bersejarah juga tersedia. Kita bebas tinggal pilih yang mana.

ADVERTISEMENT

#3 Ada gua Belanda dan gua Jepang

Bukan cuma punya pemandangan indah, Cimenyan Bandung juga punya memori kolektif bangsa melalui gua Belanda dan gua Jepang di kawasan Tahura.

Gua Belanda yang dibangun 1912 terlihat lebih kokoh dengan tembok semennya karena memang dulu difungsikan untuk PLTA dan stasiun radio. Sementara itu, gua Jepang yang dibangun 1942 lewat keringat dan darah para romusha, dibiarkan apa adanya gelap, pengap, dan penuh aura masa lalu yang kuat.

Dua gua ini adalah bukti bahwa Kecamatan Cimenyan bukan sekadar wilayah penyangga, melainkan titik strategis militer pada zamannya. Sebuah kebanggaan sejarah yang nggak semua kecamatan di Kabupaten Bandung punya.

Itulah 3 Hal yang bisa diunggulkan Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Kecamatan di utara Kabupaten Bandung ini bukan daerah yang miskin potensi, melainkan wilayah yang belum sepenuhnya mampu menunjukkan keunggulannya. 

Komoditas bawang merah, tempat wisata, hingga situs bersejarah seharusnya menjadi alasan bagi warga untuk lebih bangga terhadap daerahnya sendiri. Jangan sampai terlalu sibuk mengeluhkan Cimenyan yang makin dipenuhi cluster perumahan, sampai lupa bahwa ada banyak hal membanggakan yang perlahan tenggelam di baliknya.

Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Membandingkan pengalaman naik ojol di Jakarta, Jogja, dan Mojokerto: Jakarta beringas, Jogja kelewat santai dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.</b>

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2026 oleh .

Acep Saepulloh

Aa-aa milenial Bandung yang ngojol membelah kemacetan di pagi hari, berjibaku dengan debu sebagai petugas kebersihan di siang hari, hingga akhirnya melabuhkan lamunan menjadi sebuah tulisan di malam hari.