izinkan saya tetap iri kepada Jalan Kaliurang dan Jalan Palagan. Iri melihat bagaimana keduanya bisa tumbuh sejauh ini. Sebab, saya juga ingin Jalan Wonosari mendapatkan kesempatan itu
Sudah 4 tahun saya tinggal di sekitar Jalan Wonosari, tepatnya di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Namun setiap kali mengucapkan Berbah dan Jalan Wonosari logika teman-teman saya yang tinggal di kota akan langsung merujuk pada sebuah jalan panjang yang terisolir, jauh dari kota, dan tidak ada peradaban.
Asumsi itu tentu tidak bisa saya salahkan. Pasalnya, Wilayah ini memang bisa dibilang cukup tertinggal. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota. Namun, meski begitu, apakah valid jika Berbah terutama sekitar Jalan Wonosari dikonotasikan sebagai sebuah kecamatan yang terpelosok? Tentu saya sangat tidak setuju.
Saya akan berpendapat jika Berbah dan Jalan Wonosari adalah sebuah wilayah di Jogja yang sangat strategis dan potensial. Dari segi akses, Jalan Wonosari mudah sekali dijangkau dari mana saja dan dengan kendaraan apa saja. Jalan ini menghubungkan antara kota Yogyakarta dan Wonosari, Gunungkidul. Levelnya setara Jalan Solo dan Jalan Magelang.
Saya sangat mencintai daerah ini. Tapi, izinkan saya menaruh rasa iri dengan wilayah lain di Sleman yang tidak strategis, tapi pembangunannya sangat masif. Sebut saja Jalan Kaliurang dan Jalan Palagan.
Jalan Wonosari begitu tertinggal ketimbang Jakal dan Palagan
Di dua wilayah itu, terutama Palagan, pembangunannya kencang sekali. Mulai dari hotel, coffee shop kalcer, hingga pendidikan berkualitas, semuanya ada. Saya benar-benar nggak ngerti kenapa investor dan pemerintah lokal lebih memilih membangun di wilayah utara. Padahal dari segi akses dan kondisi lalu lintas, keduanya sangat tidak strategis. Jalan Palagan misalnya, jalan ini terletak di sebelah utara kota Jogja. Secara geografis, wilayah utara Jogja dibatasi langsung dengan Gunung Merapi. Gunung yang paling agresif dan bisa erupsi sewaktu-waktu. Jalan ini memanjang mulai dari Ringroad Utara sampai tembus ke Kecamatan Pakem, Sleman.
Dari segi infrastruktur, Jalan Palagan bisa dibilang cukup sempit. Bahkan untuk menampung 4 mobil berjejer pun saya yakin tidak mampu. Jalan ini selalu macet, terutama ketika jam berangkat dan pulang kerja. Di ujung paling utara, jalan ini tidak tembus dengan peradaban apapun. Hanya sebuah pertigaan kecil yang mempertemukan jalan Pakem dan Tempel.
Namun, perumahan mewah banyak dibangun di Palagan. Sekolah-sekolah berkualitas ada di Palagan, orang-orang kaya pada tinggal di Palagan. Akibatnya, para bos-bos itu juga memilih untuk membangun kantor mereka di dekat rumah mereka. Tidak seperti Jalan Wonosari, yang jelas.
Kondisinya hampir mirip dengan Jalan Kaliurang. Jalan ini sangat tidak strategis. Tidak bisa mempertemukan satu peradaban dengan peradaban yang lain. Kalau kita telusuri terus sampai ke utara, Jalan Kaliurang akan mentok di gunung Merapi. Apa artinya? Itu artinya Jalan Kaliurang adalah jalan buntu.
Bagaimana bisa, daerah di sebuah wilayah dengan jalan buntu bisa mengalami pembangunan yang jauh lebih masif ketimbang jalan besar yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain? Dalam hal ini, Jalan Wonosari benar-benar tidak ada harga dirinya di mata masyarakat Kota Jogja.
Imajinasi kaya ala Jogja
Kalau mau jujur, imajinasi untuk hidup kaya di Jogja akan selalu merujuk pada dua wilayah itu, yaitu Palagan dan Kaliurang. Di sini kita bisa menemukan perumahan mewah yang asri, udara yang sejuk, dan sekolah berkualitas yang dekat dengan rumah. Berbeda sekali dengan image Berbah dan Jalan Wonosari yang panas dan terkucilkan.
Padahal kalau kita telisik lebih jauh, Kita tidak hanya bisa memaknai jalan ini sebagai sebuah wilayah fisik yang potensial. Kalau kita mau membuka mata batin yang lebih luas, kita akan sadar kalau Jalan Wonosari bukanlah jalan sembarangan. Jalan ini tidak hanya menjadi penghubung yang nyaman antara Jogja dan Wonosari, tapi juga menjadi penyambung asa dan kehidupan masyarakat Gunungkidul yang sehari-hari menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk memperjuangkan hidupnya di Kota Jogja.
Setiap pagi dan sore hari, jalan ini menjadi bukti bahwa pembangunan wilayah DIY itu tidak bersahabat dengan warga yang tinggal di Wonosari dan Jalan Wonosari. Mereka tetap dipaksa untuk bermobilisasi di tengah kota, karena wilayah yang dekat dengan rumah mereka tidak diberi kesempatan untuk maju.
Jadi, kesimpulannya, izinkan saya tetap iri kepada Jalan Kaliurang dan Jalan Palagan. Iri melihat bagaimana keduanya bisa tumbuh sejauh ini, iri terhadap bagaimana orang-orang membicarakannya, dan iri perihal masa depan mereka yang seolah selalu punya tempat dalam imajinasi masyarakat Jogja. Sebab, saya juga ingin Jalan Wonosari mendapatkan kesempatan itu.
Kalau jalan buntu saja bisa menjadi simbol kemajuan, mengapa jalan yang setiap hari menjadi tumpuan perjalanan dan penghidupan masyarakat harus terus dianggap sebagai jalan menuju antah-berantah?
Penulis: Muhammad Farih Fanani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Rekomendasi Kuliner Jalan Wonosari, Cocok untuk Bawa Teman dan Keluarga dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok