ADVERTISEMENT

Orang Lamongan asli saja merantau, kok bisa ada orang luar daerah nyasar dan menetap di Lamongan?

3 keunggulan Lamongan yang terus terpendam karena warlok pesimis dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Sebagai warga asli yang sudah tiga puluh tahun membersamai debu Pantura Lamongan, saya sering kali termenung memikirkan hukum alam migrasi manusia di negeri ini. Iya, selama ini, narasi umum tentang perantauan di kepala kita selalu berjalan satu arah, yakni orang daerah merantau ke kota-kota besar demi mencari segenggam berlian dan masa depan. 

Pun kita semua juga sangat mafhum kalau banyak orang Lamongan berbondong-bondong keluar kota, entah jadi chef pecel lele legendaris di Jakarta, merantau ke Surabaya,atau kuliah jauh-jauh hingga ke Jogja.

ADVERTISEMENT

Namun, hukum alam itu mendadak fana ketika saya bertemu beberapa teman yang dengan kesadaran penuh (tanpa pengaruh alkohol), memutuskan untuk tinggal di Lamongan, padahal ia punya kesempatan untuk tinggal di luar Lamongan.

Maksud saya, kok bisa-bisanya ada orang luar daerah yang dengan sadar memutuskan merantau dan menetap di Lamongan? Orang Lamongan asli saja malah merantau lho. Yah, sebuah teka-teki yang sampai detik ini membuat saya gelelng-geleng.

Ketika Orang Jepara terdampar di pantura gara-gara cinta

Kejadian nyata ini menimpa kawan saya sendiri yang aslinya berasal dari Jepara. Entah mantra apa yang diberikan oleh semesta, ia tiba-tiba memutuskan untuk boyongan, meninggalkan tanah kelahirannya, dan menetap di Lamongan. 

Usut punya usut, ia menikah dengan perempuan asli Lamongan. Sebuah alasan yang akan selalu bisa diterima. Sebab, begitulah cinta bekerja, ia memang agak susah diterima akal dan logika.

Teman saya ini mau tidak mau ia harus mencatatkan diri sebagai penduduk baru kabupaten ini. Bahkan sebelum menikah, ia sudah membuat satu langkah taktis dengan mendaftar seleksi PPPK dengan penempatan Lamongan, berharap nasib baik berpihak padanya di tanah rantau yang baru. 

Dan memang begitulah takdir. Ia lolos PPPK. Menikah. Dan pindah secara resmi sebagai warga Lamongan. Tapi rupanya, pelarian dari Jepara ke Lamongan itu tidak semulus jalan tol. Di sinilah lembaran keluh kesah dimulai.

Suatu hari ia sambat kepada saya soal dinamika hidup di Lamongan yang ternyata jauh berbeda dari bayangannya. Sebagai orang luar daerah, ia harus beradaptasi dengan banyak hal, salah satu yang paling memuakkan adalah kondisi jalan.

Sebelumnya ia sudah sering saya ceritakan soal ini. Tapi mungkin definisi jalan rusak yang ada di kepalanya itu masih lebih bagus ketimbang jalan yang biasa ia lalui hari ini, setiap harinya.

ADVERTISEMENT

Dalam hati saya cuma bisa menepuk pundaknya sambil berkata, “Selamat datang di bumi bandeng lele, kawan. Di sinilah ujian kesabaranmu yang sesungguhnya dimulai.”

Ironi pemuda asli Lamongan: pulang kampung malah bingung sendiri

Saya punya kawan lain, asli anak Lamongan tulen, yang bertahun-tahun kuliah dan merantau di Jakarta. Setelah lulus dan kenyang asam-garam ibu kota, ia memutuskan pulang kembali ke Lamongan dengan niat merintis hidup di tanah kelahiran.

Alih-alih disambut dengan rasa haru biru, ia justru mendapati kebingungan. Ia merasa seperti turis asing di tanah sendiri. Kota asalnya terasa asing. Lamongan hari ini memang terasa gersang. Tak ada apa-apa untuk dicari. 

Lapangan pekerjaan susah. Anak asli Lamongan yang pulang kampung malah kebingungan mencari rezeki. Bahkan ruang-ruang publik untuk sekadar nongkrong santai selayaknya anak muda metropolitan tak pernah ia temui. Sebuah ironi yang sudah sering terjadi. Dunia memang gemar berseloroh dengan cara yang paling tidak masuk akal.

Garis takdir bernama pulang dan menetap

Pada akhirnya, perantauan bukan sekadar urusan garis lintang dan bujur peta geografis. Ia adalah soal kebetulan hidup yang kadang memaksa kita berlabuh di tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Kawan saya yang orang Jepara itu mungkin saat ini masih harus beradaptasi dengan terik panas Lamongan dan kepulan debu aspal yang gronjal-gronjal. Sementara kawan saya yang anak asli Bumi Bandeng Lele masih sibuk beradaptasi ulang dengan lambatnya detak jantung kabupaten kelahirannya.

Yah, di mana pun bumi Lamongan dipijak, di situ pula kita harus siap-siap untuk sambat.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Hal Soal Lamongan yang Jarang Dibahas Banyak Orang dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.