ADVERTISEMENT

Awal musim sesumbar tsunami trofi, sekarang Manchester United terpuruk dan saya menolak mengasihani fansnya

Manchester United layak terpuruk dan tak layak dikasihani (Unsplash)

Tim yang kata fansnya akan tsunami trofi (entah berapa musim sudah sejak seseorang mengucapkan kata-kata itu), Manchester United, kalah lagi. Kalau sebelumnya tim Serie A Como 1907 membantainya, semalam Bournemouth yang membantai Manchester United dengan skor 3-0 di Old Trafford.

Mereka kalah besar di kandang sendiri. Old Trafford yang dulunya angker, sekarang kok jadi playground-nya tim-tim papan tengah ya?

ADVERTISEMENT

Kekalahan Manchester United untuk kesekian kalinya ini makin tidak mengejutkan. Barangkali yang mengejutkan sekarang justru kalau mereka berhasil menang. Budaya mereka saat ini adalah kalah!

Saya jadi teringat dengan seorang teman yang adalah fans Manchester United garis keras. Musim lalu saat Michael Carrick berhasil mengangkat performa, dia begitu yakin bahwa MU akan segera mengalami tsunami trofi. Era kejayaan MU yang terjadi saat dia sendiri masih SD, akan terulang kembali.

Katanya, kalau saja sejak awal musim Carrick yang melatih, maka Manchester United yang jadi juara EPL musim 2025/2026. Satu optimisme yang begitu percaya diri melihat MU yang finis di posisi ketiga musim lalu.

Nah sekarang, keinginan kawan saya terwujud. Carrick benar-benar mendapatkan kesempatan melatih sejak awal musim. Dan hasilnya? Dari delapan pertandingan, MU baru mengumpulkan 7 poin dan sekarang ada di peringkat 16.

Alih-alih tsunami trofi, yang datang malah tsunami kekalahan. Mengenaskan!

Di tengah kondisi tersebut, saya justru menemukan sebuah unggahan yang menarik tapi aneh. Jadi ada sebuah unggahan yang mengajak fans bola dari klub lain untuk berhenti mengejek Manchester United. Menurut unggahan tersebut, kondisi klub sudah terlalu parah sehingga terkesan tidak simpatik jika orang menjadikannya bahan tertawaan.

Bahkan, unggahan tersebut merasa kasihan dengan para fans. Para pemain MU dianggap sudah mengalami persoalan mental dan kejiwaan akibat buruknya performa tim. Sehingga perlu ada ruang untuk mengasihani fans dari klub satu ini.

Saya tidak tahu apakah unggahan tersebut serius atau sekadar satire. Namun, ajakan untuk mengasihani fans Manchester United itu menurut saya ya nggak sudi.

Manchester United nggak layak dikasihani

dr. Tirta ikut merespons unggahan tersebut. Dia mengingatkan bahwa sebagian fans MU justru sering bersikap jemawa ketika klubnya sedang dalam performa bagus, bahkan saat klubnya sendiri belum memenangkan apapun.

ADVERTISEMENT

Saya sepakat dengan hal itu. Jemawanya fans Manchester United sangat berisik karena menyenggol fans-fans lain yang sering kali tidak ada kaitannya dengan performa mereka saat itu. Misalnya, MU menang musim lalu dengan Man City, tapi semua tim lain, mulai dari Arsenal, Liverpool, dan Chelsea, yang menyenggol MU. Fans MU itu kayak bocah caper yang sekalinya dapat permen, seluruh dunia harus tahu.

Dalam sepak bola, saling mengejek merupakan bagian dari rivalitas. Itu bumbu di luar lapangan agar kompetisi sepak bola tetap ramai meski pertandingan belum dan sudah selesai. Tentu, semuanya harus dalam batas kewajaran. Jadi rasanya aneh jika ketika menang boleh mengejek, tapi ketika kalah mendadak meminta agar fans lain mengasihani mereka atas nama solidaritas. Lah, goblok.

Kalau mau adil, Manchester United sebenarnya punya masalah yang jauh lebih serius daripada sekadar jadi bahan ejekan di media sosial.

Manchester United kehilangan arah

Bayangkan, klub dengan pendapatan mencapai 677,6 juta poundsterling pada tahun fiskal 2026, tapi malah bingung sendiri soal cara membangun tim yang konsisten. Kalau kita melihat, selama bertahun-tahun MU seperti klub yang selalu saja berkutat pada persoalan pelatih. Setiap pelatih datang membawa pendekatan berbeda, dan kebutuhan pemain yang berbeda pula menyusul.

Saat hasilnya kok buruk, pelatihnya pergi. Pemain yang mereka rekrut tetap tinggal. Lalu pelatih berikutnya harus meracik skuat yang belum tentu cocok dengan strateginya. Dari Erik ten Hag, Ruben Amorim, hingga Michael Carrick, MU belum menemukan kesinambungan yang benar-benar kuat. Jadi kasus kayak sekarang berulang dari musim ke musim.

Kedatangan INEOS dengan rentetan agenda revitalisasi organisasinya pun kayak gak kelihatan memberikan dampak terhadap persoalan yang MU hadapi sekarang.

Tapi menyalahkan manajemen saja pun nggak adil. Pemain juga ikut bertanggungjawab. Saya menyaksikan pertandingan semalam. Saya melihat Manchester United main kayak orang yang belum menerima gaji. Koordinasi buruk, kehilangan konsentrasi, hingga kesalahan individu akhirnya membuat gol terjadi.

Masalah pada pertandingan ini sebenarnya mulai muncul pada pertandingan sebelumnya. Bruno Fernandes secara terbuka mengkritik pendekatan taktik Carrick setelah kekalahan 1-4 dari Como di Liga Champions.

Respons setelahnya, Carrick langsung mencadangkan Bruno ketika semalam menghadapi Bournemouth. Dan pola seperti ini, sekali lagi adalah pengulangan dengan pelatih sebelumnya.

Jadi kita boleh bertanya-tanya, sebenarnya, ini yang problematik manajemen, staf pelatih, atau para pemain? Atau bahkan jangan-jangan semuanya memang problematik? Kalau memang begitu, Manchester United jadi klub komedi saja. Toh, setiap pekan mereka sudah rutin memberikan hiburan.

Semoga hari Senin terus!

Yang ingin saya katakan di sini adalah, MU punya masalah yang kompleks. Ada persoalan organisasi permainan, disiplin, serta hubungan antara manajemen, pemain dan pelatih yang perlu mereka perbaiki secara menyeluruh.

Manajemen harus punya arah pembangunan tim yang jelas dan konsisten. Pelatih perlu membangun sistem permainan yang masuk akal dan partisipatif. Sementara pemain wajib menunjukkan kualitas dan profesionalisme yang sepadan dengan status mereka.

Jadi sudah jelas, solusinya bukan dengan meminta belas kasihan, tapi pembenahan yang datang dari internal klubnya. Enaknya aja main sambil meminta belas kasihan. Saya sebagai fans Arsenal saja harus sabar meski banyak orang yang mencemooh mereka selama lebih dari 2 dekade hingga akhirnya bisa melihat Arsenal juara. Fans MU masih mencemooh itupun, kan?

Saya cuma mau mengingatkan bahwa menjadi fans sepak bola itu harus siap dengan dua hal, yaitu merayakan kemenangan dan menjadi bahan tertawaan ketika kalah. Sebagai pelajaran nih, jangan lagi deh sesumbar soal tsunami trofi, fokus aja berjuang keluar dari zona degradasi. Selamat hari Senin dan tetap semangat untuk fans Manchester United! Semoga hari-hari kalian Senin terus!

BACA JUGA Manchester United Adalah Lelucon Dimulai dari Internal, tapi Selalu Bodoh lalu Menyalahkan Pelatih dan Pemainnya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.