ADVERTISEMENT

Membandingkan pengalaman naik ojol di Jakarta, Jogja, dan Mojokerto: Jakarta beringas, Jogja kelewat santai

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Sebagai anak kabupaten yang beberapa kali wara-wiri merantau atau sekadar mencari angin ke berbagai kota, urusan transportasi di jalanan selalu menyisakan cerita tersendiri. Apalagi kalau andalan utama mobilitas itu bertumpu pada jasa ojol roda dua.

Saaya tadinya mengira naik motor itu kegiatan yang tidak ada kejutannya, Namun, ternyata pengalaman menjajal ojol di beberapa kota besar di Indonesia ternyata punya watak dan karakternya masing-masing. Iya, tiap kota memang selalu punya cerita, bahkan pengalaman naik ojol di kota yang berbeda juga punya perbedaan pengalaman. Mari kita bedah satu-satu lika-liku naik ojol.

ADVERTISEMENT

Ojol di Jakarta: Terlalu terburu-buru, terlalu terbiasa melanggar aturan

Saya paham orang Jakarta memang selalu buru-buru. Namun, saya tak mengira hal ini akan berdampak ke pelayanan ojol. Mungkin karena terbiasa mengantar orang buru-buru, mereka jadi terbiasa sat-set, ugal-ugalan, dan menghalalkan segala cara demi sampai tujuan secepat mungkin.

Jangan harap bisa melamun santai di jok belakang. Driver ojol Jakarta punya keahlian khusus meliuk-liuk di antara himpitan bus Transjakarta dan truk kontainer. Trotoar diterabas tanpa rasa bersalah, lawan arah dilibas kalau jalur utama lagi macet dengan dalih, “Kalau lewat sana macet, malah lama sampainya”.

Saya juga pengendara motor yang beberapa kali melanggar aturan, pun saya juga terbiasa melihat pengendara nerabas aturan, tapi entah kenapa saya masih kaget dengan betapa masifnya ini terjadi di Jakarta. Jakarta emang keras, Lur! 

Ojol di Jogja: terlalu slow dan santuy

Pindah ke Jogja, atmosfernya langsung berbalik seratus delapan puluh derajat dari Jakarta. Di sini, ojol itu beroperasi dengan ritme yang jauh lebih slow dan santuy.

Waktu pertama kali naik ojol di Jogja, saya sempat kaget karena bapak driver-nya bawa motor tidak pakai geradak-gruduk. Jalannya, santai, seolah-olah mau seperti teman yang membonceng kita menikmati indahnya kota pelajar dengan UMR rendah ini, hahaha.

Sepanjang perjalanan, kalau pas kebetulan jalannya lengang, abang ojol Jogja biasanya hobi ngajak ngobrol ramah. Mulai dari nanya dari mana, mau ke mana, sampai sekadar basa-basi soal cuaca. Apalagi kalau kebetulan bapak-bapak, biasanya diselingi bahasa krama halus yang kita orang awam hanya bisa mengatakan “enggeh”.

Rasanya tuh adem, nggak bikin emosi naik, dan cocok banget buat jiwa-jiwa perantau yang lagi lelah mental. Yah, naik ojol di Jogja memang santuy, tapi mungkin tidak cocok untuk yang mau buru-buru. Meski ya ngapain sih harus buru-buru juga? Urep meh golek opo?

Mojokerto: Terlalu baik, terlalu mau saja diajak ke mana-mana 

Nah beda lagi ketika di Mojokerto, saya beberapa kali memesan “jasa” untuk dijemput dari terminal, stasiun, bahkan halte Transjatim. Ia selalu mengiyakan. Ia juga luwes sekali memberikan saran dan rekomendasi ini-itu. Dari sana kami tak jarang berujung pada mampir ke kafe atau makan. 

ADVERTISEMENT

Meski saya yang harus bonceng tapi bagian pembayaran selalu ia yang mengurusnya. Rasanya menyenangkan. Saya bahkan bisa cerita banyak hal. Iya, obrolan di kendaraan cukup membuat saya merasa didengarkan.

Loh kok bisa??? Ya bisa lahh, orang driver ojolnya istri saya! Hahaha. Eh sebenernya dia bukan driver ojol sih. Tapi pas nganter-nganter saya, dia selalu bisa. Kapan saja, ke mana saja, alhasil ya saya berasa naik ojol betulan wkwkw.

Pada akhirnya menggunakan jasa ojek online di berbagai kota itu ibarat mencicipi menu kuliner dengan tingkat kepedasan yang berbeda-beda. Ada yang cabai rawitnya terlalu sadis, ada yang pedas-manis, dan ada pula yang pelayanannya istimewa. 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Diakui UU yang Baru Bukan Jaminan “Bebas”, Driver Ojol Bakal Tetap Rentan Kalau Aplikator Masih Lepas Tangan dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.