Pengalaman tinggal di kos-kosan campur pasutri yang nggak ingin diulang lagi

Pengalaman tinggal di kos-kosan campur pasutri yang nggak ingin diulang lagi Mojok.co

Ada banyak orang yang menganggap bahwa tinggal di kos-kosan campur itu enak. Apalagi kalau kos-kosan campurnya banyak pasutri. Kata mereka, kos campur pasutri itu lebih fleksibel soal waktu, bisa tinggal bareng sama teman yang berbeda gender, sehingga biaya kosnya bisa lebih murah. Anggapan itu memang ada benarnya, tapi bukan berarti selamanya enak.

Tinggal di kos-kosan campur yang ada pasutrinya tentu punya tantangan tersendiri. Dalam kalimat yang lebih lugas, tinggal di kos-kosan yang campur pasutri itu juga banyak nggak enaknya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari faktor lingkungan, perbedaan karakter, hingga masalah privasi. Semua ini harusnya menjadi pertimbangan kalau ada yang berencana tinggal di kos-kosan campur pasutri.

ADVERTISEMENT

Lima tahun lalu, saya pernah tinggal selama dua bulan di sebuah kos-kosan campur di Jogja, yang penghuninya didominasi oleh pasutri. Nah, sebagai orang yang pernah merasakan bagaimana tinggal di kos-kosan campur pasutri, saya ingin memberi tahu apa saja nggak enaknya tinggal di sana.

#1 Tinggal di kos campur pasutri susah merasakan ketenangan, apalagi kalau ada anak kecil

Salah satu hal pertama yang saya rasakan adalah bagaimana ketenangan menjadi hal yang sangat mewah. Kos-kosan campur, apalagi yang banyak pasutri, seakan nggak berjodoh dengan ketenangan. Tiap hari seperti ada saja yang merusak ketenangan, mulai dari suara penghuni yang lantang, hingga suara anak kecil yang teriak bahkan menangis kencang.

Di kos-kosan campur tempat saya pernah tinggal, mayoritas penghuninya adalah pasutri, dan sebagian besarnya punya anak kecil. Entah sudah berapa kali saya terganggu dengan aktivitas anak kecil yang seakan nggak tahu waktu. Ada yang lari-larian di lorong, ada yang teriak-teriak di jam tidur siang, ada juga yang menangis kencang banget ketika malam hari.

Saya nggak punya pilihan lain selain mengalah. Mau protes juga nggak bisa, apalagi saya penghuni baru. Kalau sampai protes, bisa-bisa saya yang jadi sasaran amukan mereka. Ya sudah, terima saja, sabar saja.

#2 Ikut terganggu dengan drama dan pertikaian rumah tangga

Masih nyambung dengan poin pertama, faktor lain yang bikin tinggal di kos-kosan campur pasutri nggak enak adalah adanya drama hingga pertikaian rumah tangga. Di kos-kosan tempat saya tinggal, saya beberapa kali menjumpai ada pasutri yang berantem, teriak-teriak, bahkan berkonflik dengan penghuni/pasutri lain. Dua bulan tinggal di sana, saya sampai tahu apa-apa saja masalah pasutri penghuni kos yang lain.

Kejadian paling gong yang pernah saya temui adalah ketika salah satu penghuni (pasutri), tiba-tiba digrebek oleh orang dari luar. Saya ingat betul kejadiannya hari minggu siang, saat itu saya lagi rebahan santai di kamar. Tiba-tiba ada suara ramai-ramai di bawah. Saya kaget, lalu keluar kamar dan melihat ada orang yang nggak saya kenal marah-marah kepada salah satu laki-laki penghuni kos. Ada juga seorang perempuan (istri penghuni kos) yang menangis dan memelas belas kasihan.

Usut punya usut, ternyata penghuni kos ini punya utang yang belum kunjung dibayar. Orang yang melabrak si penghuni kos adalah penagih utang. Seperti itulah kejadiannya. Bayangkan, lagi enak-enak rebahan, lalu mendapat suguhan drama atau pertikaian seperti itu. Nggak enak banget.

#3 Fasitilas bersama yang kadang kurang terjaga kebersihannya

Hal lain yang bikin tinggal di kos-kosan campur pasutri nggak enak adalah fasilitas bersama yang kadang kurang terjaga kebersihannya. Ada beberapa sambatan terkait bagaimana kamar mandi atau dapur bersama di kos-kosan campur pasutri yang jorok, jarang dibersihkan, dan nggak terawat. Ini jelas jadi nilai minus yang bikin nggak nyaman.

ADVERTISEMENT

Saya mungkin beruntung karena kos-kosan campur tempat saya tinggal tidak banyak fasilitas bersama. Tiap kamar sudah punya kamar mandi, dan setengahnya juga punya dapur sendiri di dalam kamar. Sebenarnya ada ada dapur bersama, tapi jarang sekali dipakai. Tapi tetap saja, kebersihannya sangat nggak terjaga dan terawat.

#4 Persoalan parkir di kos campur pasutri bisa jadi masalah besar

Parkir juga bisa jadi masalah besar di kos-kosan campur pasutri. Seperti kita tahu, nggak banyak kos-kosan campur yang punya lahan parkir luas. Lahan parkir kebanyakan kos-kosan campur itu terbatas, dan biasanya hanya cukup untuk satu kendaraan (motor) untuk satu penghuni. Jadi, penghuni kos nggak seharusnya punya atau bawa kendaraan lebih dari satu.

Di kos-kosan campur pasutri, ada beberapa penghuni yang bawa kendaraan lebih dari satu. Suami-istri sewa satu kamar, tapi masing-masing bawa satu motor. Akhirnya, parkiran jadi makin penuh, penataannya susah, dan mobilitasnya terganggu. Kalau ini dibiarkan, akan ada penghuni lain yang keberatan, dan nggak terima dengan situasi parkir. Akhirnya, konflik antar penghuni terkait parkir jadi sesuatu yang nggak bisa terhindarkan lagi.

#5 Tetangga yang kerap suka ngatur, merasa paling berkuasa

Saat tinggal di kos-kosan campur pasutri, punya tetangga kos yang terlalu akrab atau dekat itu seperti pedang bermata dua. Bisa jadi keuntungan, bisa juga jadi kekurangan. Keuntungannya, kita bisa punya semacam orang atau pihak yang bisa kita andalkan ketika kesusahan atau ada masalah. Kekurangannya atau nggak enaknya, tetangga yang terlalu dekat itu suka ngatur, apalagi kalau mereka adalah pasutri yang usianya lebih tua.

Mereka bisa ngatur soal aktivitas kita di kos, keluar-masuk jam berapa, bahkan sampai mengatur kehidupan pribadi kita. Mereka bisa ikut campur dalam setiap keputusan hidup kita. Akhirnya, kita nggak punya privasi, dan kita juga akan susah menghindar dari mereka. Pilihannya cuma satu: pindah kos, dan itu jelas nggak mudah.

Itulah 5 hal yang bikin tinggal di kos-kosan campur pasutri itu nggak enak. Tentu saja kelima hal di atas nggak terjadi di semua kos-kosan campur pasutri. Ada juga kos-kosan campur pasutri yang enak, yang nggak ada 5 kejadian di atas. Pengalaman penghuni kos laki-laki dan perempuan juga berbeda. Intinya, pintar-pintar dalam memilih lah. 

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Indahnya hidup ketika tinggal di kos khusus karyawan, tenang dan tidak banyak drama dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.