ADVERTISEMENT

Purworejo: kabupaten paling kasihan yang cuma jadi “rest area” di jalur selatan

Purworejo: kabupaten paling kasihan yang cuma jadi “rest area” di jalur selatan

Ada yang agak menyedihkan dari posisi Purworejo di jalur selatan. Kabupaten ini cukup strategis untuk dilewati orang yang hendak menuju Yogyakarta atau melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Setiap hari kendaraan melintas dan jalanan terus ramai, tetapi saya sering bertanya-tanya: apakah mereka benar-benar melihat Purworejo sebagai tempat yang layak dikunjungi, atau hanya sebagai daerah yang harus dilewati sebelum sampai ke tujuan?

Saya tidak sedang bilang Purworejo sepi atau tidak punya apa-apa. Di situlah masalahnya terasa. Rasanya gemas melihat kampung halaman sendiri punya modal yang cukup, tetapi belum benar-benar membuat orang punya alasan untuk berhenti lebih lama. Bagi sebagian pelancong, Purworejo mungkin hanya dianggap sebagai tempat singgah sebelum mereka sampai ke tujuan sebenarnya.

ADVERTISEMENT

Jalannya dilewati, daerahnya dilupakan

Coba lihat Yogyakarta. Orang punya banyak alasan untuk datang, mulai dari kuliner sampai wisata dan suasana kotanya. Kebumen juga perlahan membangun daya tarik wisata yang membuat orang tertarik berkunjung. Purworejo tentu punya karakter sendiri, tetapi rasanya sulit menyangkal bahwa daerah ini masih perlu bekerja lebih keras agar namanya masuk dalam rencana perjalanan orang.

Padahal, Purworejo punya Pantai Jatimalang, Goa Seplawan, kawasan perbukitan, dan berbagai kuliner lokal. Namun, keberadaan destinasi tidak otomatis membuat wisatawan datang. Orang perlu tahu apa yang menarik, bagaimana menuju ke sana, dan apa yang bisa mereka lakukan setelah tiba. Kalau semua itu belum dikemas dengan baik, tempat sebagus apa pun berisiko cuma menjadi kebanggaan warga sendiri.

Sebagai orang yang punya kedekatan dengan Purworejo, saya tentu ingin daerah ini lebih dikenal. Makanya, agak kesal juga kalau setiap kali membicarakan kemajuan daerah, kita kembali berlindung di balik kalimat bahwa Purworejo punya banyak potensi. Potensi terus, potensi terus. Kapan hasilnya benar-benar terasa?

Jangan puas jadi tempat orang berhenti sebentar

Saya membayangkan orang yang melintasi Purworejo lalu berhenti untuk makan. Ia membeli makanan, menghabiskan waktu sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan. Pedagang lokal tentu memperoleh manfaat dari transaksi itu. Namun, bayangkan kalau orang tersebut juga tertarik mengunjungi pantai, membeli oleh-oleh, atau mencoba kuliner khas sebelum pulang. Uang yang dibelanjakan berpeluang mengalir ke lebih banyak usaha lokal.

Peluang seperti ini semestinya tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah daerah perlu memikirkan bagaimana jalur perjalanan bisa terhubung dengan destinasi wisata dan usaha masyarakat. Informasi wisata harus mudah ditemukan. Tempat makan dan produk lokal perlu ikut dikenalkan. Orang yang datang juga perlu punya alasan untuk tinggal lebih lama, bukan sekadar berhenti karena perut lapar atau bahan bakar hampir habis.

Tentu, semua itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan memasang slogan pariwisata atau membuat unggahan promosi. Yang dibutuhkan adalah pengalaman berkunjung yang memang layak diceritakan kembali.

Purworejo mau dibawa ke mana?

Saya tidak berharap Purworejo mendadak seramai Yogyakarta. Setiap daerah punya kemampuan dan jalannya sendiri. Namun, bukan berarti kita harus pasrah menerima keadaan seolah-olah menjadi kabupaten yang dilewati orang sudah cukup membanggakan.

Kebumen bisa menjadi bahan belajar dalam mengembangkan wisata. Daerah lain juga bisa memberi contoh bagaimana potensi lokal diolah menjadi peluang ekonomi. Purworejo tidak perlu menyalin semuanya mentah-mentah, tetapi setidaknya mau melihat apa yang bisa diperbaiki dan benar-benar mengerjakannya.

ADVERTISEMENT

Yang menyedihkan bukan ketika wisatawan memilih pergi ke daerah lain. Mereka bebas menentukan tujuan. Yang menyedihkan adalah ketika kita punya kesempatan untuk membuat mereka tertarik, tetapi terlalu lama merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.

Saya ingin Purworejo dikenal bukan cuma karena orang melewatinya saat menuju tempat lain. Saya ingin ada orang yang sengaja merencanakan perjalanan ke sini, menginap kalau perlu, menikmati kulinernya, lalu pulang dengan cerita yang menyenangkan.

Jangan sampai Purworejo cuma numpang lewat dalam ingatan orang. Daerah ini punya hak untuk menjadi tujuan, bukan selamanya menjadi jalan menuju tujuan.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Kelam di Balik Wajah Purworejo yang Tenang dan Damai dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.