ADVERTISEMENT

Melintasi Jalan Raya Serang saat malam hari adalah upaya menjemput maut lewat jalur kegelapan

Melintasi Jalan Raya Serang saat malam hari adalah upaya menjemput maut lewat jalur kegelapan

Berkendara saat malam hari di Jalan Raya Serang mengajarkan saya bahwa manusia modern ternyata merindukan zaman purba, ketika api adalah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan. Dan kini, lampu motor saya menggantikannya.

Walaupun berdomisili di Kabupaten Tangerang, saya sering bolak-balik melewati Jalan Raya Serang saat ada keperluan di Kota Serang. Oleh sebab berbagai alasan, tidak jarang perjalanan akhirnya harus ditempuh pada malam hari.

ADVERTISEMENT

Ketika melintas di jalur yang mulus dan penerangannya memadai, terkadang rasa kantuk muncul lantaran pengendara merasa terlalu nyaman. Lain cerita ketika melewati Jalan Raya Serang. Jalur ini justru membuat mata selalu terjaga, keringat dingin dan jantung berdebar.

Bukan, bukan karena jalur ini penuh dengan demit gentayangan tak kasat mata, melainkan karena penerangan jalan umum (PJU) yang selalu hilang entah ke mana.

Jalan Raya Serang-Tangerang adalah jalur nasional yang miskin cahaya

Secara resmi, Jalan Raya Serang merupakan bagian dari Jalan Nasional Rute 1 (rute penghubung antara ujung barat sampai ujung timur Pulau Jawa). Namun demikian, status tersebut tetap saja tidak membawa banyak pengaruh signifikan dari segi infrastruktur, termasuk penerangan jalan umum.

Saat memasuki jalur maut ini pada malam hari, kita akan disambut dengan pekatnya gelap tiada tepi. Lampu kendaraan yang terangnya pas-pasan terasa sangat berarti, walau hanya seperti lilin kecil di dalam goa. Penerangan di sepanjang jalur ini hampir semuanya mati. Walaupun masih ada beberapa yang berfungsi, jumlahnya sangat sedikit dan terkadang sebatas pada area pabrik saja. Sedangkan area yang tidak dihuni pabrik, semuanya gelap gulita bagai di zaman purba, gilaaa!

Hal tersebut tentu sangat membahayakan pengendara. Sebab, sepanjang jalan terdapat banyak lubang yang berselimut dalam kegelapan. Belum lagi dengan deretan truk tronton yang parkir sembarangan di tepi jalan yang remang-remang tanpa lampu hazard. Sekali saja truk tersebut luput dari pandangan dan pengendara terlambat menghindarinya, niscaya kepulangan hanyalah sebatas membawa nama.

Lampu jalan di Jalan Raya Serang kalah terang dari billboard, hingga lampu dari warung Madura 24 jam lebih membantu

Ironisnya, kegelapan di Jalan Raya Serang ini justru begitu kontras dengan lampu yang bersumber dari billboard di samping jalan. Cahaya yang datang dari papan iklan rokok, produk kecantikan, atau cicilan perumahan justru jauh lebih terang dibandingkan dengan lampu jalan yang sering mati suri atau kurang tegangan.

Lantas apakah pengendara harus terus-menerus mengais penerangan dari iklan-iklan kapitalis itu? Apakah hanya dari papan billboard yang menjadi sumber cahaya agar pengendara tidak terperosok dalam selokan? Sungguh menyedihkan.

Beruntungnya, di tengah gelap gulita sepanjang Jalan Raya Serang, secercah cahaya datang dari tempat yang tak disangka. Lampu dari warung Madura yang buka 24 jam menjelma menjadi cahaya penyelamat. Kerlap-kerlip lampu warna-warni dari etalase bensin eceran cukup membantu para pengendara melihat wujud aspal dan batas jalan, sekaligus jadi penanda bahwa mereka masih melintas di jalur yang benar.

ADVERTISEMENT

Rakyat rajin bayar pajak tiap tahun, tapi pemerintah hanya menyediakan lampu jalan yang mati bertahun-tahun

Dari fenomena tersebut, maka timbul pertanyaan mendasar. Sebetulnya, uang pajak yang selalu ditarik tanpa ampun dari masyarakat itu larinya ke mana? Sedangkan, begitu banyak jenis pajak yang dibebankan. Mulai dari pajak kendaraan, bangunan, penghasilan, bahkan ketika mendapat hadiah undian, negara tidak segan untuk meminta jatah!

Saya pribadi sebagai warga biasa, sebetulnya tidak mempermasalahkan hal tersebut jika memang hasil pajak itu digunakan dengan semestinya. Saya yakin, kebanyakan dari masyarakat sepakat. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkannya “masih jauh panggang dari api”.

Padahal, menikmati fasilitas jalan yang aman serta dilengkapi dengan penerangan yang layak merupakan hak warga negara, serta bagian dari pemenuhan fasilitas publik oleh pemerintah. Pengendara berhak menggunakan jalan umum yang aman serta bebas dari gangguan atau ancaman keselamatan.

Hal yang membuat mangkel bin jengkel ialah ketika masyarakat menuntut haknya, para pemangku kebijakan mendadak amnesia dan lupa bahwa itu tanggung jawabnya. Selalu ada alasan klasik dengan pernyataan “sedang difokuskan” atau “sedang dalam proses koordinasi”. Sungguh basi!

Sering kali permasalahan penerangan jalan ini berujung pada lempar tanggung jawab antarwilayah yang justru membuat perbaikan tak kunjung direalisasikan dan mangkrak bertahun-tahun. Akibatnya, warga biasa yang selalu menjadi korban dari drama birokrasi njlimet tersebut. Masyarakat dipaksa tetap taat membayar pajak tahunan, sementara pengendara masih harus menghafalkan doa selamat dan tolak bala di tengah pekatnya kegelapan.

Penutup

Pada akhirnya, derita melintasi Jalan Raya Serang saat malam hari bukanlah sekadar cerita berkendara di tengah-tengah kegelapan, ini merupakan potret kegetiran bagaimana masyarakat kecil harus melawan kekacauan fasilitas publik.

Kami tidak muluk-muluk meminta fasilitas lampu yang mewah dihiasi gemerlap warna-warni layaknya di kota-kota besar. Sama sekali tidak. Yang kami butuhkan adalah penerangan jalan yang berfungsi dengan normal. Kami para pengendara ingin melintasi jalan dengan tenang, memeluk anak istri ketika pergi atau pulang tanpa harus menitipkan wasiat di dalam jok motor.

Selain itu, menyadari bahwa jalur tersebut dipenuhi pabrik dan dilewati truk-truk besar pada malam hari, pemerintah setempat seharusnya memperketat pengawasan dan memperbaiki penerangan jalan demi keselamatan bersama. Jangan hanya ketika akan ada pejabat tinggi melintas, bim salabim abracadabra! lampu jalan semua menyala.

Penulis: Ahmad Ali Abdun Nasihi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalur Tengkorak di Serang-Cilegon: Bertemu Aspal Bergelombang, Debu Jalanan, dan Truk Besar Pencabut Nyawa dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Ali Abdun Nasihi

Warga sipil biasa yang gemar ngopi. Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni, literasi, dan sosial politik. Seorang warga kabupaten yang sedang belajar menyuarakan keresahan lewat tulisan.