ADVERTISEMENT

Nostalgia tempat rekreasi Taman Remaja Surabaya yang membuat Surabaya Utara berjaya pada masanya 

Nostalgia tempat rekreasi Taman Remaja Surabaya yang membuat Surabaya Utara berjaya pada masanya Mojok.co

Apabila diberi pilihan daerah di Surabaya yang bisa ditinggali, saya dengan keyakinan penuh akan memilih Surabaya Barat. Sayangnya, saya tidak punya pilihan itu. Akhirnya, saya hidup dan tumbuh di Surabaya Utara.

Bukannya tidak bersyukur atau benci dengan Surabaya Utara. Hanya saja, sisi Surabaya satu ini memang ruwet akan banyak hal. Salah satunya, lalu lintas yang banyak dibahas oleh akun Instagram @dhana_rahmat.  

ADVERTISEMENT

Itu mengapa, saya selalu nggak menyarankan teman dari luar kota ingin main ke Surabaya Utara. Saya khawatir, ekspektasi mereka soal Surabaya jadi bubar karena main ke wilayah ini. 

Beda cerita ketika itu semua terjadi pada masa lalu, pada masa kejayaan Surabaya Utara. Masa ketika lalu lintas Surabaya Utara belum melanda dan isu rasial belum tumbuh subur. Saya akan mengajak atau merekomendasikan sebanyak-banyak orang untuk melihat sisi Surabaya satu ini. Terlebih, Surabaya punya Taman Remaja Surabaya (TRS). 

Taman Remaja Surabaya simbol kejayaan yang kini tinggal kenangan

Asal kalian tahu, setiap lewat Surabaya Expo Center, ada perasaan rindu yang menggelayuti di dada saya. Sebab, dulunya, tempat itu adalah Taman Remaja Surabaya yang banyak kenangan. 

Jujur saja, TRS membuat Surabaya Utara berjaya pada masanya. Selama hampir 5 dekade taman ini menarik pengunjung dari berbagai kalangan untuk mampir saat liburan. Mulai dari anak sekolahan, keluarga besar, hingga pasangan muda-mudi. Ramainya TRS bikin sebagian orang memanfaatkan peluang tersebut, sehingga tak sedikit yang buka usaha warung PKL di sekitar taman hiburan ini.

Sekolah SD saya yang lokasinya relatif dekat dengan TRS pun begitu. Bukan buka usaha juga. Tapi karena jaraknya yang dekat, hadiah untuk juara kelas biasanya dapat tiket gratis menikmati liburan di TRS. Salah satu siswa SD yang beruntung itu adalah saya. Waktu itu (sering, sih), saya meraih ranking satu di kelas. Dengan angka satu yang tertulis di raport, saya bisa mendapatkan dua hal sekaligus: senyum manis mama dan liburan tanpa perlu menabung yang lama.

Merasa bermain di rumah sendiri karena dapat tiket gelang akses semua wahana

Alhasil, hampir tiap liburan semester, tempat liburannya ya di Taman Remaja Surabaya. Begitu juga ketika liburan malam tahun baru. Biasanya, saya beserta keluarga menghabiskan malam pergantian tahun di TRS. Agaknya, jika ada gelar pengunjung yang setia, maka sayalah yang dapat gelar itu.

Seperti taman hiburan pada umumnya, tiket masuk dan wahana di TRS berbeda. Ketika beli tiket masuk saja, otomatis kalau mau naik wahana bayar lagi. Per-wahana dibandrol dari harga Rp5.000 hingga Rp10.000. Dengan harga segitu, saya selalu berpikir dua kali ketika ingin menjajal wahana.

Akan tetapi, berbeda ketika saya sudah dibelikan gelang akses atau tiket terusan untuk semua wahana. Tanpa perlu pikir panjang, saya bebas pilih mau wahana apa saja. Tentu yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Mulai dari monorel yang menjadi ikon TRS, rumah hantu yang ketika masuk saya langsung menutup mata, rumah kaca yang bikin sadar kalau diri ini tampan, hingga bom bom car yang bikin saya sempat pengin jadi pembalap. 

ADVERTISEMENT

Ah, masih banyak lagi wahana lainnya yang bikin saya senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya. Pokoknya, ketika sudah berada di sini terasa seperti di rumah sendiri. Sampai nggak sadar kalau waktu sudah tengah malam.

Pulang sampai tengah malam

Rasa-rasanya, selain di bulan Ramadan, rekor terjaga sampai larut malam saat masih SD berhasil saya raih ketika main di Taman Remaja Surabaya. Menikmati berbagai wahana, rasa kantuk tidak disadari karena keasyikan bermain. Palingan baru sadar ketika mama saya sudah capek menemani saya.

Di saat itulah saya harus pulang, dan datang kembali di tahun berikutnya. Ketika sampai di rumah pun, saya masih asyik mendengarkan cerita kesan orang tua saya sepulang dari taman hiburan ini.

Tanpa diundang rasa kantuk datang, saya pun terlelap. Dan besoknya, saya dan teman-teman saya saling bercerita mana wahana yang paling mengesankan.

Pada akhirnya, semua itu tinggal kenangan. Meski sudah berbeda, saya tetap bangga tumbuh besar di Surabaya utara. Karena dari wilayah kota pahlawan yang satu ini masa kecil saya penuh warna. Ya, walaupun kebanyakan warna hitamnya.

Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Cepogo Cheese Park di Boyolali Memang Istimewa, tapi Saya Ogah Kembali ke Sana dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Feri Hamdani Putra Fasa

Mahasiswa S1 yang lulus tepat waktu. Memiliki cita-cita menjadi pengusaha sukses, penulis ulung.