Bekerja sebagai HRD hari-hari ini terasa amat melelahkan. Selain kepikiran soal target dan tanggung jawab sehari-hari, saya dan mungkin juga sebagian HRD lainnya kepikiran kelakuan rekan sejawat di media sosial. Kelakuan mereka makin hari makin aneh saja.
Baru-baru ini, misalnya. Banyak HRD jadi omongan karena tren yang mereka lakukan: posting foto wajah, dibarengi dengan unggahan screenshot percakapan yang pernah dilakukan bersama kandidat.
Tren yang nirempati
Jujur, tren tersebut termasuk pinggir jurang sih. Pertama, wajah kalian terpampang dengan jelas dan gamblang. Kedua, screenshot obrolan dengan kandidatnya sok iye dan sok paling mantep.
Lucunya, nama akun media sosialnya anonim. Tapi, mereka mengunggah wajah diri sendiri. Sebagian HRD yang ikut tren ini, menampilkan percakapan mereka dengan kandidat pada saat diundang wawancara kerja atau selama proses rekrutmen berlangsung.
Mungkin dalam bayangan mereka, apa yang dilakukan ini keren kali ya. Mereka nggak sadar, saat tren tersebut banyak diikuti oleh sebagian HRD di media sosial, situasinya jauh dari kata keren. Malah, bisa dibilang nirempati.
Bayangkan. Banyak orang sedang berusaha, sedang berjuang, mencari, mendapat, dan menemukan pekerjaan yang dirasa layak, mereka malah bersenang-senang dari percakapan dengan para kandidat.
Salah satu yang ramai dibicarakan, soal mengundang interview 29 menit sebelum prosesnya dimulai. Lainnya beragam. Soal nego gaji, benefit yang tidak sesuai dengan info awal, dan sebangsanya.
Capek nggak, sih, dengan kelakuan sebagian HRD yang ada aja gebrakannya?
Sebab, sependek ingatan saya, dulu, sebelum saya bekerja dan di awal saya bekerja, saat mendengar nama HRD, rasanya divisi ini cukup disegani secara profesional. Makin ke sini, kok sebagian di antaranya malah sering membunuh karakter diri sendiri di media sosial.
Pertanyaannya, sebagian HRD yang petantang-petenteng ini kok bisa bermunculan sih?
HRD sama rentannya dengan karyawan lain
Kali ini saya ingin sok tahu, tapi tetap dengan dasar yang cukup kuat. Kategorikan saja ini sebagai asumsi yang pada akhirnya cukup masuk akal.
Begini. Memang, divisi dan/atau posisi HRD, termasuk posisi yang strategis. Tektokan dengan manajemen dan banyak user sangat sulit dihindari. Bagi sebagian HRD, boleh jadi hal ini akan menjadi suatu kebanggan tersendiri.
Jika sampai besar kepala, HRD yang dimaksud akan merasa bahwa dirinya penting. Orang pilihan. Karyawan terpilih. Sialnya, in a bad way.
Sampai dia lupa, bahwa, HRD juga karyawan. Sama seperti karyawan lainnya. Posisinya sama-sama rentan. Sama-sama digaji oleh perusahaan. Dan dibayar untuk bekerja. Bukan berlagak menjadi dewa penentu nasib pekerja.
Berikutnya, saya paham sih, posisi ini pegang data keseluruhan karyawan, bahkan sering kali data tersebut digunakan untuk proses penggajian. Tapi, FYI aja, nih. Bukan berarti kamu, sebagian HRD, tiba-tiba berubah status jadi pemilik perusahaan atau pemegang kuasa bagi para karyawan.
Jadi, jangan tiba-tiba jadi petantang-petenteng. Dan merasa jadi yang punya perusahaan secara utuh dan menyeluruh. Kurang-kurangi sesat pikir seperti ini.
Ini masa sulit, HRD sebaiknya lebih hati-hati
Di masa sulit ini, saya pikir, nggak berlebihan kalau saya perlu mengingatkan kepada rekan sejawat sesama HRD. Untuk lebih berhati-hati jika ingin share hal yang sensitif. Sebab, selain menampilkan kurangnya empati dan kontrol diri, salah-salah bisa memperlihatkan sisi bobrok yang dimiliki perusahaan. Ujung-ujungnya, kalian bisa kena batunya.
Saya mau mengingatkan lagi saja, kena timpuk batu itu sakit, lho, para HRD.
Ya, pada akhirnya, selain komunikasi yang baik, batas bawah bekerja seseorang yang bekerja di ruang lingkup HRD ini, perlu punya empati dan profesional, kan. Idealnya demikan. Normalnya seperti itu.
Penulis: Seto Wicaksono
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.