ADVERTISEMENT

Culture shock orang Bangkalan ketika pertama kali mengunjungi Pamekasan: makanannya hambar, tempatnya para sultan

Culture shock orang Bangkalan ketika pertama kali mengunjungi Pamekasan: makanannya hambar, tempatnya para sultan

Saya kira sama-sama Madura negeri, Pamekasan dan Bangkalan akan mirip, ternyata bedanya jauh

Beberapa waktu yang lalu, saya ditugaskan untuk penelitian di Situbondo. Kebetulan desa yang saya tempati masyarakatnya menggunakan bahasa Madura. Tentu sebagai orang Bangkalan, saya senang. Observasi berjalan seperti di rumah sendiri. Meski begitu, Situbondo dan Madura nyatanya berbeda.

Dari segi bahasa, misalnya. Meski menggunakan bahasa yang sama, tetap saja ada yang asing di telinga saya. Contoh, ucapan “terima kasih.” Di Madura, bilangnya “Sakalangkong.” Sedangkan di Situbondo, “Kaso’on.” Beda banget, kan. Maka tak heran, ada sebutan Madura swasta dan Madura negeri. Saya rasa, selain karena letak geografisnya, hal itu juga menggambarkan bahasa dan budaya yang sedikit berbeda.

Tentu, perbedaan itu bikin saya culture shock, tapi rasa-rasanya hal itu bisa dimaklumkan. Toh, jarak Bangkalan dan Situbondo amat jauh. Namun, bagaimana jika culture shock dirasakan sesama Madura negeri? Nah, baru-baru ini saya merasakannya ketika di Pamekasan.

Menghabiskan banyak waktu di perjalanan

Sebetulnya, saya diajak oleh teman saya ke Pamekasan. Kami berangkat dari Bangkalan. Melihat Google maps, dibutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke sana. Sepanjang perjalanan saya berdoa, semoga punggung yang biasa dipakai rebahan bisa bertahan. Bersyukur kami selamat sampai tujuan. Ya, walaupun waktu yang dihabiskan di luar perkiraan.

Sebagai orang Bangkalan, menghabiskan waktu sebanyak itu di perjalanan, bikin capek tidak karuan. Bagaimana tidak, di Bangkalan saya terbiasa dengan akses yang mudah dan cepat. Mau ngopi ke Surabaya? Tinggal lewat Suramadu. Kerja ke Sidoarjo? Lewat Surabaya. Mandi ke Mojokerto? Ya, lewat Sidoarjo. Paling tidak, untuk menikmati semua itu, tak perlu waktu lama seperti ke Pamekasan.

Secara geografis, Bangkalan berada di ujung barat pulau Madura dan Pamekasan di timur. Dengan jarak yang cukup jauh itu, tak heran banyak penulis hebat lahir dari Pamekasan. Sebab, banyak merenung di perjalanan. Hehehe.

Makanannya hambar, nggak kayak Bangkalan

Usai check in di penginapan, saya dan teman saya keliling cari makan. Kebetulan di sebelah ada warung penyetan. Dengan perut yang keroncongan, kami menunggu pesanan datang. Nasi dan lauk-pauk sudah sampai di meja, saya siap menghabiskannya. Sayangnya, dari suapan pertama sudah bikin kecewa. Sebab, rasanya hambar.

Tak berhenti di situ, tengah malam saya coba lagi cari makan. Kali ini sendirian. Pilihan saya jatuh pada nasi goreng. Dan ya, rasanya hambar. Entah ini hanya sebuah kebetulan atau bagaimana saya tidak tahu. Untuk kesekian kalinya saya keliling cari makan di Pamekasan pasti dapat rasa yang hambar.

Tentu dengan lidah orang Bangkalan, yang biasanya makan bebek lengkap dengan bumbunya yang sedap itu, saya merasa makan makanan hambar seperti puasa mutih. Atau mungkin orang Pamekasan memang sedang puasa itu, mengingat tingkat spiritualitasnya tinggi. Tak percaya? Buktinya Indomaret mau digusur dan Mie Gacoan diruqyah itu karena apa coba.

ADVERTISEMENT

Tempatnya para sultan

Penginapan saya dekat dengan Pom bensin. Sore-sore, dari teras saya melihat antrean yang panjang. Saya kira BBM sedang langka di sini. Asumsi saya salah. Ternyata, sedang ada BBM gratis. Bukan dari pemerintah, tapi dari yayasan yang dipimpin Ali Zainal Abidin.

Hal itu bikin saya geleng-geleng kepala, karena orang kaya mana yang kepikiran beli BBM satu Pom lalu dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

Setelah searching tentang Pamekasan, ternyata, masih ada orang kaya yang lain, yang mengeluarkan dana untuk bantuan sosial. Sebut saja Haji Khairul Anam, pemilik PT Bawang Mas Grup. Dilansir dari berita yang beredar, beliau pernah gelontorkan zakat 45 milyar untuk anak yatim dan warga kurang mampu di 13 kecamatan di Pamekasan.

Melihat semua itu, saya tak heran lagi kalau banyak yang menyebut Pamekasan sebagai tempatnya para sultan.

Ah ya, sebagai orang Bangkalan itulah culture shock yang saya alami ketika di Pamekasan. Kalau kalian bagaimana?

Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bangkalan Lebih Cocok Jadi Ibu Kota Provinsi Madura daripada Pamekasan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

Feri Hamdani Putra Fasa

Mahasiswa S1 yang lulus tepat waktu. Memiliki cita-cita menjadi pengusaha sukses, penulis ulung.