Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kontekstualisasi Agama atau Seragamisasi Agama?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
5 Mei 2019
A A
agama

agama

Share on FacebookShare on Twitter

Kata dosen saya, agama adalah topik yang selalu relevan untuk dibahas kapan saja dan dimana saja, bahkan oleh siapa saja. Sekalipun bagi yang tak percaya. Kira-kira kenapa? Kalau secara teori sih karena manusia punya sifat dasar yang namanya Homo Religious. Udah ketebak kan artinya apa? Iyak benar, makhluk yang beragama atau makhluk yang membutuhkan kekuatan yang ada di luar dirinya. Atau mau pakek teori lain yang lebih njelimet keren lagi, manusia sebagai Homo Simbolicum makhluk pengguna simbol dan karena dalam agama banyak sekali simbol-simbol makanya manusia suka. Tapi secara simpel dan ngawurnya, alasan kenapa agama menarik untuk dibahas ya karena digorengnya gampang, komponen(baca : penganut) nya gampang panas gitu, jadi cepet deh gorengnya, ehe.

Kalau ingin ditelusuri sejak kapan sebenarnya agama mulai dibicarakan, jawabannya tidak jauh dari waktu di mana manusia ada. Animisme, dinamisme dan isme-isme yang lain seperti yang diceritakan di buku-buku sejarah kita menjadi bukti kalau sejak menyejararahnya manusia, sejak itu pula agama ada. Tapi bukan itu yang akan kita bahas di sini, kita bakal ngobrol kenapa agama selalu berusaha relevan, atau direlevankan dalam setiap linimasa. Istilah kerennya kontestualisasi agama biar agama sesuai sama konteks kehidupan saat ini, katanya~

Lha kalo emang sesuai sama konteks kenapa nggak banyak majelis-majelis agama yang ngomongin PUBG, hak buruh, dunia entertaiment dan hal-hal lain yang sesuai dengan hidup manusia-manusia saat ini. Malah bikin fatwa haram ini itu, larangan ABC sampai Z. Ini kontekstualisasi atau memedenisasi sih, duh ngga ngerti.

“Tapikan ini buat kebaikan bersama, biar tegak nilai-nilai agama. Nggak tergilas peradaban.”

Gitu biasanya alesan teman-teman saya yang pro sama cara beragama dengan melarang ini itu. Oke jadi gini Maemunah, nilai ya? Ngomongin soal nilai ya? Seinget saya dari mata kuliah aksiologi, nilai itu kan sifatnya abstrak, dimensi paling dasar atas sebuah tindakan atau pemikiran yang bisa saja mewujud dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya nilai bahwa hidup harus saling menghormati satu sama lain, wujudnya bisa macem-macem, orang jawa mewujudkan dengan senyum dan menunduk kalau lewat dihadapan orang, orang batak beda lagi mungkin dengan menepu pundak kalau ketemu dan sebagainya.

Praktik salat aja nih ya, bisa beda-beda ada yang kakinya dibuka lebar-lebar, ada yang tangannya digerakkan ketika baca syahadat, ada yang qunut dan tidak qunut tergantung mazhab, kitab yang dibaca, pemahaman terhadap kitabnya, dan faktor yang lain-lain.

Jadi, kalau memang yang ingin ditegakkan itu adalah nilai-nilai, kenapa harus dipaksakan dengan wujud yang sama sih? Ini nanya beneran, boleh banget kalau ada yang mau jawab.

Yang jadi masalah, sepanjang sejarah nggak ada penyebaran agama yang sukses dengan cara yang kaku dan keras kaya gitu. Agama apapun itu, akan jauh lebih diterima ketika bisa membaur dengan nilai-nilai setempat dan tidak memaksakan keseragaman pemahaman. Nggak usah jauh-jauh ngomomgin jaman dulu deh, saya pernah sekali waktu ngobrol dengan teman saya yang dulunya pemeluk agama tapi sekarang jadi ateis. Tanpa saya tanya, dia cerita sendiri kalau penyebab awal ia meninggalkan kepercayaannya adalah takut menjadi militan dan keras seperti yang dicontohkan oleh para pemuka agama saat ini.

Baca Juga:

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

Nahlooh, kalo udah kaya gini gimana? Masih yakin kalau tumbuh kembang suatu agama akan tetap baik dengan cara penyeragaman kaya gini?

Jadi inget kuliahnya Hossain Nasr yang saya tonton di Youtube beberapa waktu yang lalu, beliau mengatakan bahwa purifikasi atau upaya-upaya pemyeragaman seperti ini sesungguhnya adalah bentuk sekulerisasi yang lebih buruk dari sekularisasi itu sendiri. Lah kepiye?

Setelah saya telaah dengan sedikit kengawuran, mungkin gini maksudnya. Upaya-upaya penyeragaman seperti yang saat ini gencar dilakukan, pada masanya akan berubah menjadi gerakan masif yang menakutkan sehingga bisa punya kuasa atas apapun.Contohnya yang terjadi di sebuah negara yang bertransformasi dari negara demokrasi menjadi negara dengan basis agama tertentu, sehingga menghilangkan prasasti-prasasti yang menjadi peninggalan sejarah karena tidak relevan lagi dengan pemahaman agama yang telah dipilih negara tersebut. Ternyata, pada gilirannya bekas lahan-lahan prasasti tersebut dibangun hotel-hotel dan tempat-tempat perjudian dengan alasan untuk mendatangkan keuntungan finansial.

Lah, jadi nggak apa-apa peninggalan ilang yang penting dapet duit? Jadi duitisasi agama dong?  Ngeri nggak tuh..

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2019 oleh

Tags: agamaKontekstualisasi Agamasimbol
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

doa

Sebagai Seorang Muslim, Saya Percaya Kekuatan Doa Bahkan “Hanya” Untuk Menghilangkan Noda Baju Sekalipun

29 Juni 2019
Penyesalan Seorang Pembuat Konten Hijrah terhadap Aktivitas Hijrahnya terminal mojok.co

Penyesalan Seorang Pembuat Konten Hijrah terhadap Aktivitas Hijrahnya

27 Februari 2021
ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
Enaknya Punya Orang Tua yang Membebaskan Anaknya dalam Berkeyakinan terminal mojok.co

Orang Tua yang Membebaskan Anaknya dalam Berkeyakinan Adalah Sebenar-benarnya Anugerah

21 Oktober 2020
Fungsi Menanyakan Agama Orang Itu buat Apa, sih? terminal mojok.co tiktok war tanya agama sopan atau nggak

Fungsi Menanyakan Agama Orang Itu buat Apa, sih?

16 Desember 2020
Bayangkan Jika Lagu 'Melukis Senja' Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita terminal mojok.co

Bayangkan Jika Lagu ‘Melukis Senja’ Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita

3 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026
IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Kerennya Hanya Sesaat Mojok.co

Meskipun Prodi Sosiologi Tidak Relevan dengan Dunia Industri, Menghapusnya Hanya Akan Menghambat Kemajuan Bangsa Ini

30 April 2026
4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot Mojok.co

4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot

1 Mei 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi
  • Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga
  • Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati
  • 1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa
  • Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun
  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.