Apakah kamu pernah membuka mobile banking pada Jumat malam cuma untuk mengecek saldo, lalu menutupnya lagi sambil menatap langit-langit, lalu nangis dalam hati? Yes, kita hafal cara menabung. Masalahnya, hafal tidak sama dengan punya tabungan Rp20 juta.
Tempo pernah membedah alasan generasi Z sulit menabung. Mulai dari gaji mereka kalah cepat lari dari biaya hidup, FOMO menyeret mereka ke keranjang belanja, dan paylater selalu menalangi keinginan.
Riset Finder yang Tempo kutip menyebut 31% generasi Z tidak punya tabungan sama sekali. Dan yang punya, jarang melewati 10 juta rupiah.
Kalau saldo kamu masih Rp200 ribu, tenang. Kompas, Detik, dan Tempo sudah menulis resepnya. Saya merangkum, menghitung ulang, lalu menyesuaikannya dengan kantong pekerja muda sampai kamu yang sudah kepala tiga.
#1 Angka 20 juta mulai dari hitungan, bukan niat
Niat itu murah. Hitungan yang bikin tabungan kamu bergerak.
Angka 20 juta rupiah bukan gunung. Ia cuma angka bulanan yang menunggu kamu pecah. Kompas mengulas cara menabung Rp50 juta dengan gaji UMP lewat rumus sederhana: target kamu bagi waktu. Saya memakai rumus itu:
Rp500 ribu per bulan = 40 bulan
Rp800 ribu per bulan = 25 bulan
Rp1 juta per bulan = 20 bulan
Rp1,67 juta per bulan = 12 bulan
Rp3,34 juta per bulan = 6 bulan
Semakin besar setoran bulanan, semakin cepat tabungan kamu sampai di 20 juta. Semua cara di bawah ini melayani satu tujuan, yaitu menaikkan setoran tanpa membuat hidupmu menderita.
#2 Sisihkan tabungan di depan, jangan menunggu sisa gaji
Ini cara menabung paling tua sekaligus paling ampuh. Tempo mencatat prinsip Fellexandro Ruby. Ia menyisihkan tabungan lebih dulu saat penghasilan masuk, lalu hidup dari sisanya. Ia tidak pernah membalik urutan itu, karena menurutnya sisa gaji cuma mitos.
Detik menulis hal serupa lewat cerita Jeffry Jouw. Begitu gaji masuk, dia memindahkan 30% ke rekening yang dia beri nama “rekening gak boleh dibuka”, lalu membagi separuhnya ke deposito.
Praktiknya gampang. Setiap gajian, buka aplikasi bank dan kirim uang ke rekening tabungan sebelum kamu membayar apa aja. Anggap tabungan sebagai tagihan paling galak di hidupmu.
#3 Terapkan aturan 50-30-20 untuk tabungan yang konsisten
Aturan 50-30-20 membagi gajimu jadi tiga pos: 50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan dan investasi. Tempo mengutip perencana keuangan OCBC Widya Yuliarti yang merekomendasikan metode ini buat generasi Z, dan Detik menulis rumus yang sama dengan merujuk laman Kementerian Keuangan.
Kompas menawarkan versi lain. Gini, 70% pengeluaran, 30% tabungan, khusus buat kamu yang bebas cicilan. Gaji Rp5 juta? Kirim Rp1,5 juta ke tabungan, dan 20 juta sampai dalam waktu sekitar 14 bulan.
Kalau kamu sudah punya cicilan motor atau KPR, pakai versi Detik: 50% kebutuhan, 30% cicilan, 20% tabungan. Porsinya mengecil, konsistensinya jalan.
#4 Pisahkan rekening tabungan dari rekening jajan
Kompas menyarankan rekening tabungan tanpa kartu ATM, alias rekening yang menyulitkan kamu mengambil uang. Detik menyebut langkah yang sama, yaitu pisahkan rekening supaya kamu tidak memakai uang tabungan untuk kebutuhan harian.
Cara menabung tambahan dari Kompas: pilih bank yang ATM-nya jauh dari kos dan kantormu. Kalau kamu harus naik ojek untuk menarik uang, otakmu menyerah lebih dulu.
Buka juga tabungan berjangka dengan autodebet bulanan. OJK menyebut fitur ini membantu kamu mencapai target jangka panjang tanpa keinginan menarik uang di tengah jalan.
#5 Cara menabung receh yang kelihatan remeh tapi menyakitkan dompet borosmu
Kompas menghitung Rp2.000 per hari menghasilkan Rp3,6 juta dalam lima tahun. Detik menawarkan metode menabung sesuai tanggal. Misal, setoranmu mengikuti angka tanggal, dan setahun bisa mengumpulkan Rp5,58 juta. Kompas juga menyarankan kamu menyimpan setiap lembar Rp20.000 yang kamu terima.
Kombinasikan semuanya. Lempar receh ke celengan setiap malam, setor isinya setiap akhir bulan. Kelihatannya kecil, tapi 20 juta memang lahir dari hal kecil yang kamu ulang tanpa menyerah.
#6 Lunasi utang dan pangkas langganan sebelum menambah tabungan
Detik menyarankan kamu menyelesaikan utang berbunga tinggi lebih dulu, terutama kartu kredit dan pinjaman pribadi. Ya karena bunganya menggerus apa aja yang kamu tabung. Lalu audit langgananmu.
Kompas mengingatkan kita mengecek biaya bulanan seperti streaming, kuota, dan keanggotaan gym yang tidak pernah kita pakai. Saya biasanya menemukan tiga langganan yang sudah saya lupakan, dan totalnya hampir menyamai setoran tabungan sebulan. Detik juga menulis cara menabung paling membosankan tapi paling mujarab: bawa bekal. Selisihnya bisa separuh harga makan siang kantor.
#7 Tambah penghasilan lewat side hustle, bukan lewat paylater
Kalau kamu sudah memangkas segalanya dan setoranmu masih mentok, masalahnya ada di sisi pemasukan. Kompas menyarankan kamu menjual keahlian lewat freelance atau jualan online, dan Detik menulis hal yang sama: penghasilan tambahan mempercepat target tabungan. Kompas juga mencatat tren pekerja berpenghasilan ganda terus naik menurut data BPS, jadi mengambil proyek sampingan di akhir pekan itu wajar.
Aturannya satu. Ingat, seluruh penghasilan tambahan masuk ke tabungan. Kalau kamu memakainya untuk upgrade gaya hidup, kamu cuma memindahkan masalah.
#8 Gimana kalau gaji cuma UMR atau fresh graduate?
Kompas menyarankan kamu mulai dari nominal kecil, misalnya 10% gaji, lalu menaikkan porsinya pelan-pelan sampai 15 atau 20%. Fellexandro Ruby di Tempo melakukan hal yang sama. Dia naik dari 20% sampai akhirnya menyisihkan 80% penghasilan.
Buat fresh graduate bergaji UMR, jangan memaksa diri menyetor tiga juta sebulan. Kompas menulis orang bergaji UMR tetap bisa menabung selama mereka menyisihkan dana lebih dulu dan menaruhnya di rekening terpisah.
Konteksnya nyata. UMP DIY 2026 sebesar Rp2.417.495 dan UMK Kota Yogyakarta Rp2.827.593. Dengan gaji segitu, setoran Rp500 ribu per bulan sudah prestasi, dan angka itu tetap membawamu ke dua puluh juta dalam 40 bulan.
#9 Jaga tabungan 20 juta dari kebocoran kecil
Detik menulis 50-30-20 hanya berjalan kalau kamu memisahkan uang dan menetapkan tujuan spesifik. Kompas menawarkan “aturan 30 hari” atau tunda pembelian di luar anggaran selama 30 hari. Setelah sebulan, keinginan itu biasanya menguap sendiri.
Populix mencatat 77% responden milenial dan generasi Z rutin menabung, meski banyak menyetor nominal tidak tentu. Kebiasaanmu mungkin sudah ada, yang belum ada cuma angkanya.
Terakhir, LPS menjamin simpanan sampai Rp2 miliar per nasabah per bank selama bunganya tidak melewati tingkat bunga penjaminan, kini 3,75% untuk rupiah di bank umum. Simpan dana di tempat yang negara awasi, dan jangan tergoda tawaran bunga tinggi yang datang lewat pesan WhatsApp tengah malam.
FAQ tentang cara menabung biar dapat 20 juta dengan cepat
- Berapa lama menabung sampai dapat 20 juta? Setoran Rp1 juta per bulan mencapai 20 juta dalam 20 bulan; Rp1,67 juta per bulan cukup 12 bulan; Rp500 ribu per bulan butuh 40 bulan.
- Apakah cara ini bisa untuk gaji UMR? BISA. Kompas menyebut pekerja bergaji UMR tetap bisa menabung selama menyisihkan dana lebih dulu di rekening terpisah; mulai dari 10% gaji lalu naik bertahap.
- Berapa persen gaji untuk tabungan? Metode 50-30-20 mengalokasikan 20% untuk tabungan dan investasi. Kompas menawarkan porsi 30% bagi yang tidak punya cicilan.
- Apakah tabungan 20 juta aman di bank? Aman, selama bunga simpanan tidak melewati tingkat bunga penjaminan LPS (3,75% untuk rupiah di bank umum) dan LPS menjamin sampai Rp2 miliar per nasabah per bank.
Angka 20 juta bukan soal besar gaji, tapi soal urutan
Cara menabung yang paling menentukan itu sederhana, yaitu sisihkan lebih dulu, pisahkan rekeningnya, naikkan setoran setiap ada ruang baru. Hitungannya tidak pernah bohong. Setoran Rp1,67 juta per bulan membawa tabungan kamu ke 20 juta dalam satu tahun.
Mulai besok, buka rekening baru, aktifkan autodebet, dan setor apa aja yang kamu sanggup. Angka 20 juta tidak datang sendiri, ia menunggu kamu menjemputnya, satu setoran kecil setiap bulan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.