Informasi
ADVERTISEMENT

Pengalaman tinggal di Balikpapan, kebutuhan dasar terasa seperti barang mewah

Pengalaman tinggal di Balikpapan, kebutuhan dasar terasa seperti barang mewah Mojok.co

Sudah kurang lebih 1 tahun saya tinggal di di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur. Selama tinggal di sini, beberapa bulan terakhir adalah saat-saat paling sengsara. Bukan karena jauh dari kampung halaman atau mahalnya ongkos pulang ke Jawa, melainkan karena kebutuhan dasar manusia, listrik, air bersih, dan udara layak, justru menjadi persoalan.

Listrik padam, kesabaran warga Balikpapan diuji

Sejak bergulirnya isu menipisnya pasokan batu bara ke PLN pada Juni 2026, Balikpapan mengalami pemadaman listrik bergilir yang terus berlangsung hingga saat ini, Oktober. Hampir setiap hari, pemberitahuan pemadaman muncul di saluran informasi PLN. Kolom komentarnya pun dipenuhi emoji marah dan berbagai bentuk protes warga.

Menurut penjelasan PLN, pemadaman terjadi akibat gangguan pada sejumlah pembangkit, bukan karena menipisnya stok batu bara. Namun, ketika gangguan berlangsung berbulan-bulan, wajar jika masyarakat mempertanyakan perkembangan perbaikannya.

Dampaknya tidak sederhana. Pemilik usaha mengalami gangguan produktivitas, pekerjaan tertunda, dan aktivitas ekonomi terganggu. Warga biasa pun ikut merasakan akibatnya. Kipas angin berhenti berputar, rumah menjadi gerah, dan malam terasa lebih panjang.

Gangguan teknis memang bisa terjadi. Namun, masyarakat berhak memperoleh informasi yang transparan dan kepastian mengenai penanganannya. Kesabaran warga tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan ketidakpastian berlangsung tanpa ujung.

Air bersih yang tidak selalu bersih

Persoalan air juga tidak kalah merepotkan. Balikpapan mengandalkan sejumlah waduk, termasuk Waduk Manggar dan Waduk Teritip, sebagai sumber air baku. Ketika kemarau panjang mengurangi ketersediaan air, pasokan kepada masyarakat ikut menghadapi tekanan.

Saya pernah tinggal di sebuah perumahan di kawasan Batakan yang menggunakan air WTP dari perusahaan swasta. Pengalaman saya di sana cukup mengecewakan: air yang keluar berwarna kuning, keruh, bahkan bercampur endapan lumpur. Filter air pun tidak selalu mampu mengatasinya.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga akhirnya harus membeli air menggunakan tandon, dengan harga sekitar Rp90 ribu hingga lebih dari Rp100 ribu per tandon, bergantung pada lokasi dan akses jalan.

Bagi sebagian orang, biaya itu mungkin terlihat biasa. Namun, bagi perantau yang harus mengatur pengeluaran bulanan, tambahan biaya tersebut cukup membebani. Air bukan barang mewah yang bisa dibeli hanya ketika kondisi keuangan sedang baik.

Langit abu-abu, udara tidak sehat

Belum selesai dengan listrik dan air, kualitas udara Balikpapan juga mengkhawatirkan. Kabut asap menyelimuti langit, membuat pemandangan tampak kelabu dan matahari terlihat redup.

Berdasarkan data IQAir yang saya akses pada 11 Oktober 2026 pukul 11.00 WITA, indeks kualitas udara Balikpapan mencapai 156 AQI US, masuk kategori tidak sehat. Pada waktu yang sama, konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 62,2 µg/m³.

Angka itu membuat persoalan kabut asap terasa lebih serius daripada sekadar pemandangan langit yang kehilangan warna birunya. Ada persoalan kesehatan yang patut diperhatikan di baliknya. Ketika udara yang kita hirup saja sudah mengkhawatirkan, kebutuhan dasar untuk hidup layak terasa semakin jauh dari kata terpenuhi.

Ketika listrik padam, air bersih sulit diperoleh, dan udara tidak sehat, rasanya kebutuhan paling mendasar pun harus diperjuangkan satu per satu.

Jangan bangga terlalu mama nerimo

Di tengah situasi ini, saya justru kecewa ketika mendengar sebagian orang membanggakan masyarakat Balikpapan sebagai warga yang sabar, nerimo, dan tidak gampang protes.

Kesabaran memang baik. Namun, ada perbedaan antara bersabar menghadapi keadaan dan membiarkan masalah berlarut-larut tanpa menuntut penyelesaian.

Apakah warga yang sabar harus menerima listrik padam berbulan-bulan tanpa bertanya? Apakah masyarakat yang nerimo mesti memaklumi air keruh dan udara tidak sehat tanpa menyampaikan keberatan? menurut saya, tidak.

Masyarakat berhak mengkritik, meminta penjelasan, dan menagih perbaikan kepada pihak yang bertanggung jawab. Protes tidak harus berupa makian. Ia bisa hadir melalui pengaduan, pertanyaan kritis, dan tuntutan agar pelayanan publik menjadi lebih baik.

Setelah setahun tinggal di Balikpapan, saya tidak berharap kota ini bebas dari masalah. Saya hanya berharap kebutuhan dasar warganya tidak menjadi kemewahan.

Sebab, menjadi warga yang baik bukan berarti selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Terkadang, kepedulian justru harus diwujudkan melalui keberanian untuk bersuara.

Kota yang maju bukan hanya kota yang ekonominya berkembang, melainkan juga kota yang warganya bisa menyalakan lampu, mendapatkan air bersih, dan menghirup udara layak tanpa harus terus-menerus diminta bersabar.

Penulis: Nurhadi Mubarok
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2026 oleh .

Nurhadi Mubarok

melepaskan diri dari belenggu overthinking