Informasi
ADVERTISEMENT

Tegal memang bukan kota yang cocok untuk semua orang

Tegal memang bukan kota yang cocok untuk semua orang Mojok.co

Saya orang Jogja yang sekarang tinggal di Tegal. Setelah delapan tahun tinggal di Kota Bahari ini, bisa saya menyimpulkan Tegal bukanlah kota untuk semua orang. 

Ini bukan karena Tegal punya banyak kekurangan ya. Masalahnya, beberapa pendatang di Tegal datang dengan ekspektasi tinggi sehingga membanding-bandingkan dengan daerah tempat mereka tinggal sebelumnya. 

Saya adalah salah satu dari orang itu saat pertama kali pindah ke Tegal. Saya kira akan tinggal di kota yang sepi. Ternyata salah, yang terjadi justru sebaliknya. Kota Bahari ini memiliki tempat makan, berbagai event, dan suasana kota yang ramai. 

Sekilas kota ini tampak baik-baik saja memang. Hanya saja, menurut saya, ada beberapa tipe manusia yang akan kesulitan hidup di kota ini:

#1 Orang yang tidak tahan dengan bahasa Ngapak tidak cocok tinggal di Tegal

Bagi para pendatang, tidak tahan dengan bahasa Ngapak bisa jadi menjadi ujian pertama. Awalnya saya menganggap bahasa Ngapak merupakan bahasa yang lucu. Saat pertama kali mendapatkan telpon dari HRD menggunakan Bahasa Indonesia berlogat Ngapak, saya hampir tertawa terbahak-bahak. 

Akan tetapi, setelah delapan tahun, telinga saya mulai terbiasa dengan bahasa Ngapak. Bahkan, beberapa kosa kata seperti: manjing, laka dan katon sudah saya gunakan dalam percakapan sehari-hari. Jadi kalau mendengar bahasa Ngapak sudah membuat ketawa, mungkin Kota Bahari ini bukan pilihan yang tepat.

#2 Lidah yang sulit berdamai dengan soto tauco bakal kesulitan di Tegal

Sebagai orang yang terbiasa dengan soto bening, sampai saat ini saya masih agak gimana dengan soto tauco. Warna kuahnya berwarna cokelat kental, rasanya asam dan asin. Terlebih aroma tauconya yang sangat menyengat. Padahal bagi orang Tegal, soto tauco adalah sebuah kebanggan. Di Tegal soto tauco merupakan santapan sehari-hari baik pagi, siang ataupun malam. Jadi cobalah adaptasi menyukai soto tauco karena itu sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap kuliner daerah.

#3 Orang yang tergantung pada transportasi umum

Bagi orang yang terbiasa dengan transportasi umum seperti MRT, KRL atau Trans Jakarta pasti akan merasa kaget apabila tinggal di daerah ini. Di Tegal transportasi umum yang tersedia hanya angkot dan bus tuyul atau bus 3/4, itupun tidak beroperasi sampai malam. 

Hal tersebut membuat warga Tegal mengandalkan kendaraan pribadi untuk kegiatan sehari-hari. Mau ke Guci naik kendaraan pribadi, mau ke mal pakai kendaraan pribadi, mau mencari makan pun pakai kendaraan pribadi. 

Kini pemkot meluncurkan bus gratis dari Alun-alun Tegal ke Pantai Alam Indah. Semoga dengan hadirnya bus ini pelan-pelan bisa sampai ke Guci atau objek wisata lainnya.

#4 Orang yang belum move on dari kota asalnya

Ini merupakan salah satu penyakit para perantau, termasuk saya. “Kalau di Jogja seperi ini”, “makanan di Jogja lebih enak”, kalimat macam itu sering kali saya lontarkan dahulu. Kalau masih membandingkan Tegal dengan kota asal, sampai kapan pun juga kita akan merasa tinggal di tempat yang salah. Setelah delapan tahun merantau, saya menyadari bahwa Tegal tidak perlu berubah menjadi kota lain agar bisa terasa lebih nyaman.

#5 Tegal tidak untuk orang yang enggan adaptasi

Kota Bahari ini akan terasa aneh bagi kita para pendatang. Bahasa yang berbeda, makanan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda hingga cara bercanda yang terkadang berbeda. Namun, kalau kita mau beradaptasi, lambat laun semuanya akan terasa biasa. Saya dulu datang ke Tegal dengan membawa kebiasaan Jogja, kini saya pulang ke Jogja dengan membawa kebiasaan Tegal.

Dipikir-pikir lagi, Tegal sebetulnya bukan tidak cocok bagi semua orang. Daerah ini hanya tidak cocok bagi pendatang yang membawa pesan, “Pokoknya Tegal harus seperti kota saya”. Sebab, jika sudah begitu mungkin kita tidak akan betah tinggal di Kota Bahari ini. 

Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Alasan warga lokal nggak betah tinggal di Tegal yang semakin hilang arah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2026 oleh .

Arief Nur Hidayat

Seorang buruh pabrik yang menemukan kemerdekaannya di balik mata pena. Di sela deru mesin dan rutinitas yang presisi, ia merawat jiwanya dengan kecanduan menulis, sembari sesekali merayakan kegembiraan kecil melalui barisan jersey