Ada satu nasihat yang sering kali didengungkan oleh banyak orang dari daerah adalah kalau ingin hidup lebih baik, sukses, dan punya uang maka pergilah ke kota besar.
Merantaulah ke kota-kota yang punya citra keras dan cepat. Itu mengapa, mereka yang ingin kuliah atau bekerja selalu disuguhkan pilihan kota besar, terutama Jakarta.
“Kejar pendidikan, karier, jabatan, ke Jakarta aja. Kalau sudah di sana, jangan cepat-cepat pulang,” begitu katanya. Seolah memilih pulang kampung terkesan menjadi kegagalan atau kekalahan.
Sebenarnya nasihat atau seruan itu tidak sepenuhnya salah. Kita perlu menerimanya sebagai nasihat yang layak dipertimbangkan. Tapi, bukan berarti harus memaksakan diri di kota dengan siksaan dan tekanan yang sama sekali tidak bisa kita toleransi. Perlu juga untuk menyadari kapasitas diri, baik dari sisi fisik maupun psikis.
Pulang dari Jakarta ke Tegal dengan segala rencana matang tetap dipandang sebelah mata
Cerita menarik datang dari seorang teman yang perjalanan kariernya memberikan perspektif berbeda daripada nasihat di atas.
Jadi, dia pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Kariernya bisa dibilang cemerlang sebab posisi yang dipegangnya sudah tinggi. Kalau mengikuti standar umum soal keberhasilan, maka apa yang dicapainya sangat menarik.
Akan tetapi, dengan segala capaiannya itu, di 2020 dia justru memilih pulang ke Kendal. Keputusannya tentu mengundang pertanyaan.
“Loh udah punya posisi bagus kok malah pulang?”
“Sudah capek ya kerja di Jakarta?”
“Pulang ke Kendal mau kerja apa?”
Pertanyaan itu muncul seolah-olah keputusan meninggalkan Jakarta sama saja meninggalkan kesempatan hidup enak begitu saja. Kalau pulang kampung, artinya gagal dan mulai lagi dari awal.
Teman saya bercerita, dia pulang bukan tanpa rencana dan menganggur begitu saja. Di Kendal, dia membangun usaha dan kemudian menjadi distributor tangan pertama untuk salah satu brand muslimah. Sesuatu yang menurutnya tidak pernah masuk dalam milestone hidupnya saat pertama kali ke Jakarta dulu.
Menariknya, keputusan untuk pulang ke Kendal sangat disyukurinya bukan karena usahanya punya omset yang berlimpah. Dia justru merasa keputusannya tepat karena hidupnya jauh lebih tenang. Dia tidak lagi tertekan soal deadline pekerjaan dan sudah tidak merasa dirinya harus kejar-kejaran dengan waktu. Hari-hari dengan tingkat stres yang munculnya di setiap momen sudah ditinggalkan.
Hidup tidak hanya diukur dari CV
Dari ceritanya, saya jadi menyadari bahwa selama ini kehidupan kita selalu disuguhkan dengan penilaian kemajuan hidup yang hanya tertera di CV seperti jabatan, nama perusahaan, gaji yang besar, kota tempat bekerja, dan keterampilan yang dimiliki. Makin bagus dan penuh catatan di CV-nya, makan dianggap berhasil seseorang.
Padahal, keberhasilan hidup tidak selalu bisa ditorehkan dalam bentuk CV yang dibuat menarik. Pertanyaan seperti berapa banyak waktu yang masih kita punya untuk beristirahat setelah bekerja? Seberapa sering pekerjaan menekan kehidupan akhir pekan kita? Seberapa besar energi yang kita keluarkan untuk pekerjaan sementara ada keluarga, pasangan, dan hal lain yang butuh perhatian. Bukankah itu juga butuh energi?
Jawaban dari pertanyaan itu memang tidak dibutuhkan dalam CV, tapi jadi gambaran paling mudah apakah kehidupan seseorang disebut ideal atau tidak.
Dan, bagi segelintir orang, termasuk teman saya, itu jadi pencapaian mahal yang disyukurinya. Tentu ini tidak berarti bahwa Jakarta adalah tempat yang buruk sementara Kendal adalah tempat paling nyaman untuk hidup. Titik fokusnya ada pada ruang untuk menjalani kehidupan yang lebih santai dan tenang, tanpa khawatir besok mau makan apa.
Teman saya nggak memungkiri bahwa kota besar memang menawarkan banyak hal daripada kota kecil seperti Kendal. Mulai dari pilihan karir yang banyak, jejaring yang lebih luas, fasilitas publik yang lebih lengkap dan modern, serta kemajuan peradaban yang mempengaruhi mindset dalam bekerja.
Sebaliknya, harus diakui bahwa hidup di daerah kecil seperti Kendal juga banyak keterbatasan, terutama soal pekerjaan formal yang terbatas dan fasilitas yang tidak selengkap di kota.
Kendali penuh atas hidup
Teman saya menegaskan kembali satu hal bahwa terlepas dari semua itu, kota kecil seperti Kendal menawarkan ruang yang lebih lebar untuk banyak hal. Ruang untuk hidup, ruang untuk mengatur waktu, ruang untuk bertemu keluarga, ruang untuk mengambil jeda tanpa merasa bersalah apakah pekerjaan sudah selesai atau belum.
Bahkan, dari keputusan itu, teman saya menemukan ceruk ekonomi yang jarang diperhatikan orang lain, yaitu menjadi distributor tangan pertama untuk brand muslimah. Dia paham kalau media sosial mengoyak sekat-sekat ekonomi antara kota dan daerah. Fomo dan tren menyebar tanpa pandang bulu, terlebih soal tren berbusana. Inilah yang membuatnya merasa pilihannya menjadi distributor brand muslimah bisa menjadi pegangan ekonominya untuk hidup di daerah.
Dari kisah teman saya, saya jadi punya satu definisi soal keberhasilan hidup, yaitu seseorang yang punya kendali penuh atas hidupnya sendiri. Sebab, siapa yang menentukan arah maju dan mundurnya hidup kalau bukan diri sendiri?
Kalau seseorang punya jabatan tinggi, tapi setiap hari hidupnya selalu dalam tekanan, apakah itu bisa disebut keberhasilan hidup?
Sebaliknya, orang yang meninggalkan jabatan, memperoleh penghasilan dari usahanya sendiri, punya waktu dan lebih dekat dengan anak dan istri, serta punya banyak ruang untuk mengembangkan diri, bukankah itu tidak berarti kemunduran?
Sebab, kemajuan seseorang boleh jadi dimulai ketika seseorang berani pergi dari tempat yang dianggap prestius ke tempat yang selama ini dianggap terlalu sepele untuk menampung ketenangan hidup.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Makanan Kendal Nggak Cocok di Lidah Semua Orang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.