Informasi
ADVERTISEMENT

10 alasan Malang sudah tidak lagi nyaman untuk menjadi tempat tinggal seperti dulu

10 alasan Malang sudah tidak senyaman dulu (Unsplash)

Daya tarik Malang itu kuat banget. Tapi itu dulu. Ketika masih sejuk, belum metropolitan, dan kemacetan hanya terjadi sesekali. Kini, ia tak lagi sama. Malang kehilangan rasa nyaman yang membuat siapa saja betah.

Kenapa Malang sudah tidak senyaman dulu lagi? Izinkan saya merangkum dan menjelaskan.

#1 Malang semakin macet

Kepadatan lalu-lintas Malang sudah tak tertolong. Beberapa jalan yang dahulu relatif lancar kini semakin sering penuh.

Pertambahan jumlah kendaraan menjadi salah satu penyebabnya. Aktivitas masyarakat yang semakin tinggi membuat jalan-jalan utama harus menampung lebih banyak kendaraan setiap hari.

Bagi masyarakat yang sudah lama tinggal di Malang, perubahan ini cukup terasa. Kemacetan di sini sudah satu garis di bawah kemacetan kota metropolitan seperti Jakarta.

#2 Penduduk semakin padat

Malang merupakan kota pendidikan, wisata, dan perdagangan. Banyak orang datang dari berbagai daerah untuk sekolah, kuliah, bekerja, maupun membuka usaha.

Pertambahan penduduk tentu membawa dampak positif bagi perekonomian. Namun, semakin banyak orang berarti semakin besar pula kebutuhan terhadap rumah, kendaraan, tempat parkir, air, makanan, fasilitas kesehatan, dan berbagai pelayanan lainnya.

Bagi sebagian orang, semakin banyak penduduk berarti semakin hidup sebuah kota. Tetapi bagi masyarakat yang menyukai suasana tenang, perubahan tersebut dapat membuat Malang terasa berbeda dibandingkan beberapa tahun atau puluhan tahun lalu.

#3 Pembangunan semakin cepat

Malang berkembang dengan cepat. Rumah, tempat usaha, kos-kosan, restoran, minimarket, pusat perbelanjaan, dan bangunan lainnya terus bermunculan.

Pembangunan tentu penting agar kota berkembang. Namun, jika pembangunan tidak diimbangi dengan perencanaan lingkungan yang baik, kepadatan kota dapat meningkat.

Lahan yang dahulu hijau perlahan berubah menjadi bangunan. Lingkungan yang sebelumnya memiliki banyak ruang terbuka menjadi semakin padat.

#4 Harga rumah dan tanah di Malang semakin mahal

Malang semakin menarik sebagai tempat tinggal. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap rumah dan tanah ikut meningkat.

Bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas, mencari rumah di lokasi strategis menjadi semakin sulit. Lokasi yang dekat dengan pusat kota, kampus, sekolah, fasilitas kesehatan, pusat perdagangan, dan fasilitas umum biasanya memiliki harga yang lebih tinggi.

Akibatnya, masyarakat harus memilih. Tinggal di lokasi yang lebih mahal tetapi dekat dengan berbagai fasilitas, atau mencari tempat tinggal yang lebih jauh dengan konsekuensi perjalanan yang lebih panjang. Masalah harga hunian pada akhirnya juga berhubungan dengan kemacetan dan biaya transportasi.

#5 Kawasan kampus di Malang semakin ramai

Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki banyak kawasan yang penuh aktivitas mahasiswa. Keberadaan kampus memang menjadi salah satu kekuatan utama. Namun, kawasan di sekitar kampus juga mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Kos-kosan, restoran, kafe, minimarket, jasa laundry, tempat fotokopi, jasa pengiriman, dan berbagai usaha lainnya bermunculan. Kawasan yang dahulu merupakan permukiman tenang dapat berubah menjadi kawasan yang aktif hampir sepanjang hari.

Bagi mahasiswa, kondisi tersebut sangat menguntungkan. Tetapi bagi sebagian penduduk lama, keramaian tersebut dapat mengurangi ketenangan lingkungan tempat tinggal.

#6 Suasana sejuk dan hijau mulai berkurang di beberapa kawasan

Salah satu alasan utama orang menyukai Malang adalah suasananya yang sejuk dan hijau. Namun, perkembangan kota membuat sebagian kawasan mengalami perubahan.

Pohon dan lahan terbuka berkurang akibat pembangunan. Permukaan tanah semakin banyak tertutup bangunan dan aspal. Jumlah kendaraan juga meningkat.

Akibatnya, suasana beberapa kawasan perkotaan tidak lagi terasa sesejuk dan setenang yang diingat oleh masyarakat yang sudah lama tinggal di Malang.

Tentu saja tidak berarti seluruh Malang sudah kehilangan kesejukannya. Masih banyak kawasan yang nyaman dan hijau. Namun, perubahan tersebut cukup terasa terutama di kawasan yang mengalami pembangunan pesat.

#7 Masalah sampah dan kebersihan semakin menantang untuk Malang

Semakin banyak penduduk dan aktivitas ekonomi berarti semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Restoran, pasar, pusat kuliner, kawasan kos, tempat wisata, dan rumah tangga semuanya menghasilkan sampah setiap hari.

Jika pengelolaannya tidak mengikuti perkembangan jumlah penduduk, persoalan kebersihan dapat semakin terasa. Kebersihan sebenarnya merupakan bagian penting dari kenyamanan kota. Jalan yang bersih, saluran air yang terawat, serta lingkungan yang tertata dapat membuat masyarakat merasa betah.

Sebaliknya, lingkungan yang kotor dan tidak terawat dapat membuat sebuah kota terasa kurang nyaman meskipun memiliki banyak fasilitas modern. Malang harus segera sadar bahwa masalah ini semakin berat.

#8 Risiko genangan dan masalah drainase

Perkembangan Malang juga berhubungan dengan persoalan air. Semakin banyak lahan yang berubah menjadi bangunan dan permukaan beraspal, semakin sedikit pula permukaan tanah yang dapat menyerap air hujan secara alami.

Karena itu, sistem drainase menjadi sangat penting. Ketika hujan deras terjadi, masyarakat tentu mengharapkan air dapat mengalir dengan baik tanpa menimbulkan genangan yang mengganggu aktivitas.

Bagi kota yang terus berkembang, sistem drainase harus terus disesuaikan dengan perubahan lingkungan. Jika tidak, masalah genangan dapat menjadi salah satu faktor yang mengurangi kenyamanan masyarakat Malang.

#9 Biaya hidup perlahan terasa semakin berat

Malang memang masih memiliki banyak pilihan hidup yang relatif terjangkau. Namun, perkembangan kota juga membuat biaya tertentu semakin terasa bagi masyarakat.

Harga sewa tempat tinggal, kos, makanan di kawasan tertentu, transportasi, serta berbagai kebutuhan lainnya dapat meningkat seiring perkembangan ekonomi. Masalahnya menjadi lebih terasa apabila kenaikan biaya hidup tidak diikuti peningkatan pendapatan yang seimbang.

Kota yang nyaman bukan hanya kota yang memiliki fasilitas lengkap. Kota juga harus memungkinkan masyarakatnya memenuhi kebutuhan hidup dengan wajar.

#10 Malang sudah kehilangan sebagian suasana lamanya

Alasan terakhir mungkin merupakan alasan yang paling sulit diukur, tetapi justru sangat dirasakan oleh masyarakat yang sudah lama tinggal di Malang.

Dulu, Malang sering diasosiasikan dengan kota yang sejuk, tenang, sederhana, dan tidak terlalu padat. Sekarang, Malang semakin berkembang menjadi kota pendidikan, wisata, perdagangan, dan jasa yang lebih ramai. Perubahan tersebut bukan berarti semuanya buruk.

Justru banyak perkembangan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Fasilitas semakin banyak, peluang usaha semakin besar, dan perekonomian semakin aktif. Namun, ada harga yang harus dibayar dari perkembangan tersebut: sebagian suasana lama Malang perlahan menghilang.

Orang yang baru datang mungkin melihat Malang sebagai kota yang nyaman. Tetapi orang yang sudah tinggal selama puluhan tahun mungkin merasakan perbedaan yang cukup besar.

BACA JUGA Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2026 oleh .

Ariestya Yudha Perdana

Bapak-bapak yang berprofesi sebagai kurir dan suka menulis.