Sebagai warga asli Lamongan, saya tumbuh dengan kebanggaan khas masyarakat pesisir Pantura. Kota kami memang punya segalanya untuk dibanggakan. Bicara kuliner ada soto Lamongan dan pecel lele. Pariwisata? Ada Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan makam para Sunan Drajad.
Bahkan, kalau mau mengukur fanatisme olahraga, Persela dan jajaran suporternya punya tempat tersendiri di peta sepak bola nasional.
Akan tetapi, cara pandang seseorang terhadap tanah kelahirannya sering kali baru terbuka lebar justru setelah dia melangkah keluar. Iya, pengalaman merantau di dua “Kota Pelajar” utama Jawa Timur dan DIY (Malang dan Jogja) memberikan saya ruang komparasi yang sangat jernih.
Setelah mengecap dinamika hidup di Malang yang dingin, serta merenungi ritme Jogja yang serba pelan dan romantis, saya mendadak tersadar akan satu hal. Ternyata, ada satu aset tak kasat mata yang teramat krusial yang dimiliki oleh Malang dan Jogja, tapi sama sekali belum dimiliki oleh Lamongan, yakni ruang publik yang menghidupkan ekosistem ide.
Malang dan Jogja Punya Kultur Cangkruk yang Menghasilkan Karya
Coba perhatikan kultur nongkrong di Malang dan Jogja.
Di Malang, warung kopi dan coffee shop bukan sekadar tempat mengusir kantuk atau pamer pakaian estetik. Di sana, warkop adalah laboratorium gagasan. Mahasiswa dan anak muda duduk melingkar mendiskusikan draf skripsi, merancang gerakan komunitas, hingga menulis esai dan artikel opini. Ada energi intelektual yang terus mengalir di antara asap rokok dan secangkir kopi.
Jogja lebih dahsyat lagi. Ruang publik di sana, dari angkringan pinggir jalan, pelataran kampus, hingga kantung-kantung seni, bisa mendadak berubah jadi ruang diskusi publik. Seni, literasi, dan budaya diperbincangkan secara wajar oleh siapa saja, dari pakar akademisi bertitel profesor sampai mahasiswa yang baru masuk semester satu.
Bagaimana dengan Lamongan?
Perlu diakui bahwa kultur warkop di Lamongan sangat hidup dan menjamur dari pelosok desa sampai pusat kota. Tapi, harus diakui secara jujur, fungsi warkop kita masih dominan berhenti di level ruang pelarian. Menjadi tempat main game online sampai subuh, ajang nonton bareng bola, atau sekadar tempat melepaskan penat sehabis bekerja.
Ekosistem yang merangsang anak muda untuk berkarya, menulis, berdiskusi kritis, atau menciptakan produk kreatif kolektif masih sangat minim.
Ketiadaan wadah bagi berseminya anak muda kreatif
Di Malang dan Jogja, seorang pemuda yang hobi menulis, bermusik, atau membuat konten kreatif akan dengan sangat mudah menemukan “rumahnya”. Ada festival literasi independen, ada ruang pameran kolektif, ada komunitas esais yang saling mengkritik draf tulisan, dan ada media-media lokal yang siap menampung suara warganya.
Sementara di Lamongan, anak muda yang punya kegelisahan kreatif sering kali merasa “sendirian”. Ketika ada anak muda yang mencoba bicara agak serius soal tata kota, isu lingkungan pesisir, atau dinamika budaya di warung kopi, narasi yang sering terdengar di sekitarnya justru, “FOMO, sok kritis, dan ungkapan merendahkan lainnya.
Akibatnya apa? Potensi-potensi anak muda hebat dari Lamongan pada akhirnya lebih memilih “menghibahkan” ide dan karya terbaik mereka untuk membangun kota perantauan orang lain. Mereka bersinar di Malang, tumbuh di Jogja, atau menjajal nasib di Jakarta, sementara tanah kelahirannya sendiri kekurangan pasokan gagasan segar.
Saatnya warkop Lamongan “bersinar”
Tulisan ini sama sekali bukan dibuat untuk mengerdilkan Lamongan. Sebaliknya, ini adalah bentuk rasa cinta seorang warga yang ingin melihat daerahnya mengejar ketertinggalan aspek kualitas hidup (quality of life).
Sebab, Lamongan tidak kekurangan orang pintar. Kuliner kita juara. Ketahanan ekonomi warga Pantura terkenal tangguh dan ulet. Tapi, agar kota ini tidak cuma dikenal sebagai “pemasok warung soto” atau kota transit di jalur Pantura, kita butuh ruang-ruang publik yang lebih inklusif bagi ide dan kreativitas.
Sudah saatnya warkop-warkop di Lamongan tidak cuma jadi tempat meratapi nasib atau menghabiskan kuota internet, tapi juga jadi rahim bagi lahirnya karya-karya hebat anak daerah. Karena kota yang maju itu bukan cuma kota yang punya banyak tempat wisata, tapi kota yang sanggup memberi ruang bagi warganya untuk tumbuh dan bersuara.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Malang lebih banyak mengajarkan saya cara bertahan hidup daripada Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.