Saat masih duduk di bangku sekolah dan kuliah, saya sering mendapat saran untuk kelak cari kerja di dekat rumah saja. Niatnya baik, saran ini muncul supaya saya ngga mengalami banyak kerepotan saat bekerja.
Saya pun yakin, beberapa dari kalian juga pengin punya rumah atau tempat tinggal dekat kantor. Ya siapa sih yang nggak pengin kehidupannya sehari-hari lebih hemat biaya transportasi, energi, dan waktu. Bahkan, kalau rumah kita hanya berjarak kurang dari 200 meter dari kantor dan masih tinggal dengan orang tua, kita tinggal pulang dan makan di rumah ketika jam makan siang. Enak, kan?
Akan tetapi, di balik itu semua, punya rumah atau tinggal di dekat kantor juga banyak sisi nggak enaknya. Pandangan saya berubah drastis ketika mendengar pengalaman beberapa orang sekitar saya yang merasakan situasi seperti ini. Alih-alih enak, punya rumah atau tinggal di dekat kantor itu malah menyiksa.
Punya rumah dekat rumah selalu jadi sasaran kalau ada urusan mendadak
Salah satu tetangga saya sekarang bekerja di tempat wisata yang baru selesai dibangun tahun ini. Dia bekerja sudah hampir 6 bulan sebagai editor, tapi sesekali merangkap videografer. Kerjanya dari Senin-Sabtu, dan dia mengambil libur di hari Minggu. Jarak antar rumahnya dengan tempat kerjanya hanya sekitar 100 meter.
Ketika saya tanya bagaimana rasanya kerja dekat dengan rumah, awalnya dia mengatakan enak-enak saja. Bensin lebih awet (uang bensin juga jadi nggak banyak), dan kalau butuh apa-apa tinggal pulang. Tapi, setelah itu dia malah mengatakan hal-hal yang nggak enak, di mana dia sering jadi sasaran kalau ada urusan mendadak.
“Seringnya pas aku libur, Mas,” ujarnya. “Aku liburnya hari Minggu, dan kalau tiba-tiba ada kunjungan mendadak dari orang penting, aku selalu dihubungi untuk bantuin take video. Padahal sudah ada videografer yang masuk. Bahkan, di bulan-bulan awal, karena bosku tahu rumahku dekat, aku sering disuruh ikut jaga kantor. Sebenarnya males, tapi waktu itu aku anak baru, jadi ya nurut-nurut aja. Kalau sekarang, sih, sudah nggak pernah,” lanjutnya.
Situasi ini bikin dia nggak nyaman. Hanya karena rumahnya dekat dengan kantor, dia jadi sering mendapatkan “tugas” yang sebenarnya bukan tugasnya, di luar jam kerjanya pula. Sialnya, dia kerap nggak dapat ceperan atau tambahan uang. Gajinya tetap segitu-gitu saja.
Sulit melepaskan diri dari urusan pekerjaan
Selain itu, punya rumah dekat kantor juga membuat tetangga saya ini seakan sulit melepaskan diri dari urusan kerjaan. Kedekatan fisik dan lokasi antara rumah dan kantor membuat urusan pekerjaan nggak hilang-hilang dari kepalanya. Bahkan, di hari Minggu saat dia libur, urusan kerjaan di kantor masih membayangkannya.
“Ini paling brengsek, sih, Mas. Bayangkan, Minggu aku itu libur. Kalau libur, aku penginnya ya rebahan, nggak ngapa-ngapain. Kalau bisa tidur seharian penuh. Tapi nggak bisa. Ya gimana, lha wong gerbang kantor kelihatan dari atas rumah. Aku bangun tidur kalo buka jendela kamar ya langsung menghadap ke kantor. Apalagi musik dari wahana-wahananya juga kedengaran dari kamar. Gimana nggak kepikiran kerjaan terus?” ujarnya.
Jujur ada rasa kasihan kalau mendengar ceritanya. Apalagi saya tahu kerjanya nggak mudah, tapi gajinya nggak besar. Tapi, dia juga nggak punya banyak pilihan lain. Dia bisa kerja di kantor yang sekarang saja sudah bersyukur banget, “Ditelateni ae wes.”
Nggak bisa meromantisasi jam pulang kerja kayak orang lain
Bagi sebagian orang, perjalanan pulang kerja bisa menjadi salah satu momen yang romantis. Kita bisa melakukan banyak hal di momen itu. Mau sendiri, atau bersama orang lain. Kita bisa pulang kerja dan melihat suasana kota di sore hari, mampir makan atau beli jajanan buat orang rumah, atau sekalian nongkrong dan ngopi. Sederhana, tapi romantis. Inilah yang sedari dulu ingin tetangga saya rasakan.
“Aku itu pengin kayak orang-orang, Mas,” ujarnya. “Aku pengin banget meromantisasi jam pulang kerja. Ya sesederhana menikmati perjalanan dari kantor ke rumah, melewati dan melihat banyak hal, bungkusin makanan untuk orang rumah. Sekarang ya nggak bisa, lha wong selemparan batu sudah sampai rumah. Yang aku lihat ya rumah tetangga lagi, rumah tetangga lagi,” lanjutnya.
Perasaan tetangga saya ini valid. Dia memang belum pernah merasakan romantisme pulang kerja. Dan, ketika mendengarnya, saya merasa kasihan sekaligus pengin tertawa sebab salah satu alasannya merasa nggak enaknya punya rumah dekat kantor adalah soal romantisme jam pulang kerja. Ada-ada saja.
Mau bagaimana juga, enak atau nggak enaknya punya rumah dekat kantor itu kembali ke persoalan selera. Meskipun saya sudah menulis panjang lebar pengalaman tetangga saya soal betapa nggak enaknya punya rumah dekat kantor, akan ada orang-orang di luar sana yang merasakan sebaliknya. Akan ada yang menganggap bahwa tinggal di dekat kantor itu malah enak banget. Nggak apa-apa, namanya juga selera. Nggak perlu diperdebatkan.
Akan tetapi, kalau misal saya ditanya mending mana, saya lebih memilih tinggal yang nggak dekat dengan kantor, sepertinya bakal lebih tenang dan lebih waras aja.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.