Dari 12 bulan yang ada di kalender masehi, Agustus mungkin jadi salah satu (kalau nggak satu-satunya) bulan paling sibuk bagi sebagian besar orang Indonesia. Di bulan Agustus, orang-orang seakan diharuskan untuk aktif dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan perayaan kemerdekaan. Mulai dari berbagai macam perlombaan, sampai kerja bakti mempercantik lingkungan sekitar. Di bulan Agustus, orang kota maupun desa sama-sama sibuk.
Akan tetapi, khusus bagi orang desa, sibuknya bulan Agustus ini nggak main-main. Orang-orang desa merasa bahwa di bulan Agustus, mereka harus punya (atau bahkan menyediakan) waktu untuk acara-acara agustusan di desa. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak muda punya agenda dan tanggung jawabnya masing-masing. Bahkan, mereka harus sudah mempersiapkan semua sebelum masuk bulan Agustus.
Sebagai orang yang hidup di lingkungan desa, saya sudah merasakan itu semua. Saya sudah merasakan bagaimana capeknya berkegiatan selama bulan Agustus. Selama 30 hari lebih, pikiran dan tenaga habis buat urusan di desa.
Kesibukan di bulan Agustus ini bikin saya, kawan-kawan di desa, dan orang-orang desa di luar sana merasa bingung dan kesulitan membagi waktu, pikiran, dan tenaga antara pekerjaan dan urusan desa.
Mempercantik lingkungan desa sejak sebelum bulan Agustus
Kesibukan bulan Agustus nggak benar-benar dimulai tanggal 1 Agustus. Beberapa hari sebelumnya, bahkan satu minggu sebelum masuk bulan Agustus, kami orang desa sudah mulai sibuk. Kami sudah mulai menggelar rapat-rapat untuk membahas acara dan kegiatan apa saja yang akan kami selenggarakan di bulan Agustus.
Kegiatan pertama tentunya mempercantik lingkungan desa. Ini hal yang wajib bagi orang desa. Untuk mempercantik lingkungan, kami memasang bendera dan umbul-umbul di sepanjang jalan. Lalu kami mengecat tiap gapura/pintu gang, juga menambah berbagai macam hiasan mulai dari lampu panjang warna-warni hingga lampion plastik.
Semua kegiatan ini biasanya dilakukan malam hari. Masalahnya, sebagian besar dari kami kerja dari pagi hingga sore. Malam yang harusnya bisa untuk istirahat, jadinya terpakai untuk kegiatan seperti ini. Tapi ya nggak apa-apa, toh, dua-tiga hari juga selesai.
Bikin rentetan acara agustusan yang menyita banyak waktu dan tenaga
Ketika masuk bulan Agustus, fokus warga desa makin banyak. Sebab ada banyak hal yang harus dilakukan. Anak-anak muda (karang taruna) tentunya harus mempersiapkan acara 17-an seperti lomba-lomba dan panggung gembira. Sementara ibu-ibu dan bapak-bapak harus mengurusi acara tirakatan di malam kemerdekaan: acaranya mau dibikin seperti apa, dan suguhannya mau apa saja.
Sekilas memang sederhana, tapi bagi saya yang pernah mengurusi itu semua, jelas menyita waktu dan tenaga. Untuk bikin lomba-lomba 17-an dan panggung gembira misalnya, saya dan kawan-kawan lain harus rapat berkali-kali untuk membahas keseluruhan acara. Lalu kami harus keliling cari sponsor, cari dana. Lalu kami harus belanja ini itu, sewa ini itu.
Di hari H, kami juga harus kerja ekstra buat memastikan acaranya berjalan lancar. Belum lagi ketika acara tirakatan, kami (anak-anak muda) juga harus membantu. Repot pokoknya.
Dulu ketika masih kuliah, mudah sekali buat saya untuk membagi waktu antara urusan kuliah dan kegiatan agustusan di desa. Bulan Agustus itu bulan libur semester. Jadi saya bisa total ikut kegiatan desa, mencurahkan semua waktu dan tenaga untuk acara Agustusan di desa.
Akan tetapi, sekarang ketika sudah kerja, saya nggak bisa total seperti dulu. Prioritas utama saya adalah pekerjaan. Sandang pangan saya ada di situ. Ya meskipun kegiatan desa juga nggak bisa ditinggalkan begitu saja.
Jalan tengahnya, saya baru bisa ngurusin acara agustusan di desa kalau sempat saja. Kalau lagi libur, atau kalau kerjaan lagi nggak banyak, baru saya ikut ngurusin acara Agustusan di desa. Untungnya tetangga-tetangga saya sudah paham, jadi aman.
Karnaval desa walaupun 2 tahun sekali, tapi tetap bikin repot
Kalau urusan mempercantik lingkungan dan rentetan acara 17-an sudah bikin repot dan pusing, kalian harus coba merasakan gimana repot dan pusingnya kalau ada acara karnaval desa di bulan Agustus. Di desa saya, karnaval desa (karnaval bersih desa) diselenggarakan 2 tahun sekali (di tahun genap), dan selalu di bulan Agustus.
Tanggal 5 Agustus 2026 kemarin, desa saya menggelar karnaval desa. Tiap dusun wajib ikut, terserah mau mengeluarkan berapa kontingen. Dan kebetulan anak-anak muda di dusun saya bikin kontingen sendiri dan punya barisan sendiri. Tapi saya nggak akan bahas gimana karnavalnya. Saya akan bahas gimana repotnya mempersiapkan karnavalnya.
Sejak pertengahan bulan Juni, grup WA pemuda desa sudah berisik. Mereka sudah sibuk membahas apa yang harus mereka tampilkan ketika karnaval. Rapat-rapat sudah digelar. Biaya patungan juga sudah disepakati. Makin dekat bulan Agustus, kami makin sibuk. Sound segera kami booking. Kostum dan segala keperluan logistik juga sudah kami siapkan.
Singkat cerita karnaval desanya berjalan sukses. Tapi, di balik kesuksesan itu, banyak orang berkorban. Ada yang rela ambil cuti kerja. Tidak sedikit pula yang menyempatkan kerja setengah hari, lalu sepulang kerja langsung ikut ngurusin karnaval. Ada yang bolos kerja juga sih. Tapi, tetap ada juga yang terpaksa (atau dengan senang hati) nggak ikut karnaval dan memilih tetap kerja. Dari sini kita bisa lihat bagaimana perbedaan cara orang-orang membagi waktu mereka.
Antara pekerjaan dan kegiatan agustusan
Bulan Agustus di desa memang akan sibuk. Apalagi menjelang 17-an, akan makin banyak kegiatan. Situasi ini memang akan bikin kita bingung dan kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan Agustusan di desa. Harus pintar-pintar mengatur waktu. Kalau orang desa pasti sudah hafal dengan siklus ini. Mereka tahu mana yang harus diutamakan, dan mana yang harus tetap dijaga dan dipertahankan.
Beginilah hidup di desa. Kalau ketemu momen seperti ini, memang akan susah membagi waktunya, dan akan capek menjalaninya. Tapi ya nggak apa-apa, dijalani saja. Harus kuat, harus terbiasa. Ini bisa jadi modal sosial. Toh, cuma setahun sekali, kok.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













