Jangan lupakan faktor pemiliki kos ketika mencari kos-kosan nyaman.
Diterima kuliah rasanya memang luar biasa, apalagi kalau bisa masuk ke kampus yang diidam-idamkan. Rasanya, masa-masa paling keren dalam hidup akan segera dimulai. Bayangan diri sedang mengenakan jaket almamater sambil menelusuri sudut-sudut kampus pun langsung terbayang di pelupuk mata.
Akan tetapi, sabar. Semua ada prosesnya. Sebelum membayangkan diri bergaya dengan jaket almamater, ada hal lain yang terlebih dahulu harus dipikirkan, yaitu mencari kosan.
Jangan dikira mencari kosan itu semudah membalikkan telapak tangan. Memang, sih, dengan perkembangan teknologi yang ada, informasi kosan bisa didapat hanya dengan ujung jari.
Cuma, tolong diingat baik-baik, jangan pernah memilih kosan semata-mata berdasarkan faktor lokasi. Punya kamar yang jaraknya sepelemparan batu dari gerbang kampus sama sekali tidak menjamin hidupmu bebas dari drama. Jauh yang lebih penting adalah, carilah kosan yang pemilik kosnya berhati baik, minimal tidak problematik.
Tak tercantum di iklan kos
Sayangnya, informasi soal karakter pemilik kos tidak pernah dicantumkan di iklan kosan.
Sampai detik ini belum pernah saya menemukan iklan kosan dengan kalimat begini “dicari anak kos untuk dirawat seperti anak sendiri oleh pemilik yang super sabar”. Umumnya, informasi yang ditampilkan pada iklan kosan hanya tentang lokasi, ukuran kamar, dan fasilitas.
Dan, ini tantangan terbesarnya. Bagaimana kita bisa mengetahui karakter pemilik kos yang sesungguhnya supaya tidak berujung pada nestapa. Yang jelas, jangan pernah terkecoh dengan kesan pertama. Pemilik kos yang paling menyebalkan sekalipun pasti akan memasang topeng termanis saat kosannya disurvey. Tujuannya, demi memastikan kamar cepat terisi.
Maka dari itu, solusi paling aman menghindari jebakan Batman ini adalah dengan tidak langsung mengambil kontrak jangka panjang. Mending, coba saja dulu ngekos 3 bulan di sana. Kalau ternyata situasinya tidak beres dan pemiliknya mulai menunjukkan tanda-tanda toxic, tinggal angkat kaki.
Pemilik kos tidak problematik adalah kunci
Berdasarkan pengalaman beberapa orang yang pernah merasakan jadi anak kos, punya ibu kos yang baik itu rasanya seperti dapat lotere. Ibarat kata, 30% persen masalah hidupmu, sudah ketemu solusinya. Lumayan bisa ngurang-ngurangin momen nangis di kosan.
Adik saya, termasuk orang yang beruntung bisa ketemu dengan pemilik kosan yang baik hati. Beberapa kali kiriman uang untuk bayar kos terlambat dikirim. Tapi, pemilik kosan tidak mempermasalahkannya. Bahkan tiap kali beliau punya banyak makanan di rumah, adik saya sering dibagi. Kalau sehari tidak kelihatan, pas ketemu pasti akan ditanya kabarnya. Dia khawatir adik saya sakit. Sebaik itu memang orangnya.
Kelihatannya sih sepele, tapi sungguh, pemilik kosan yang baik hati adalah penyelamat kewarasan mahasiswa yang hati mungilnya masih sering rindu akan rumah. Perhatian tulus dan kebaikan kecil yang mereka berikan membuat tanah rantau yang asing perlahan terasa seperti rumah sendiri.
Ada banyak drama di kosan
Kebaikan hati pemilik kosan bukan semata soal seberapa longgar mereka memberikan toleransi finansial ataupun seberapa sering mereka membagikan bonus logistik. Lebih dari itu, pemilik kos yang baik juga akan membuat hari-harimu di kosan jadi terbebas dari drama yang kerap menguras emosi.
Bayangkan betapa kacaunya hari-hari seorang mahasiswa jika punya pemilik kos yang cuek bebek ketika dilapori soal lampu yang kriyep-kriyep, genteng bocor, dan air yang ngicir. Bilangnya sih mau dibenerin. Namun, sampai hari berganti minggu, belum digarap juga.
Bukan hanya slow respon soal aduan fasilitas saja. Ketika mendapat aduan soal perilaku penghuni kosan lain yang tidak wajar pun dia diem-diem bae. Bukannya turun tangan jadi penengah, malah pura-pura nggak tahu. Yang penting baginya, setoran bulanan aman.
Hal lain seperti ada penghuni kosan yang hobi muter musik kencang sampai larut malam, sering ketahuan ambil makanan penghuni lain di kulkas, bahkan membawa temannya yang berbeda jenis nginep di kosan, dia tidak peduli.
Coba, kalau nemu pemilik kosan yang modelan begitu itu. Apa nggak senewen jadinya?
Hubungan baik terus terjalin
Itu sebabnya, daripada fokus mencari kosan yang lokasinya dekat kampus, jauh lebih bijak untuk menimbang dari sisi karakteristik pemilik kosan. Perkara jarak yang sedikit lebih jauh dari kampus, itu bukan masalah. Kan bisa naik motor atau transportasi umum. Yang penting, ketika selesai kuliah dan pulang ke kosan, kamu benar-benar bisa beristirahat dengan tenang. Jangan sampai di kampus badan sudah remuk dihajar PPT dosen, ehhh, sampai kosan masih harus menghadapi polah pemilik kos yang diluar nalar.
Banyak loh kisah anak kosan yang tetap akrab dan menjaga hubungan baik dengan pemiliknya meski sudah lama lulus. Bahkan, sampai ada yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Kedekatan yang istimewa seperti itu tentu mustahil terjadi jika si pemilik kos punya karakter yang menyebalkan.
Semoga, kamu yang saat ini sedang berjuang mencari kosan bisa dapat pemilik kos yang berhati malaikat, ya. Semangat!
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













