Buat orang kelas bawah seperti saya, punya uang Rp100 miliar itu rasanya nggak nyata. Bisa punya uang Rp100 miliar itu rasanya kayak nggak akan mungkin. Jangankan punya uangnya beneran, mimpi punya uang Rp100 miliar saja sudah terdengar berlebihan. Mimpi di siang bolong kalau kata orang-orang.
Makanya, orang-orang kelas bawah seperti saya pasti akan bingung kalau misalnya tiba-tiba dapat uang Rp100 miliar. Selain bingung gimana bentuknya dan gimana cara menyimpannya, kami mungkin juga akan bingung gimana mengelolanya. Uang sebanyak itu mau diapain, gitu, lah, sederhananya.
Akan tetapi, saya sudah punya bayangan, kalau misalnya suatu saat saya dapat uang Rp100 miliar (aamiin, ya Allah), saya akan pakai untuk modal usaha. Saya sudah membayangkan beberapa usaha yang akan saya bikin dengan uang itu. Saya akan bikin usaha kue buat itu, saya juga akan bikin usaha laundry rumahan, dan saya akan buka toko buku.
Rp100 miliar untuk membangun bisnis kue untuk ibu
Selama satu dekade terakhir, Ibu saya membuka semacam bisnis kue (kering dan basah). Kecil-kecilan saja, dan belum sampai punya toko. Ibu baru bikin kue kalau ada pesanan. Pesanannya pun tidak dalam jumlah besar. Kecil-kecil saja. Paling untuk acara pengajian, acara ibu-ibu PKK, atau untuk pesanan perorangan.
Saya punya cita-cita mengembangkan usaha itu. Nggak harus besar-besar, sih, yang penting sampai punya toko dan usahanya legitimate gitu. Nah, kalau misal saya dapat uang Rp100 miliar, saya mau mewujudkan cita-cita itu. Saya mau besarkan bisnis kue yang sudah ibu jalani selama ini. Sekalian saya mau bikinkan ibu toko kue kecil-kecilan aja di depan rumah.
Lalu kalau dihitung-hitung, mulai dari modal bahan produksi, beli peralatan baru untuk bikin kue (mixer, oven, dsb), peralatan lain seperti etalase, meja, lalu buat beli bahan-bahan, uang Rp100 juta kayaknya sudah cukup, deh. Itu pun kayaknya masih sisa. Nanti sisa modalnya bisa buat operasional di bulan-bulan awal, termasuk buat gaji beberapa karyawan. Oke, kan?
Laundry kiloan jadi peluang menarik di daerah saya
Selama 28 tahun saya hidup, jarang sekali saya temui ada usaha laundry kiloan di daerah saya. Daerah saya memang bukan pusat kota, dan mayoritas masyarakatnya bukan kelas atas. Namun, bukan berarti usaha laundry kiloan ini nggak punya peluang. Saya percaya bahwa akan ada cukup banyak orang yang terbantu jika saya buka usaha laundry kiloan.
Rencananya, saya akan sewa rumah kosong di sebelah kiri rumah untuk tempat usaha laundry. Saya tinggal percantik tempatnya, lalu beli kelengkapan usahanya seperti beberapa mesin cuci, pengering, setrika uap, meja setrika, timbangan, dan printilan-printilan yang lain. Pokoknya beli peralatan yang bagus sekalian, lah.
Kalau dihitung kasar, untuk sewa dan renovasi tempat, beli semua peralatan, biaya listrik dan gaji karyawan di 1-2 bulan pertama, uang Rp50-80 juta sepertinya cukup, lah. Kalaupun kurang, digenapi saja jadi Rp100 juta untuk modal awal. Pasti cukup itu. Lha wong cuma buat laundry kiloan rumahan, kok. Nggak yang besar-besar.
Cita-cita lama saya untuk punya toko buku
Kalau usaha kue untuk Ibu dan usaha laundry kiloan untuk perputaran uang yang lebih enak, maka saya ambil jalan lain sesuai apa yang sudah lama saya cita-citakan. Ini jalan yang lebih nekat, jalan yang kata orang susah buat dapat cuan. Iya, sebagian duit Rp100 miliar akan saya pakai untuk buka toko buku yang nggak hanya jualan buku baru, tapi juga buku bekas.
Punya toko buku itu adalah cita-cita saya sejak lama. Saya itu pengin banget tempat yang selain jadi tempat jualan buku, bisa jadi tempat ngumpul, tempat diskusi. Ya kayak Buku Akik, Berdikari Book, atau yang skalanya agak lebih kecil kayak Akal Buku dan TB. Bebasari.
Soal tempat, saya sudah punya pegangan. Saya akan buka di kedai kopi milik sahabat saya. Kedai kopinya baru saja renovasi, dan punya satu space ukuran 5×3 meter yang belum terisi, belum tahu mau dibuat apa. Saya mau pakai space itu, dan sahabat saya pasti mengiyakan.
Soal modal, saya sudah ada hitungan kasar. Soal sewa, saya pasti dapat harga sangat miring. Lalu saya tinggal cari koneksi ke penerbit atau toko buku besar sebagai supplier buku baru. Untuk buku bekas, saya sudah punya orang yang siap menyalurkan. Lalu saya tinggal beli rak-rak buku, dan perlengkapan toko yang lain.
Modal uang Rp50 juta cukup, nggak? Atau genapin saja jadi Rp100 juta, sekalian untuk modal operasional awal. Dan. kalaupun nggak cukup, ya tinggal ditambah lagi, lha wong saya masih punya bermiliar-miliar rupiah, kok.
Itulah tiga usaha yang akan saya bikin kalau saya tiba-tiba punya uang Rp100 miliar. Dari tiga usaha itu, saya hanya menghabiskan Rp300 jutaan. Sisa uang saya masih punya 99,7 miliar. Rencananya, uang Rp700 juta akan saya alokasikan sebagai semacam safety net ketiga usaha saya. Sisa Rp99 miliar, ya buat foya-foya sedikit (dan sebentar), lalu sisanya buat hidup, hehe.
Gimana? Jelek, kan, pengaturan keuangan saya? Hehehehe. Selain jelek, saya juga seperti orang gila habis nulis ini. Uang Rp100 miliar lho, dapat dari mana? Rp100 miliar iki duit gambar opo? kalau kata orang Jawa.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













