Honda Vario 150 keyless terlalu canggih untuk saya.
Saya merantau ke Jakarta dari Gunungkidul pada 2019. Untuk saya yang sebelumnya hanya pekerja outsourcing di Jogja, mendapatkan pekerjaan tetap di Jakarta terasa seperti keberuntungan besar.
Jujur saja, waktu itu saya merasa hidup sudah naik level. Saya tahu, tidak semua orang yang datang merantau ke Jakarta langsung dapat pekerjaan. Bahkan ada juga yang datang tanpa tahu nanti mau tinggal di mana atau kerja apa. Sementara saya? Baru datang sudah diterima sebagai karyawan tetap.
Buat anak kampung seperti saya, itu sudah terasa luar biasa. Waktu itu saya masuk ke sebuah divisi baru di kantor. Karena masih baru, jumlah orangnya juga sangat sedikit. Satu divisi cuma berisi empat orang: satu bos, satu admin, satu trainer, dan saya sendiri.
Karena orangnya sedikit dan semuanya masih serba dibangun dari nol, suasana kerja kami jadi cukup dekat. Rasanya lebih seperti kelompok kecil yang sedang sama-sama belajar bertahan hidup di Jakarta dibanding hubungan formal antara atasan dan bawahan.
Dan jujur, saya senang dengan suasana itu. Sampai akhirnya datang satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat jelas.
Hari itu saya dan bos harus pergi ke tempat customer untuk suatu urusan pekerjaan. Karena lokasi cukup jauh dan waktunya mepet, bos saya bilang lebih efektif kalau kami naik motor saja daripada pesan transportasi online.
Kebetulan hari itu dia membawa motor. “Naik motor aja biar cepat,” katanya santai.
Sebagai bawahan yang masih baru dan sedang rajin-rajinnya, tentu saya langsung menawarkan diri untuk menyetir. Nggak mungkin juga bos saya yang boncengin saya.
Bos saya sempat ragu. “Kamu bisa naik motor?” tanyanya.
Pertanyaan itu sebenarnya cukup menusuk harga diri saya sebagai orang Gunungkidul. Di kampung, motor itu sudah seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya bahkan sudah punya Honda Vario 150 sendiri waktu itu.
Jadi dengan penuh percaya diri saya jawab, “Bisa, Mas.” Kami lalu turun ke parkiran. Dan, di situlah awal kehancuran mental saya dimulai. Motor bos saya ternyata Honda Vario 150 keyless.
Takut dianggap norak karena tidak tahu cara menyalakan Honda Vario 150 keyless
Awalnya saya masih santai. Dalam pikiran saya, “Ah, Vario juga ini. Paling sama.” Namun, begitu naik ke motor, saya mulai bingung. Lubang kuncinya mana?
Saya menoleh pelan ke bagian depan motor. Tidak ada lubang kunci seperti motor biasa. Saya mulai panik sedikit. Sementara itu, bos saya sudah duduk manis di belakang dan terlihat siap berangkat.
Beliau lalu menyerahkan sebuah benda kecil yang ternyata remot keyless. Saya makin bingung.
Jujur saja, waktu itu saya hampir tidak pernah melihat motor keyless secara langsung. Bahkan, mungkin saya baru pertama kali memegang remot motor seperti itu.
Akan tetapi, karena gengsi, saya tetap pura-pura tenang. Saya coba tekan-tekan bagian kenopnya. Tidak bisa. Saya putar sedikit. Tetap tidak bisa. Saya pencet tombol di remotnya.
Masih tidak menyala juga. Dan, semakin lama, badan saya mulai panas dingin.
Saya sampai bisa melihat muka sendiri yang mulai merah dari pantulan spion motor. Keringat mulai keluar padahal parkiran waktu itu sebenarnya tidak terlalu panas.
Untung punya bos sabar dan pengertian
Bos saya masih diam di belakang. Nah, tekanan mentalnya di situ. Saya mulai pura-pura ketawa kecil agar suasana tidak terlalu canggung. Padahal dalam hati saya sudah panik luar biasa.
Bayangkan saja. Saya sudah sok percaya diri menawarkan diri menyetir Hondar Vario ini, tapi ternyata tidak tahu cara menjalankannya.
Setelah mencoba beberapa kali dan tetap gagal, akhirnya saya menyerah. Dengan suara pelan dan sedikit malu saya bertanya, “Mas… ini nyalainnya gimana?”
Bos saya langsung menjelaskan dengan santai, “Oh ini, tinggal diputer aja kenopnya. Yang penting remotnya dekat.” Ternyata sesederhana itu.
Model Honda Vario yang saya kendarai ini memang berbeda dari motor biasa. Kenop keyless itu tinggal diputar seperti kompor gas selama remotnya ada di dekat motor.
Dan, saat itu juga saya langsung merasa sangat kampung.
Bos saya sepertinya ingin tertawa, saya bisa melihat itu dari ekspresinya. Tapi, hebatnya, dia benar-benar menahan diri. Dia tidak mengejek saya sama sekali. Tidak ada nada merendahkan. Tidak ada kalimat yang bikin malu.
Dia malah ngajarin pelan-pelan sambil tetap santai. Jujur, di situ saya lega sekaligus malu setengah mati.
Motor akhirnya berhasil menyala dan perjalanan ke tempat customer berjalan lancar. Tapi walaupun motor sudah hidup, rasa grogi saya ternyata belum hilang.
Saya masih tegang di jalan. Tegang karena malu. Tegang karena bawa bos.
Dan, mungkin juga karena sudah cukup lama tidak rutin naik motor selama merantau di Jakarta. Untungnya, sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol. Lama-lama saya mulai santai sendiri dan rasa panik itu perlahan hilang.
Setelah urusan selesai, kami kembali ke kantor seperti biasa. Tidak ada pembahasan lagi soal kejadian memalukan tadi.
Orang-orang Jakarta tidak menakutkan seperti yang dikira
Entah kenapa, pengalaman tidak bisa menyalakan Honda Vario 150 keyless itu justru sangat membekas buat saya. Karena dari kejadian sesederhana tidak bisa menyalakan motor keyless, saya belajar satu hal penting.
Ternyata tidak semua hal yang saya takutkan benar-benar terjadi.
Waktu awal merantau ke Jakarta, jujur saya punya banyak prasangka buruk. Saya pikir orang-orang di kota besar akan suka meremehkan orang kampung. Saya kira kalau saya bertanya sesuatu yang bodoh, saya akan ditertawakan.
Ternyata tidak begitu. Bos saya yang awalnya saya kira bakal meledek habis-habisan justru membantu saya dengan santai dan tetap menghargai saya. Dan, dari situ saya mulai sadar bahwa tidak semua orang sejahat yang ada di pikiran kita.
Kadang kalau memang tidak tahu, ya bertanya saja. Karena malu sesaat jauh lebih baik daripada pura-pura tahu tapi malah makin memalukan. Dan, anehnya, pelajaran itu justru saya dapatkan dari Honda Vario 150 keyless milik bos saya.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Honda Vario 150 LED Old, motor yang semakin tua justru semakin diburu, motor Honda terbaik!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













