Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sekali Naik Angkot Bekasi, Saya Paham Kenapa Orang Jakarta Lebih Pilih Motor

Andry Setyawan oleh Andry Setyawan
12 Juni 2026
A A
Angkot Bekasi Bikin Kapok, Udah Bener Naik Motor Aja (Unsplash)

Angkot Bekasi Bikin Kapok, Udah Bener Naik Motor Aja (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pernah naik angkot berwarna oranye dari Stasiun Bekasi menuju Jatiasih. Dan sejujurnya, itu adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir saya naik angkot di Jakarta.

Bukan karena tidak menarik. Justru sebaliknya, pengalaman itu terlalu membekas dalam arti yang cukup “panas”.

ADVERTISEMENT

Tahun 2019 adalah pertama kalinya saya merantau ke Jakarta. Tepatnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Saya datang dari Gunungkidul, Yogyakarta, dengan modal nekat dan satu kartu e-money yang saya beli di Indomaret. Itu saja bekal transportasi saya waktu itu.

Tidak punya motor, tidak punya kendaraan pribadi. Semua aktivitas saya bergantung pada transportasi umum. Mulai dari jalan kaki, naik ojek online sesekali, sampai KRL yang perlahan mulai terasa familiar.

Beruntung, saya punya kakak yang tinggal di Bekasi. Jaraknya memang tidak dekat, tapi setidaknya keberadaan kakak saya jadi alasan orang tua mengizinkan saya merantau sejauh ini. Ada perasaan “masih ada keluarga” di kota yang asing ini.

BACA JUGA: 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Tinggal di Bekasi yang Isinya Cuma Masalah: Apalagi untuk Orang Tanpa Mental Bertarung

Pengalaman pakai kendaraan umum dari Jakarta ke Bekasi

Dua minggu setelah pindah ke Jakarta, saya memutuskan untuk mengunjungi kakak saya di Bekasi. Saya sudah mendapat alamat lengkap dan share location. Secara teori, perjalanan ini seharusnya mudah. Dan memang, awalnya terasa mudah.

Saya naik KRL menuju Bekasi tanpa kendala berarti. Keretanya ramai, tapi masih bisa ditoleransi. Bahkan, saya sempat merasa ini tidak jauh berbeda dengan bayangan saya tentang kehidupan di kota besar, cepat, padat, tapi teratur. 

Baca Juga:

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Masalah baru muncul setelah saya turun di Stasiun Bekasi. Di situlah saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang selama ini hanya saya lihat di televisi: angkot.

Jujur saja, ada rasa penasaran. Selama ini, angkot buat saya cuma kendaraan yang sering muncul di sinetron. Kadang jadi latar cerita, kadang jadi bahan candaan. Tapi saya belum pernah benar-benar mengalaminya sendiri.

Dan hari itu, saya pikir, kenapa tidak mencoba?

Naik angkot di Bekasi untuk kali pertama

Saya naik angkot jurusan 02 menuju Jatiasih, Bekasi. Dari luar, tampilannya sesuai ekspektasi atau bahkan sedikit lebih “jujur”. Cat oranye yang mulai pudar, beberapa bagian berkarat, dan bentuk yang terlihat lelah dimakan usia.

ADVERTISEMENT

Saya sempat ragu sejenak sebelum naik. Tapi karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya masuk juga. Dan di situlah saya langsung sadar. Ini akan jadi pengalaman yang berbeda.

Masuk ke dalam angkot di Bekasi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Bukan karena penuh, tapi karena ruangnya sempit dan rendah. Saya harus sedikit menunduk dan berhati-hati agar tidak membentur bagian atas.

Begitu duduk, saya langsung merasakan hawa panas Bekasi yang cukup menyengat. Tidak ada AC. Yang ada hanya jendela yang sengaja dibuka lebar atau mungkin sudah rusak sejak lama sebagai satu-satunya sumber udara. Tapi alih-alih sejuk, angin yang masuk justru terasa hangat.

Kursinya empuk, tapi jelas sudah berumur. Ada bekas pemakaian di sana-sini, yang justru membuatnya terasa lebih “jujur” sebagai kendaraan harian masyarakat Bekasi.

Menderita di dalam angkot Bekasi

Ada ibu-ibu yang tampaknya baru selesai olahraga. Lalu, anak-anak yang ingin jalan-jalan juga ada. Perempuan yang membawa belanjaan ada banyak. Ada juga bapak-bapak tua yang terlihat sangat santai. Seolah ini adalah rutinitas yang sudah mereka jalani bertahun-tahun.

Sementara saya? Duduk di pojok, berkeringat.

Dan bukan keringat biasa. Keringat yang mengalir tanpa henti, bahkan saat angkot sedang berjalan. Baju mulai terasa lengket, dan saya mulai tidak nyaman dengan kondisi sendiri. Saya sempat berpikir, mungkin orang di sebelah saya sadar kalau saya tidak terbiasa. 

Perjalanan terasa lama. Bukan karena jaraknya sangat jauh, tapi karena ritmenya yang tidak menentu. Angkot ini bisa berhenti kapan saja untuk menunggu penumpang, menurunkan orang, atau sekadar melambat tanpa alasan yang jelas bagi saya yang belum terbiasa.

Sekitar 45 menit saya berada di dalam angkot itu. Dan selama itu juga, saya belajar satu hal yang menurut saya cukup menarik, yaitu cara orang turun dari angkot.

Tidak ada halte resmi. Tidak ada tombol seperti di bus. Yang ada hanyalah jentikan jari ke langit-langit angkot, diikuti dengan kalimat sederhana: “Bang, kiri bang.”

Awalnya saya sempat bingung. Tapi lama-lama, saya mulai mengerti ritmenya. Dan ketika giliran saya turun, saya melakukan hal yang sama.

“Bang, kiri bang.” Sederhana, tapi terasa seperti bagian dari budaya kecil yang unik.

Pengalaman yang membekas

Saya turun, membayar sekitar delapan ribu rupiah, dan langsung menghirup udara Bekasi dengan lega. Aneh memang, karena udara luar juga tidak sejuk-sejuk amat. Tapi dibandingkan dengan di dalam angkot, rasanya jauh lebih nyaman.

Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi naik angkot di Bekasi. Bukan karena saya meremehkannya. Tapi lebih karena saya sadar, saya punya pilihan lain yang lebih sesuai dengan kenyamanan saya. Namun, pengalaman itu tetap membekas.

Karena di balik panas, sempit, dan ketidaknyamanan itu, saya melihat sesuatu yang tidak saya dapatkan di transportasi lain. Angkot itu sederhana, tapi fleksibel. Ia bisa menjangkau tempat-tempat yang tidak dilewati KRL atau TransJakarta. Ia berhenti di mana dibutuhkan, bukan hanya di titik yang sudah ditentukan.

Dan mungkin, di situlah letak perannya yang tidak tergantikan. Di sisi lain, pengalaman itu juga membuat saya memahami kenapa banyak orang di Jakarta akhirnya memilih motor pribadi.

BACA JUGA: Pengalaman Naik di Atap Angkot yang Bikin Kekerenan Saya Meningkat dan Menjadi Pengalaman yang Mengesankan

Di Jakarta, pilih pakai motor

Bukan sekadar soal gaya. Memakai motor di Jakarta dan Bekasi itu soal efisiensi, kenyamanan, dan kontrol. Motor memberi kebebasan. Tidak perlu menunggu, tidak perlu berdesakan, dan yang paling penting tidak perlu kepanasan seperti di dalam angkot.

Dan setelah merasakan sendiri bagaimana rasanya duduk selama hampir satu jam dengan keringat yang tidak berhenti, saya bisa memahami pilihan itu. Bukan karena angkot buruk. Tapi karena setiap orang punya batas kenyamanan yang berbeda.

Dan saya, sepertinya sudah menemukan batas itu di dalam angkot oranye nomor 02, di siang hari yang panas di Bekasi.

Penulis: Andry Setyawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Planet Bekasi, Kota Satelit Penyangga Jakarta, tapi Sistem Transportasi Umumnya Begitu Kacau

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Juni 2026 oleh

Tags: Angkotangkot bekasiangkot jakartabekasiJakarta
Andry Setyawan

Andry Setyawan

Seorang profesional di bidang Quality Assurance dengan pengalaman di fintech, e-commerce, dan perbankan. Tertarik menulis tentang keresahan dunia kerja dan dinamika kehidupan sehari-hari.

ArtikelTerkait

Petisi Kembalikan WFH, Bukti Nyata Warga Lelah dengan Drama Ibu Kota Terminal Mojok

Petisi Kembalikan WFH, Bukti Nyata Warga Lelah dengan Drama Ibu Kota

8 Januari 2023
Karawang Kota Pendatang Butuh Transportasi Publik yang Mumpuni Mojok.co

Karawang, Kota Pendatang yang Butuh Transportasi Publik Mumpuni

17 Januari 2024
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

25 Mei 2026
Kota Malang Hari Ini: Problem Kemacetan dan Tamu-tamu Peradaban angkot surabaya

Angkot Bukan Solusi Kemacetan Malang, Bikin Tambah Macet sih Iya

31 Januari 2023
Jakarta Nggak Ada Keras-kerasnya Buat Orang Cikarang (Unsplash)

Buat Orang Cikarang, Jakarta Itu Nggak ada Keras-kerasnya karena Gaya Hidup Pekerjanya Saja yang Bikin Ogah Kerja di Sana

27 November 2023
Sedap Malam Ciputat Dibenci Sekaligus Dicintai Penghuninya (Unsplash)

Sedap Malam Ciputat: Dibenci Sekaligus Dicintai Penghuninya

20 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
Pengalaman 6 jam mampir ke IKN, saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya Mojok.co

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya

14 Agustus 2026
Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar Terminal

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar

14 Agustus 2026
Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja Mojok.co

Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja

13 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.