Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

Oni Tarsani oleh Oni Tarsani
8 Juni 2026
A A
Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu biaya wisuda, malang, kampus di malang

Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah wisuda yang suasananya tidak kalah meriah dari wisuda sarjana. Ada fotografer, sesi foto keluarga, dan orang tua yang sibuk mengangkat ponsel. Saya sempat mengira sedang menghadiri wisuda sarjana. Ternyata yang mengenakan toga adalah anak-anak TK.

Pemandangan seperti itu kini bukan hal yang aneh. Anak TK, SD, SMP, hingga siswa SMA wisuda. Bahkan lembaga nonformal seperti pesantren atau kursus tertentu juga memiliki seremoni yang mirip. Toga yang dulu terasa eksklusif bagi mahasiswa tingkat akhir kini hadir hampir di setiap jenjang pendidikan.

Saya tidak sedang mempermasalahkan hal itu. Setiap tahap pendidikan memang layak diapresiasi. Orang tua tentu bangga melihat anak-anak mereka berhasil menyelesaikan satu fase belajar. Namun dari berbagai wisuda yang pernah saya hadiri, mulai dari TK, SD, SMA, sarjana, magister, doktor, hingga pesantren, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.

Mengapa kita begitu bersemangat merayakan akhir sebuah proses, tetapi tidak selalu antusias mendampingi proses itu sendiri?

Ketika wisuda menjadi sebuah momen

Yang menarik, hampir semua wisuda memiliki pola yang sama. Yang dirayakan bukan sekadar kelulusan, melainkan momen, kebanggaan, pengakuan, dan kenangan.

Saya juga sering mendengar keluhan orang tua mengenai biaya wisuda yang tidak sedikit. Ada yang harus membayar sewa gedung, membeli pakaian khusus, hingga biaya dokumentasi profesional. Namun banyak yang tetap menjalaninya dengan senang hati.

Alasannya sederhana: mereka tidak ingin kehilangan momen.

Saya bisa memahami hal itu. Masa kecil anak berlangsung sangat cepat. Hari ini mereka baru belajar membaca, beberapa tahun kemudian mereka sudah tumbuh dengan dunia dan kesibukannya sendiri. Wisuda menjadi semacam penanda bahwa satu fase telah berlalu dan layak dikenang.

Baca Juga:

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

Tidak mengherankan jika banyak orang tua rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan biaya demi sebuah acara yang hanya berlangsung beberapa jam.

BACA JUGA: Wisuda Hanya Sebuah Seremoni, Rayakan Secukupnya Tak Perlu Berlebihan

Yang dirayakan sebenarnya siapa?

Meski begitu, ada satu hal yang sering membuat saya tersenyum sekaligus berpikir.

Saya pernah melihat orang tua lebih antusias menghadiri wisuda TK daripada menghadiri rapat orang tua murid selama setahun penuh.

Saat rapat sekolah, tidak semua kursi terisi. Ketika ada kegiatan belajar atau pertemuan rutin, sebagian orang tua berhalangan hadir karena berbagai alasan. Namun ketika wisuda tiba, hampir semua datang dengan pakaian terbaik dan semangat yang berbeda.

Yang lebih menarik lagi, sebagian anak TK tampak lebih sibuk memainkan toga daripada memahami alasan mereka dipanggil ke atas panggung. Yang benar-benar memahami makna seremoni itu justru para orang dewasa yang duduk di belakang mereka.

Di situlah saya menyadari bahwa wisuda bukan hanya perayaan milik anak-anak. Wisuda juga menjadi perayaan bagi orang tua. Ada rasa syukur, kebanggaan, dan kepuasan karena telah berhasil mendampingi anak melewati satu tahap kehidupan.

Barangkali karena itulah wisuda semakin penting dari tahun ke tahun.

Jangan sampai prosesnya terlupakan

Saya tidak menolak wisuda di jenjang TK maupun SD. Saya juga tidak berpikir bahwa setiap perayaan harus dihapuskan atas nama kesederhanaan. Yang saya khawatirkan justru hal lain. Jangan sampai kita lebih sibuk merayakan garis finis daripada menemani perjalanan panjang menuju ke sana.

Sebab yang paling membentuk anak bukanlah beberapa menit ketika namanya dipanggil ke atas panggung. Bukan pula toga yang dikenakan atau foto yang diunggah setelah acara selesai. Yang paling membentuk mereka adalah hari-hari biasa yang sering luput dari perhatian: saat belajar membaca, mengerjakan tugas, menghadapi kesulitan, berteman, dan perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

Jika dulu wisuda adalah milik sarjana, sekarang wisuda adalah milik siapa saja yang berhasil menuntaskan satu tahap perjalanan belajar. Itu tidak masalah.

Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kemeriahan perayaannya lebih besar daripada perhatian kita terhadap proses belajar yang berlangsung setiap hari.

Sebab pada akhirnya, yang paling menentukan masa depan anak bukanlah toga yang dikenakan sehari, melainkan proses belajar yang dijalani sepanjang perjalanan mereka.

Penulis: Oni Tarsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebagai Guru, Saya Sepakat dengan Dedi Mulyadi, Wisuda Sekolah Dihapus Saja, Ribet dan Banyak Masalah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: sarjanatogawisudawisuda sekolah
Oni Tarsani

Oni Tarsani

Dosen dan penulis lepas yang tertarik pada isu pendidikan, keluarga, dan budaya belajar. Beberapa tulisannya terbit di media daring. Percaya bahwa ide tulisan bisa datang dari ruang kelas, grup WhatsApp, maupun obrolan warung kopi.

ArtikelTerkait

sarjana

Emang Kenapa Sih Kalau Sarjana Jadi Ibu Rumah Tangga?

21 Oktober 2019
driver ojol

Curhatan Seorang Sarjana yang Melamar dan Bekerja Sebagai Driver Ojol

29 Juli 2019
Budaya Memanggil Gelar itu Sudah Final, Prof. Ariel Heryanto! terminal mojok.co

Catatan Anak Desa yang Pulang ke Rumah Selepas Sarjana

29 November 2019
Wisuda TK Tradisi Paling Nggak Penting dan Buang Duit, Lebih Baik Dihapus Aja Mojok.co wisuda sekolah

Wisuda TK Tradisi Paling Nggak Penting dan Buang Duit, Lebih Baik Dihapus Aja

17 Desember 2023
Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga terminal mojok.co

Pada Akhirnya Mau Kuliah di Mana pun, Jurusan Apa pun, Habis Lulus, Semua Bisa Nelangsa

15 April 2020
4 Perbedaan Kuliah Jenjang D4 dan S1 yang Perlu Dipahami biar Nggak Salah Pilih

4 Perbedaan Kuliah Jenjang D4 dan S1 yang Perlu Dipahami biar Nggak Salah Pilih

16 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.