Ini pengalaman pribadi ketika menjadi seorang guru di salah satu sekolah elit swasta HS di Pekanbaru. Dari luar, sekolah swasta ini tampak bagus, islami, dan elite. Di balik itu, sekolah elite ini menyimpan kenyataan yang menyakitkan bagi tenaga pengajarnya.
Bayangkan saja, uang masuk untuk siswa baru di sekolah ini berkisar antara Rp13-15 juta rupiah, dengan biaya SPP bulanan sebesar Rp1-1,5 juta. Dengan perputaran uang yang fantastis tersebut, kalian mungkin membayangkan gurunya makmur dan sejahtera.
Kenyataannya? Sangat memprihatinkan. Gaji guru di sini berkisar antara Rp750.000-Rp3 juta per bulan. Dengan rata-rata pendapatan riil berada di angka Rp1,5 juta. Sebuah nominal yang memilukan.
Di era sekarang, angka segitu cuma habis untuk urusan isi bensin dan makan siang ala kadarnya. Upah yang mereka berikan jelas berada jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Pekanbaru yang seharusnya menjadi standar kelayakan hidup pekerja.
Ironisnya, pada awal wawancara, pemilik sekolah elit yang merangkap sebagai HRD itu menjanjikan bahwa gaji Rp1,5 juta itu hanya untuk masa training di bulan pertama. Katanya, setelah itu gaji akan disesuaikan ke angka Rp3 juta.
Nyatanya? itu semua hanyalah harapan palsu. Gaji kami hanya dinaikkan Rp100.000. Belum lagi aturan pemotongan gaji sepihak yang mendadak muncul tanpa pernah dibahas di awal perjanjian kerja. Pokoknya, semua peraturan didesain presisi demi menguntungkan pihak sekolah saja.
Kontrak yang memberatkan guru
Dalam kontrak awal, jam kerja formal adalah pukul 8 pagi hingga 4 sore. Namun, setelah itu pihak sekolah membuat perjanjian tertulis bahwa kami wajib hadir pukul 7 pagi demi jadwal piket, yang salah satu tugasnya adalah membuka pagar sekolah.
Ya, kami merangkap jadi satpam tanpa seragam resmi. Jika terlambat barang semenit pun, gaji langsung dipotong Rp20.000 per hari. Potongan yang sangat disiplin ini berbanding terbalik dengan kedisiplinan mindset yayasan dalam menaikkan gaji karyawan.
Tak sampai di situ, gaji guru baru disunat Rp250.000 setiap bulan selama empat bulan pertama dengan dalih investasi koperasi. Lucunya, jika guru mengundurkan diri sebelum genap satu tahun mengajar, uang investasi tersebut ditahan sepihak dan laba koperasi dianggap hangus.
Sebuah skema yang membuat saya sadar bahwa sistem pay later aplikasi oranye lebih baik dibanding birokrasi sekolah elit ini.
Pemilik melakukan eksploitasi guru
Ketimpangan ini semakin mantab ketika melihat bagaimana pemilik sekolah elit memperlakukan tenaga pendidik. Setiap pagi, guru yang piket diminta untuk menjemput anak-anak pemilik sekolah langsung ke rumah mereka. Peran guru seketika bergeser layaknya driver ojek pribadi tanpa argo.
Eksploitasi ini mencapai level puncaknya pada guru laki-laki yang berstatus magang. Dengan gaji murni Rp750.000 mereka diwajibkan menginap di sekolah sebagai penjaga malam.
Tidak jarang, mereka dipanggil ke rumah pemilik sekolah hanya untuk membersihkan halaman atau memperbaiki saluran air yang tersumbat. Saya tidak tahu apakah kontrak kerja mereka itu sebagai pendidik atau rekrutmen Avengers karena harus bisa multitasking seperti itu.
Awalnya saya bingung, mereka ini sebenarnya pendidik atau asisten rumah tangga? Pihak manajemen selalu memiliki tameng sakti dengan berdalih bahwa guru tersebut adalah “orang kepercayaan”.
Saya sendiri tak luput dari status “orang kepercayaan” yang manipulatif ini: dipaksa menjadi guru les privat gratis untuk anak pemilik sekolah tanpa bayaran tambahan. Tentu saja itu semua diiringi dalih klasik, “Kan masih dalam jam kerja”.
Jadi guru nggak mudah, apalagi di sekolah yang eksploitatif dan manipulatif
Suatu hari, saya berhadapan langsung dengan ketua yayasan. Dengan nada persuasif mirip motivator ulung, ia meyakinkan saya bahwa uang koperasi ini sangat berguna jika sewaktu-waktu saya membutuhkan dana darurat.
Akan tetapi, kenyataannya begitu mencekik. Sistem pinjaman tersebut mengenakan biaya administrasi tambahan sebesar 15% setiap kali penarikan dana dilakukan. Bunga belasan persen berkedok uang administrasi ini membuat saya menyadari satu hal: perbudakan modern benar-benar nyata.
Praktik kolonial itu tetap hidup subur dan perputarannya makin sempurna di dunia pendidikan, hanya saja berganti nama menjadi banyak style, salah satunya adalah “koperasi sekolah syariah”.
Bekerja sebagai guru memang tidak pernah mudah. Kami dihadapkan pada tuntutan micro dan macro teaching, menyusun modul, hingga memetakan metode belajar demi menyesuaikan karakter unik setiap anak yang berbeda-beda. Belum lagi beban mental menghadapi dinamika orang tua murid, serta kewajiban menjaga anak-anak dari risiko cedera fisik maupun bullying di sekolah.
Jujur, saya lelah berada di ekosistem yang manipulatif ini.
Akan tetapi, di sisi lain, pekerjaan ini punya sihirnya sendiri. Setiap kali melihat senyuman tulus dan keberhasilan para murid, ada kebahagiaan instan yang entah bagaimana caranya bisa langsung menghapus rasa lelah. Efek magis inilah yang sayangnya sering dimanfaatkan oleh para pemilik modal untuk terus mengeksploitasi guru dengan tameng “mendidik masa depan bangsa “.
Undur diri demi kesehatan finansial dan mental
Akhirnya, setelah bertahan selama satu semester, saya memilih untuk mengundurkan diri demi keselamatan mental dan finansial saya. Seperti yang sudah diprediksi, uang investasi saya ditahan dan laba koperasi hangus. Secara pribadi, saya menganggap mereka telah melakukan praktik money laundry yang rapi di bawah kedok koperasi syariah.
Pahitnya lagi, kepergian saya diiringi oleh drama fitnah. Saya dituduh berperilaku arogan terhadap salah satu murid yang kebetulan merupakan anak dari pemilik sekolah elit. Padahal demi Allah, jangankan bersikap arogan, berbicara kasar kepada murid saja saya tidak tega. Informasi fitnah ini saya ketahui dari salah seorang rekan kerja yang juga memilih resign dari sana.
Begitulah potret kelam dunia pendidikan yang telah bergeser menjadi ladang bisnis kapitalis tanpa etika. Pada akhirnya, perbudakan di dunia ini tampaknya tidak akan pernah benar-benar lenyap; ia hanya terus bermutasi dan berganti nama.
Penulis: Salsabila Iftinan Ansari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













