Setelah libur panjang, kondisi Kota Batu menuju Malang sudah kembali berangsur normal. Namun sisa libur panjang itu masih meninggalkan duka mendalam, utamanya untuk keluarga korban yang meninggal di Jalur Klemuk, Kota Batu beberapa waktu lalu.
Sudah sejak lama saya dengar betapa mematikannya Jalur Klemuk, penghubung Kota Batu dengan Pujon. Hal ini tidak hanya diamini oleh para wisatawan, tapi juga oleh akamsi. Dua insiden lalu lintas dalam sehari saat libur Nataru kemarin menegaskan betapa mengerikannya reputasi jalur ini.
Dari kondisi konturnya, terlihat kalau Jalur Klemuk ini berbahaya, cukup curam dan mengerikan. Kendaraan yang baru melintas di sini pasti akan sulit beradaptasi. Apa lagi jika pakai kendaraan matic. Wah, salah teknik mengerem bisa fatal akibatnya.
Maraknya kendaraan wisatawan yang melintas memang jadi salah satu faktor penyumbang angka kecelakaan. Tapi ya, tentu saja itu tidak bisa dijadikan pembenaran. Sebab, ya bagaimana bisa kita melarang orang melewati suatu jalur? Yang jadi masalah adalah, sudah banyak korban jatuh, tapi pemangku kebijakan seakan-akan tidak berbuat banyak akan hal ini.
Jalur alternatif yang selalu mengancam pengendara
Tidak ada perubahan yang saya lihat selama lima tahun terakhir tiap kali melintasi Jalur Klemuk saat dari Kota Batu menuju Pujon. Jalur tetap sempit, tambal sulam sekenanya pada lubang-lubang yang ada, material dibersihkan hanya saat longsor. Tindakan preventif bisa dibilang hampir tidak ada.
Ya ini tentu saja recipe for disaster terbaik. Jalur maut tanpa tindakan preventif, berharap apa?
Padahal jika dilihat topografinya, jalur ini masih sangat bisa untuk dilakukan pelebaran. Itu pun dengan catatan jika pemangku kebijakan tak banyak alasan. Setidaknya pelebaran bisa dilakukan agar jalur ini bisa lebih aman. Kanan kiri tebingnya masih tampak luas untuk dikepras agar volume kendaraan yang melintas bisa tertampung.
Seperti yang dilakukan di Jalur Gumitir penghubung Jember dan Banyuwangi. Jika dulu Jalur Gumitir terasa begitu sempit, langkah lanjutan dilakukan dengan pelebaran jalan sehingga kini bisa digunakan banyak kendaraan sehingga jauh lebih aman.
BACA JUGA: Jalur Cangar-Pacet Mojokerto Memang Indah, tapi Taruhannya Nyawa!
Insiden lalu lintas yang dibiarkan berulang
Kabar mengenai insiden lalu lintas yang terus berulang kali terjadi di Jalur Klemuk sepertinya tidak membuat pemangku kebijakan bergeming. Bayangkan, hampir setiap melintas di jalur ini selalu dihantui kekhawatiran yang mengancam jiwa. Alih-alih direspons, solusi atas kendala di jalur ini sepertinya tidak pernah dibahas. Sehingga kejadian seperti berulang kali tanpa penyelesaian.
Pertanyaan saya, apakah memang sesulit itu melakukan langkah preventif untuk memutus mata rantai kecelakaan dengan bentuk kebijakan?
Misalnya gini aja deh. Saat musim hujan seperti sekarang-sekarang ini, jalur mana pun kan jadi makin bahaya. Apalagi Jalur Klemuk, yang memang pada dasarnya sudah berbahaya. Masak nggak ada pikiran untuk ngapain gitu?
Kapan Jalur Klemuk aman?
Saya selalu ngeri setiap mendengar pengendara meregang nyawa di jalur ini. Tapi korban meninggal dunia seperti tidak membuat pemerintah sadar. Jahat jika kita berasumsi kalau pemerintah menunggu korban lebih banyak lagi. Tapi ingat, asumsi liar muncul tak mungkin tanpaa sebab.
Yang saya harapkan untuk pemangku kebijakan, jika memang pelebaran tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat, paling tidak portal penutup jalur untuk kendaraan yang tidak sesuai spesifikasi tetap diberlakukan. Sehingga upaya ini bisa meminimalisir kecelakaan yang cukup tinggi beberapa waktu terakhir. Ke depannya, perlu ada atensi serius dari pemerintah. Ya semoga saja ada.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jalur Klemuk Penghubung Kota Batu-Pujon: Lebih Dekat dan Cepat, tapi Taruhannya Nyawa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















