Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
6 Februari 2026
A A
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya saya benar-benar percaya bahwa naik KRL di gerbong khusus perempuan adalah pilihan paling aman dan nyaman. Maklum saja, ini pengalaman pertama saya mencoba naik gerbong tersebut. Dalam bayangan saya, gerbong khusus perempuan akan menjadi ruang yang lebih tertib, lebih tenang, dan tentu saja lebih empatik. Lagipula, kebijakan ini dibuat dengan niat baik: melindungi perempuan dari pelecehan di transportasi publik. Secara logika, rasanya tidak ada yang salah.

Sejak pintu gerbong KRL terbuka, saya langsung dihadapkan pada kondisi yang sangat padat. Bukan sekadar ramai, tetapi sesak hingga tubuh saling berhimpitan. Ruang gerak nyaris tidak ada. Bahkan, berdiri pun terasa menyakitkan karena dorongan dari berbagai arah, seperti saling menusuk tanpa sengaja. Dalam kondisi seperti itu, yang paling saya harapkan adalah setidaknya ada rasa saling pengertian. Nyatanya, itu justru yang paling langka.

Alih-alih saling mengalah, yang terasa justru ego. Setiap orang sibuk mempertahankan ruang kecilnya masing-masing. Tidak ada usaha untuk memberi jalan, tidak ada inisiatif untuk bergantian. Semua bertahan, seolah kenyamanan pribadi adalah hal yang paling penting, meski harus mengorbankan orang lain.

Gerbong KRL khusus perempuan tidak melulu aman

Pemandangan yang paling mengusik saya adalah ketika melihat seorang ibu terhimpit di tengah kerumunan. Secara kasat mata, ia jelas lebih membutuhkan ruang dan tempat duduk. Di sekitarnya, saya melihat banyak anak muda yang secara fisik jauh lebih kuat. Namun, tidak satu pun yang berinisiatif mengalah. Tidak ada gestur empati. Ibu itu tetap berdiri tertekan, sementara yang lain memilih diam dan pura-pura tidak melihat.

Di titik itu, saya mulai bertanya dalam hati di mana letak aman yang selama ini dijanjikan?

Gerbong KRL khusus perempuan memang tampak aman di permukaan. Tidak ada laki-laki, tidak ada potensi pelecehan secara langsung. Namun, menurut saya, rasa aman tidak hanya soal siapa yang berada di dalam satu ruang, tetapi juga tentang bagaimana manusia di dalamnya saling memperlakukan.

Ironisnya, pengalaman saya di gerbong KRL campuran justru sering berbanding terbalik. Di sana, perempuan sering terlihat lebih peka. Ketika ada ibu, lansia, atau penumpang yang tampak lelah, kursi biasanya lebih cepat ditawarkan. Ada kesadaran sosial yang muncul secara alami, tanpa perlu aturan tertulis atau pengumuman berulang.

Hal ini memunculkan pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah masalah utama benar-benar soal keamanan fisik, atau justru soal krisis empati di ruang publik?

Baca Juga:

Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Alasan Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Dihindari oleh Perempuan

Bagaimana seharusnya

Gerbong KRL khusus perempuan seharusnya menjadi ruang aman dalam arti yang lebih luas aman secara fisik, emosional, dan sosial. Namun, dalam pengalaman saya, gerbong ini justru terasa seperti ruang tekanan baru. Tekanan untuk bertahan berdiri, tekanan untuk tidak tersingkir, dan tekanan untuk mengalahkan rasa tidak nyaman demi bertahan sampai tujuan.

Ini bukan tentang menyalahkan perempuan atau membenturkan sesama penumpang. Ini tentang bagaimana sebuah kebijakan yang baik bisa berubah menjadi tidak efektif ketika tidak diiringi dengan budaya saling menghormati. Tanpa empati, ruang khusus justru berpotensi menjadi ruang yang lebih keras, terutama bagi mereka yang rentan. Ibu, lansia, atau penumpang dengan kondisi fisik tertentu.

Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa rasa aman tidak bisa diciptakan hanya dengan memisahkan gerbong berdasarkan gender. Aman juga berarti merasa dihargai, dipedulikan, dan diperlakukan secara manusiawi. Tanpa itu semua, label “khusus” tidak lebih dari sekadar simbol.

Pengalaman pertama saya di gerbong KRL khusus perempuan justru mengajarkan keamanan sejati di ruang publik tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi oleh perilaku manusia di dalamnya. Selama ego masih lebih besar daripada empati, solusi apa pun seaman apa pun di atas kertas akan selalu menyisakan masalah.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Tags: gerbonggerbong KRLgerbong perempuankrl. gerbong khusus perempuan
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

23 November 2025
Membayangkan Jika Kereta Api di Indonesia Punya Playground seperti di Finlandia. Penumpang Tenang, tapi...

Membayangkan Jika Kereta Api di Indonesia Punya Playground seperti di Finlandia. Penumpang Tenang, tapi…

23 Mei 2024
Kebiasaan Penumpang Kereta Ekonomi Lebih Buruk Dibanding Penumpang Transportasi Lain Mojok.co

Kebiasaan Penumpang Kereta Ekonomi Lebih Buruk Dibanding Penumpang Transportasi Lain

24 November 2023
Alasan Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Dihindari oleh Perempuan Mojok.co

Alasan Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Dihindari oleh Perempuan

17 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
ASN Deadwood Memang Sebaiknya Dipecat Saja!

Kalau Ada yang Bilang Semua ASN Kerjanya Nganggur, Sini, Orangnya Suruh Berantem Lawan Saya

30 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.