Setiap perantau pasti pernah mengalami homesick terhadap kampung halaman. Entah kangen makanan, cuaca, bahasa daerah, hingga orang-orangnya. Begitu pula saya terhadap Palembang. Walau belum genap setahun keluar dari Kota Pempek, saya sudah kangen saja.
Itu mengapa, ketika sempat pulang pada akhir tahun lalu, agenda saya cuma melepas rindu setiap hari. Di tengah kangen-kangenan dengan Palembang dan segala isinya, ada satu hal yang saya sadari. Tanah kelahiran saya ini sudah banyak berubah.
Saya baru sadar. Ketika meninggalkan kota ini untuk merantau, saat itu adalah masa transisi dari pemerintahan wali kota lama ke wali kota baru hasil Pilkada 2025. Mungkin perubahan yang terjadi selama setahun terakhir adalah buah dari perpindahan kekuasaan itu.
Tulisan ini tidak bermaksud menjatuhkan maupun mendukung pihak mana pun ya. Tulisan ini murni ekspresi saya sebagai seorang perantau yang kembali ke kampung halaman. Perantau yang senang mendapati kotanya sudah banyak berbenah setelah sekilah lama cuma jalan di tempat.
Baca juga 5 Kuliner Palembang yang Saya Harap Tidak akan Punah.
Jalanan Palembang mulai banyak yang mulus
Saya ingat betul pada salah satu ruas jalan yang seringkali saya lewati selama masih di Palembang. Di sana ada sebuah lubang menganga yang siap menghantam pengguna sepeda motor yang tidak fokus lalu “mencium” aspal. Kini lubang tersebut sudah lenyap, ada lapisan aspal yang lama yang sudah tertutupi dengan lapisan aspal yang baru.
Tidak hanya itu, banyak jalan-jalan lokal juga yang perlahan dan secara bertahap dibenahi. Jalan-jalan yang dulunya kalau mirip wahana kolam renang, kini sudah mulus bahkan lengkap dengan marka jalan.
Sebenarnya belum semua jalanan mulus sih, tetapi setidaknya sudah ada perkembanganlah. Setidaknya jalan-jalan yang rusak parah kini sudah membaik.
Perbaikan taman-taman kota
Taman-taman kota yang dahulu mengenaskan tampak mulai dipugar dan diberi warna baru. Papan nama taman tersebut juga diganti sehingga taman tersebut terasa lebih segar. Bahkan, di beberapa titik taman juga ditambahkan tempat bermain anak-anak sehingga mendorong warga sekitar untuk beraktivitas di sana.
Bahkan, beberapa hari sebelum saya menyusun tulisan ini, salah satu taman atau pelataran di Palembang bernama Plaza BKB (Benteng Kuto Besak) sedang renovasi besar-besaran. Saya belum bisa menikmati plaza tersebut karena terlihat masih banyak seng-seng tersusun. Namun, saya optimistis bahwa hasil akhirnya akan sangat memuaskan.
Ngomong-ngomong soal taman, saya jadi ingat mendatangi salah satu taman kota yang sangat populer di Palembang yang bernama Taman Kambang Iwak. Taman yang dahulu mengenaskan itu kini punya trek jogging atau lari yang sudah berganti keramik. Ditambahkan pula anjungan untuk menikmati danau, kombinasi warna yang tidak menyakitkan mata, dan banyak hal lagi.
Baca juga Healing dari Palembang ke Lampung Penuh Perjuangan, tapi Sepadan dengan yang Didapat.
Harapan anak rantau untuk palembang
Saya berharap kampung halaman tercinta ini akan lebih maju lagi ke depan. Sebagai perantau mungkin saya akan lebih banyak tinggal di daerah orang, tapi rasa cinta dan perhatian terhadap kampung halaman tidak akan tergantikan.
Walau sudah banyak berbenah, Palembang masih punya banyak pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan. Beberapa persoalan yang saya harap segera menemukan titik terang seperti transportasi publik, keamanan, dan tentu saja banjir.
Semoga di kepulangan saya dari tanah rantau berikutnya. Saya bisa melihat perbaikan atas persoalan-persoalan tadi. Semoga ya.
Penulis: Muhammad Hazel
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Palembang Tanpa Pempek Cuma Kota Biasa, Nggak Ada Istimewanya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















