Sejak jadi mahasiswa, satu jenis tugas yang hampir selalu muncul di setiap mata kuliah adalah presentasi kelompok. Awalnya terdengar sederhana: bagi materi, bikin PPT, tampil di depan kelas, selesai. Tapi makin ke sini, banyak mahasiswa, termasuk saya justru mengeluh setiap kali dosen bilang, “Minggu depan presentasi, ya.”
Bukan tanpa alasan. Di satu sisi presentasi itu bagus: melatih berbicara, kerja sama, dan pemahaman materi. Namun, di praktiknya, tugas presentasi sering kali berubah jadi formalitas belaka. Alih-alih bikin paham, justru bikin capek dan bingung. Ini beberapa alasan kenapa banyak mahasiswa nggak suka dikasih tugas presentasi:
Disuruh cari materi sendiri, tapi nggak dikasih arah sumber yang benar
Biasanya dosen cuma bilang, “Cari sendiri materinya,” tanpa ngasih gambaran sumber yang valid. Mahasiswa akhirnya bingung: mau ambil dari jurnal, buku, blog, atau sekadar hasil pencarian Google?
Oleh karena minim arahan, banyak yang akhirnya ambil jalan paling cepat: copas dari internet tanpa benar-benar paham isinya. Bukannya jadi belajar mandiri, yang ada malah belajar asal jadi.
Anggota kelompok banyak, tapi kerjanya nggak merata
Ini masalah klasik yang hampir selalu ada. Dalam satu kelompok berisi 5–7 orang, biasanya cuma 2 atau 3 yang benar-benar kerja. Sisanya? Ada yang cuma ikut rapat sekali, ada yang nanya “udah jadi belum?”, bahkan ada juga yang cuma numpang nama.
Kerja kelompok yang harusnya melatih tanggung jawab malah sering bikin kesal. Yang rajin jadi korban, yang pasif tetap dapat nilai.
BACA JUGA: PPT Itu Buat Belajar Presentasi, Bukan Belajar Membaca
Materi cuma dibacain, bukan dijelasin
Saat hari-H presentasi, banyak penyaji hanya membaca isi slide. PPT yang penuh teks dibaca mentah-mentah, tanpa penjelasan tambahan, contoh, atau ilustrasi yang bikin audiens paham.
Akhirnya, satu kelas hanya mendengarkan orang membaca PPT selama 15–20 menit. Kalau bisa baca sendiri, ngapain harus presentasi?
Jawaban pertanyaan di presentasi mengandalkan ChatGPT atau AI
Ketika sesi tanya jawab dimulai, sering terlihat presenter membuka HP, mengetik cepat, lalu menjawab dengan bahasa yang terlalu rapi dan kaku. Ketahuan banget itu hasil AI.
Bukan soal pakai AI atau tidak, tapi kalau dari awal materinya nggak dipahami, diskusi jadi hambar. Presentasi kehilangan esensinya sebagai proses berpikir dan memahami.
Dosen minim evaluasi dan jarang menjelaskan ulang materi setelah presentasi
Setelah presentasi selesai, sering kali dosen hanya berkata, “Ya, cukup,” lalu lanjut ke kelompok berikutnya. Nggak ada koreksi, nggak ada penegasan mana yang keliru atau perlu diluruskan.
Padahal, sedikit penjelasan tambahan dari dosen bisa sangat membantu. Minimal mahasiswa tahu mana informasi yang benar dan mana yang perlu diperbaiki.
BACA JUGA: Plis deh, Nggak Perlu Bacain Ulang Makalahnya Saat Presentasi
Mahasiswa akhirnya nggak dapat apa-apa
Ujung-ujungnya, mahasiswa hanya duduk, mendengar orang lain membaca PPT, tanpa benar-benar memahami materi. Yang presentasi nggak selalu paham, yang mendengarkan lebih nggak paham lagi. Tugas presentasi yang harusnya jadi sarana belajar aktif malah berubah jadi rutinitas melelahkan yang cepat dilupakan setelah kelas selesai.
Bukan berarti mahasiswa anti presentasi. Kalau dirancang dengan baik dengan sumber jelas, kelompok yang proporsional, evaluasi dosen, dan penjelasan yang baik, presentasi bisa jadi metode belajar yang efektif.
Tapi selama tugas presentasi hanya sekadar menggugurkan kewajiban, wajar kalau mahasiswa lebih sering mengeluh daripada antusias. Karena pada akhirnya, tujuan kuliah bukan cuma tampil di depan kelas, tapi benar-benar paham apa yang dipelajari.
Penulis: Nadia Dwi Apriani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Dosa Mahasiswa Saat Presentasi, Jangan Diwajarkan Nanti Jadi Kebiasaan Buruk
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

















