Di Jogja, urusan kuliner legendaris itu sering kali bukan cuma soal rasa, tapi juga soal sikap hidup, salah satunya adalah Lupis Mbah Satinem. Sebuah lapak jajanan pasar yang sudah terkenal sejak lama, bahkan sebelum Netflix lewat Street Food Asia ikut-ikutan mempopulerkannya ke level internasional.
Di tempat ini, kamu bisa menemukan lupis dan cenil, jajanan pasar yang kelihatannya sederhana, tapi entah kenapa bisa membuat orang rela bangun pagi dan mengantre.
Sebagai kuliner legendaris, Lupis Mbah Satinem Jogja punya aturan-aturan tak tertulis yang pelan-pelan dipahami para pengunjungnya. Aturan ini tidak terpampang di spanduk, ataupun diumumkan lewat pengeras suara. Tapi kalau kamu melanggarnya, siap-siap saja mengalami kekecewaan yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
Baca juga: 5 Jajanan Pasar Khas Jogja yang Mulai Langka dan Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup.
#1 Datang pagi hari, lebih pagi dari yang kamu kira
Peraturan pertama ini terdengar klise, tapi sering diremehkan. Lupis Mbah Satinem Jogja buka pukul 05.30 pagi sampai habis. Kata “habis” di sini penting, karena tidak berkaitan jam tutup yang menentukan, melainkan stok.
Banyak orang berpikir datang jam 6 pagi itu sudah sangat pagi. Padahal itu salah besar. Saya sendiri pernah datang sekitar pukul 05.50 dan sudah mendapatkan nomor antrean 16. Artinya, dalam waktu kurang dari setengah jam sejak buka, belasan orang sudah lebih dulu berdiri di sana dengan niat sarapan lupis.
Datang pagi bukan jaminan kamu langsung dilayani tanpa menunggu. Tapi datang kesiangan hampir pasti berarti pulang dengan tangan kosong atau setidaknya dengan wajah kecewa. Di sini, alarm subuh bukan cuma untuk ibadah, tapi juga untuk mencicipi Lupis Mbah Satinem Jogja yang legendaris itu.
#2 Jangan malu, langsung ambil nomor antrean begitu tiba di tempat jualan Lupis Mbah Satinem Jogja
Begitu sampai di lokasi, jangan bengong. Apalagi berdiri canggung sambil mengamati orang lain karena takut salah langkah. Peraturan kedua yang tidak tertulis tapi wajib dipatuhi adalah, langsung ambil nomor antrean di meja.
Nomor antrean ini bukan pajangan ataupun properti estetik buat foto Instagram, melainkan sistem sederhana agar antrean tetap rapi dan tidak chaos. Semua orang patuh, dari bapak-bapak sampai wisatawan luar kota yang baru pertama kali datang.
Tidak perlu bertanya dulu, “Ini antreannya bagaimana, ya?” Ambil nomor, simpan baik-baik, lalu berdirilah dengan tenang. Percayalah, di Lupis Mbah Satinem Jogja, semua orang sudah paham peran masing-masing.
#3 Tinggalkan dulu QRIS, uang tunai nomor satu kalau beli Lupis Mbah Satinem Jogja
Di era ketika hampir semua warung punya QRIS, Lupis Mbah Satinem tetap setia pada cara lama dengan pembayaran tunai. Bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap teknologi, tapi lebih ke konsistensi hidup sederhana.
Peraturan tidak tertulis ketiganya, pastikan kamu membawa uang cash. Jangan berharap bisa bayar pakai e-wallet, apalagi ngotot sambil bilang, “Sekarang kan zamannya cashless, Mbah.” Selain tidak sopan, juga tidak ada gunanya.
Harga jajanan Lupis Mbah Satinem Jogja memang relatif terjangkau, tapi tetap saja akan terasa menyebalkan kalau sudah antre pagi-pagi, lalu batal beli cuma karena tidak punya uang tunai. Jadi, siapkan receh dan kertas kecil sejak dari rumah.
Baca juga: Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg.
#4 Sekalian, jangan abaikan gudeg di sebelahnya
Peraturan keempat ini memang tidak berhubungan langsung dengan lupis, tapi sayang kalau dilewatkan. Di samping lapak Lupis Mbah Satinem Jogja, ada gudeg yang juga terkenal enak. Banyak orang datang awalnya cuma niat beli lupis, lalu pulang dengan tambahan sebungkus gudeg.
Ini semacam bonus tak tertulis bagi mereka yang sudah rela antre. Setelah perut dibuka dengan jajanan pasar manis, godaan gudeg hangat di sebelahnya sering kali terlalu sulit ditolak. Apalagi kalau kamu sudah terlanjur bangun pagi dan merasa layak memberi hadiah kecil pada diri sendiri.
Keempat aturan tidak tertulis ini pada akhirnya bukan untuk menyulitkan, tapi justru membantu kamu menikmati Lupis Mbah Satinem Jogja. Sederhana, manis, dan penuh cerita. Di Jogja, kuliner legendaris memang tidak pernah sekadar soal rasa. Ada ritual kecil yang menyertainya, dan di situlah kenikmatannya sering kali justru terasa paling lengkap.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















