Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
12 Januari 2026
A A
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya saya datang ke Solo dengan niat sederhana cuma numpang hidup sebentar sambil kuliah. Rencananya cuma cari pengalaman lalu ke kampung halaman membawa cerita untuk dibanggakan pada keluarga. Tidak ada ekspektasi muluk. Di kepala saya, Solo hanyalah kota kecil, panas, dan sepi. Pokoknya terasa kurang pas untuk saya yang terbiasa hidup di kota agak ribut dan penuh distraksi.

Ternyata saya salah besar. Tanpa sadar, hari berubah jadi bulan. Semester demi semester lewat tanpa terasa. Koper yang tadinya selalu siap pulang malah berdebu di pojokan kamar kos, kalah penting dari tumpukan buku, tugas, dan jadwal kelas yang makin padat. 

Ada sesuatu di Solo yang pelan-pelan bikin saya betah. Seperti jebakan halus yang tidak terasa, tapi mengikat. Dari sekadar kota tempat menuntut ilmu, Solo berubah menjadi ruang belajar kehidupan. Ini 6 hal yang membuat saya, anak rantau yang awalnya cuma ingin kuliah lalu pulang, akhirnya merasa Solo bukan lagi kota singgah, tapi rumah sementara.

#1 Biaya hidup Solo masih masuk akal meski mulai mahal

Sebagai perantau, urusan paling sensitif tentu soal dompet. Di Solo, setidaknya sampai beberapa waktu lalu, hidup masih terasa ramah di kantong. Makan di warung tiga kali sehari tidak langsung membuat saldo rekening megap-megap. Harga kos juga relatif bersahabat, walau belakangan mulai naik pelan-pelan, mungkin ikut-ikutan inflasi dan kedatangan pendatang seperti saya.

Yang bikin tambah seneng, transportasi di sini juga murah meriah. Naik BST cuma tiga ribu rupiah sudah bisa keliling setengah kota. Ojek online? Jangan ditanya, tarifnya masih masuk akal banget dibanding kota-kota besar lain. Jadi saldo e-wallet saya tidak langsung merah di tanggal tua. Alhasil, saya masih bisa menabung buat pulang kampung.

Di Solo, dengan uang pas-pasan, kita masih bisa makan enak, seperti nasi liwet, timlo, tengkleng, sampai angkringan yang seolah tak pernah tutup. Bahkan, jajan malam bisa jadi agenda healing murah meriah. Bagi anak rantauan yang hidupnya sering ditentukan oleh tanggal gajian dan sisa saldo e-wallet, kondisi ini jelas bikin betah.

#2 Ritme kota yang pelan, tapi tidak membosankan

Solo itu tidak tergesa-gesa. Lampu merah tidak membuat orang klakson berjamaah seperti konser dangdut. Orang-orang berjalan santai, berbicara pelan, bahkan marah pun nadanya tetap sopan. Awalnya ritme seperti ini membuat saya gelisah, merasa hidup terlalu lambat.

Akan tetapi, justru di situlah daya tariknya Kota Batik ini. Solo memberi ruang untuk bernapas. Hidup tidak melulu cepat-cepatan. Kita bisa menikmati pagi tanpa harus dikejar bunyi notifikasi dan kemacetan brutal. Kota ini cocok untuk orang-orang yang lelah dikejar ambisi tapi belum siap sepenuhnya menyerah pada hidup.

Baca Juga:

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

Pelan bukan berarti mati gaya. Ada event budaya, kuliner baru bermunculan, kafe estetik di sudut kota, dan diskusi-diskusi kecil yang tumbuh diam-diam. Solo hidup, hanya tidak berisik.

#3 Orang-orangnya ramah dengan cara yang tulus

Kalau ada satu hal yang konsisten membuat saya nyaman, itu adalah keramahan warganya. Di Solo, senyum bukan basa-basi. Sapaan bukan formalitas. Tukang parkir bisa mengingat wajah kita walau cuma bertemu dua kali. Ibu warung bisa hafal pesanan kita tanpa perlu mencatat.

Sebagai anak rantauan, rasa diterima itu penting. Di kota besar, kita sering merasa anonim datang dan pergi tanpa pernah benar-benar dianggap ada. Di Solo, keberadaan kita terasa. Ada rasa “diuwongke” yang sulit dijelaskan tapi nyata dampaknya bagi kesehatan mental.

Kadang, obrolan singkat di warung kopi atau angkringan justru lebih menghangatkan dibanding motivasi di seminar mahal.

#4 Akses ke mana-mana yang tidak ribet

Solo itu kecil, dan itu keunggulannya. Mau ke kampus, kantor, pasar, atau tempat nongkrong, jaraknya relatif dekat. Macet memang mulai terasa, tapi belum sampai tahap membuat kita menyesali keputusan hidup.

Transportasi mudah, biaya bensin tidak membakar tabungan, dan waktu tempuh masih manusiawi. Hidup terasa efisien tanpa harus hidup seperti robot. Kita masih punya waktu untuk diri sendiri, bukan habis di jalan.

Bagi perantau yang terbiasa hidup di kota besar, Solo terasa seperti bonus hidup yang lebih banyak waktu, lebih sedikit stres.

#5 Kuliner SIki juara, harganya bersahabat, rasanya bikin ketagihan

Solo itu surganya kuliner dengan harga rakyat jelata. Dari nasi liwet, tengkleng, saate buntel, selat Solo, sampai Serabi Notosuman, semuanya enak dan tidak membuat kantong terkuras. Bahkan, makanan kaki lima di sini rasanya bisa mengalahkan restoran mahal.

Yang bikin tambah betah, lokasi jajan di Solo itu tidak cuma di tempat yang itu-itu aja. Hampir di setiap sudut kota ada hidden gem kuliner yang siap memanjakan lidah. Saya sudah mencoba puluhan tempat makan, dan sampai sekarang masih penasaran sama tempat-tempat baru yang belum saya sambangi. Berat badan naik? Sudahlah, itu urusan nanti saja yang penting perut happy dulu.

#6 Ada rasa aman dan tenang di Solo yang sulit dicari

Ini mungkin terdengar klise, tapi, bagi saya, Solo memberikan rasa aman yang sulit ditemukan di kota lain. Malam hari masih terasa bersahabat. Jalanan tidak terlalu mencekam. Orang pulang larut tidak selalu dibayang-bayangi kecemasan berlebihan.

Tentu bukan berarti Solo bebas masalah. Tetap ada kriminalitas, tetap ada konflik kecil, tetap ada sisi gelap kota. Tapi secara umum, rasa tenang itu nyata. Bagi anak rantauan yang jauh dari keluarga, rasa aman menjadi kebutuhan emosional yang sering diremehkan.

Di Solo, pulang ke kos malam hari tidak terasa seperti misi survival.

Pada akhirnya, betah di Solo bukan soal fasilitas mewah atau gemerlap kota. Justru kesederhanaannya yang membuat banyak perantau enggan pergi. Kota ini tidak menjanjikan kekayaan instan atau karier gemilang dalam semalam. Tapi, dia menawarkan kehidupan yang layak dijalani tanpa harus selalu tergesa dan tertekan.

Saya datang sebagai tamu. Tanpa sadar, saya jatuh cinta dan belajar menetap. Solo mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu berisik untuk terasa bermakna. Kadang, yang kita butuhkan hanya kota yang mau menerima kita apa adanya dengan segala kekurangan, dompet tipis, dan mimpi yang belum tentu jadi.

Dan, entah sampai kapan saya akan di sini, tapi untuk saat ini, saya masih betah.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: biaya hidup soloHidup di Soloslow livingsolo
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Kuliah di UNS Memang Murah, tapi Panas dan Bau Sampah

Kuliah di UNS Memang Murah, tapi Panas dan Bau Sampah

2 Agustus 2024
KRL Jogja Solo Bikin Resah Anker KRL Jabodetabek (Unsplash)

5 Tingkah Penumpang KRL Jogja Solo yang Bikin Resah Pengguna KRL Jabodetabek

13 Mei 2025
Transmart Pabelan Solo: Dulu Digdaya, Kini Menatap Muram-muram Duka

Transmart Pabelan Solo: Dulu Digdaya, Kini Menatap Muram-muram Duka

21 September 2023
Menanti Gojek Tembus ke Desa Kami yang Sangat Pelosok (Unsplash)

“Gojek, Mengapa Tak Menyapa Jumantono? Apakah Kami Terlalu Pelosok untuk Dijangkau?” Begitulah Jeritan Perut Warga Jumantono

29 November 2025
Gagal Paham dengan Orang-orang yang Menjadikan Rumah Jokowi sebagai Destinasi Wisata Baru di Solo Mojok.co

Gagal Paham dengan Orang-orang yang Menjadikan Rumah Jokowi sebagai Destinasi Wisata Baru di Solo

4 April 2025
Srumbung, Daerah Underrated di Kabupaten Magelang yang Cocok untuk Pencinta Slow Living

Srumbung, Daerah Underrated di Kabupaten Magelang yang Cocok untuk Pencinta Slow Living

19 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh” Mojok.co ka kahuripan

KA Sri Tanjung dan KA Kahuripan, Kereta Api Paling Nanggung dan Melelahkan bagi Penumpang

10 Maret 2026
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash) bandung

Kota Malang Mirip Bandung: Sama-Sama Adem dan Sejuk, tapi Lebih Rapi dan Terawat

8 Maret 2026
Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

8 Maret 2026
Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat Mojok.co

Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat

10 Maret 2026
Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

10 Maret 2026
Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan Mojok.co

Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.