Organisasi di perkuliahan sering diincar oleh kebanyakan mahasiswa, terutama bagi mahasiswa baru. Kabarnya, “komunitas” ini isinya kakak tingkat pintar, berpengaruh, dan punya banyak koneksi.
Organisasi juga dianggap sebagai “batu loncatan pertama” untuk menambah pengalaman serta mengasah soft skill sekaligus hard skill. Hitung-hitung mempercantik CV sebelum melamar pekerjaan atau menjadi asisten dosen.
Hype-nya organisasi kampus ini, bahkan masih berlanjut hingga saat ini. Entah itu hanya pemasaran belaka agar organisasi-organisasi di kampus tidak mati karena kekurangan anggota atau memang punya “manfaat” tersendiri bagi beberapa orang.
Manfaatnya tak terasa
Berangkat dari pengalaman pribadi, saya bisa mengatakan bahwa saat ini organisasi kampus hanya 45% manfaatnya. Yah sebatas menambah teman dan pengalaman lewat keberjalanan proker-proker. Tapi, selebihnya tidak ada lagi, kecuali kamu memang orang kaya dan perilaku boros bukanlah masalah yang serius.
Dulu, mungkin organisasi benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya, tetapi berbeda dengan sekarang. Sistemnya benar-benar rusak.
Isinya hanya rapat, alasan klise untuk bisa keluar malam-malam dan pulangnya muter-muter pakai motor sampai dini hari. Pembahasan rapatnya pun bukan hal penting, setidaknya itu terjadi di organisasi saya.
Organisasi lain mungkin tidak serusak ini, tapi pasti ada yang dimulai. Kenapa? Faktor lingkungan biasanya, sebut saja lingkaran pertemanan. Jika ada yang rusak, semuanya otomatis akan ikutin.
Mau itu salah, mau itu benar. Intinya, kalau berbeda sendiri takutnya nggak ditemenin. Betul apa betul?
“Organisasi mahasiswa punya banyak manfaat” itu cuma trik marketing
Saya bisa bilang, iming-iming “organisasi mahasiswa punya banyak manfaat” itu hanya trik marketing. Sebab, realitas yang ada berbanding terbalik dengan iming-imingnya. Padahal, banyak mahasiswa yang masuk ke organisasi dengan harapan yang sama, yaitu mendapat pengalaman berharga. Bukan hanya pengalaman rapat malam hari, bayar ini-itu untuk keperluan proker, sampai sibuk dan lupa tugas.
Banyak lho teman-teman saya yang harus menelantarkan hanya demi organisasi. Jika dipikir-pikir lagi, bukannya lebih penting tugas untuk nilai akademis daripada kesuksesannya proker yang hanya dihadiahi tepuk tangan dan ucapan terima kasih oleh MC? Jangan terlalu berlebihan dengan narasi wajib organisasi.
Nyatanya, HRD hanya lihat pengalaman kerja, seperti magang atau sukarelawan, dan kemampuan akademis. Jauh lebih baik kamu paham dengan ilmu jurusan kuliahmu jika memang ingin melamar kerja yang selinier dengan perkuliahan.
Sedangkan organisasi mahasiswa tidak (selalu) memberikanmu hal tersebut. Pun banyak ilmu yang organisasi mahasiswa klaim bisa beri, bisa didapat di luar. Soft skill, seperti berani tampil atau pintar public speaking misalnya, sering jadi manfaat yang bisa kamu dapat kalau gabung organisasi. Padahal, hal tersebut bisa kamu asah sendiri tanpa perlu ikut organisasi dan merogoh kocek hanya untuk pembahasan yang sia-sia.
Cari yang nyata-nyata saja
Lebih baik kalian sibukkan diri dengan pekerjaan yang nyata. Mau bagaimanapun, jauh itu lebih penting dibandingkan sekedar menyelesaikan proker. Di samping tidak menjamin kualitas diri saat bekerja di “lapangan”, organisasi mahasiswa sebenarnya bukan hal yang cocok dilakukan semua mahasiswa.
Inilah yang akhirnya saya lakukan hingga saat ini dan membawa saya lebih di “depan”, setidaknya itu yang saya rasakan. Saat ini, saya bahkan sudah ditawari bekerja di perusahaan ini-itu hanya bermodalkan pengalaman yang saya pupuk sedari dulu, waktu teman-teman sejurusan sibuk dengan prokernya.
Tapi, kembali lagi, masuk organisasi adalah pilihan semua orang. Saya sih, tidak.
Penulis: Mercy Lucia Alesty
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Ditolak Masuk Organisasi Mahasiswa, dan Itu Adalah Anugerah Terbesar di Masa Kuliah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















