Sebagai orang luar kota yang sering mengunjungi Garut, saya kadang kala kesulitan mencari hotel yang nyaman, aman dan harga terjangkau di luar Cipanas dan Garut Kota. Padahal Garut itu wilayahnya luas bukan main.
Saya akui, pesona alam Garut itu indah sekali, nggak salah kalau dijuluki Swiss Van Java. Tapi kalau kita bicara soal realitas infrastruktur wisatanya hari ini, saya nggak bisa menutupinya, Garut itu ibarat rumah mewah yang kuncinya cuma ada di teras depan.
Begitu tamu mau masuk ke ruang tengah atau melihat taman belakang, mereka bingung karena jalannya gelap dan nggak ada tempat duduknya. Masalah utama Garut bukan kekurangan pemandangan, tapi ketimpangan fasilitas yang bikin geleng-geleng kepala.
Terjebak di Cipanas dan Pusat Kota
Coba cek aplikasi pemesanan hotel lalu ketik “Garut”. Mayoritas pilihan yang muncul kalau tidak di area Cipanas yang airnya panas terus, ya di seputaran pusat kota yang nggak ramai-ramai banget.
Seolah-olah, peradaban pariwisata di Garut itu hanya berputar di area tersebut. Padahal, Garut itu wilayahnya luas sekali. Kita bicara soal kabupaten yang punya gunung-gunung gagah di utara hingga deretan pantai eksotis di selatan yang jarak tempuhnya saja bisa memakan waktu berjam-jam dari pusat kota.
Aneh rasanya ketika kita ingin menikmati syahdunya alam di wilayah yang agak pelosok, tapi dipaksa untuk tetap menginap di kota karena di sana tidak ada akomodasi yang proper. Akibatnya, wisatawan menumpuk di satu titik saja.
Dampaknya jelas macet yang minta ampun di jalur Cipanas dan Tarogong setiap akhir pekan. Wisatawan jadi stres di jalan, warga lokal juga kena imbas macetnya. Sementara potensi alam di wilayah Garut yang yang lain tertutupi sampai-sampai nggak ada yang bisa mengunjunginya dengan nyaman.
Transportasi umum ada, tapi gaib
Kadang saya bingung. Kalau saya dari kota tujuan ke Cikajang yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, saya bisa naik taksi online dengan harga yang tinggi. Atau naik bus tanggung bareng ibu-ibu yang pulang dari pasar sambil bawa ayam dan sayuran. Tapi kalau saya balik ke arah kota, nggak ada kendaraan umum sama sekali, apalagi ojek online.
Mau nggak mau kita harus sewa kendaraan sendiri, entah itu motor atau mobil. Padahal kita ke kota orang itu sebenarnya ingin menikmati keindahan alamnya bukan malah fokus ke kemudi.
Baca halaman selanjutnya



















