Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tidak seperti Dahulu, Jalanan di Solo Kini Menyebalkan karena Semakin Banyak Pengendara Nggak Peka

Imanuel Joseph Phanata oleh Imanuel Joseph Phanata
1 Desember 2025
A A
Tidak seperti Dahulu, Jalanan di Solo Kini Menyebalkan karena Semakin Banyak Pengendara Nggak Peka Mojok.co

Tidak seperti Dahulu, Jalanan di Solo Kini Menyebalkan karena Semakin Banyak Pengendara Nggak Peka (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di benak banyak orang, Solo mungkin kota yang enak dan santai. Namun, itu dahulu, sekitar 10 tahun yang lalu. Sebagai seseorang yang sejak kecil hingga saat ini tinggal di Kota Batik ini, saya menyaksikan sendiri bagaimana kota ini perlahan mulai berubah. 

Perubahan signifikan terjadi pada cara berkendara di kalanan Solo. Menurut saya, sekarang ini Solo sudah darurat tertib berkendara. Semakin banyak pengendara nggak peka sehingga jalanan jadi semrawut. Dan, sebaiknya, operasi zebra dilakukan setiap hari tanpa libur sebelum kondisi jalan semakin buruk. 

Kekesalan akan pengguna jalan di Solo sebenarnya sudah saya pendam sejak sekitar tiga tahun lalu. Rasa kesal ini sesekali saya singgung dalam tulisan di Terminal Mojok. Namun, kali ini saya ingin menuliskan kekesalan saya terhadap pengendara-pengendara nggak peka di jalanan Solo secara lebih lengkap dan utuh. 

#1 Pengendara menerobos lampu merah

Tindakan satu ini yang paling saya benci: pengendara menerobos lampu merah. Pengendara tidak menghiraukan warna lampu pada Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) dan asal terobos saja. Percaya deh sama saya, menerobos lampu merah bisa dengan mudah kalian temukan di tiap lampu merah Solo. 

Saya mengalami kejadian semacam ini tidak hanya sekali atau dua kali. Setiap kali saya keluar rumah, hampir selalu saya melihat orang menerobos lampu merah. Lebih sering saya menjadi saksi kebodohan para pengendara, tapi pernah sekali waktu saya hampir celaka karenanya. 

Kejadian ini baru saya alami seminggu lalu. Saat perjalanan menuju kampus di pagi hari, saya menyaksikan pengendara yang menerobos lampu merah. Saya masih ingat betul, pada saat itu lampu masih merah dan saya berhenti seperti biasa. Di sebelah saya ada seorang pengendara motor matic warna putih. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, orang ini langsung tancap gas. Padahal lampu masih merah dan kondisi jalan cukup ramai. Saya terheran-heran, pengendara itu diklakson banyak orang dan bahkan diteriaki, tapi dia malah balik menantang. Aneh kan?

Di hari yang sama, sore harinya sekitar jam 4, di saat menuju pulang ke rumah saya berhenti di lampu merah. Kali ini lampu sudah hijau, dan kebetulan saya berada paling depan. Begitu lampu berubah hijau, saya mulai melaju, dan tiba-tiba ada pengendara lain yang menerobos dari arah samping.

Tentu saja nyaris banget tabrakan, saya refleks mengklakson, tapi pengendara itu malah cuek. Bahkan, sambil ngomel nggak jelas, seolah dia yang benar. Aneh banget, kan?

Baca Juga:

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

#2 Parkir sembarangan mulai menjamur di jalanan Solo

Berdasar pengamatan saya sebagai warga lokal alias warlok, semakin banyak orang yang parkir sembarangan di jalanan Solo. Saya tidak tau apa yang ada di kepala orang-orang seperti ini. Apa mereka berpikir, “Ah, cuma sebentar kok, parkir pinggir jalan juga nggak apa-apa, lagian masih bisa dilewati,” begitu?

Saya jadi ingat suatu kejadian sekitar tiga bulan lalu. Saat itu saya hendak mengantar kakak saya ke bandara, di perjalanan tiba-tiba saya terjebak macet. Padahal, saya tahu betul bahwa jalan itu biasanya tidak pernah macet.

Saya menunggu karena mobil masih bisa bergerak pelan-pelan. Setelah beberapa menit, akhirnya saya menemukan biang keroknya yaitu sebuah mobil yang parkir seenaknya di pinggir jalan, hanya untuk… makan soto. Bayangkan saja, hanya demi satu mobil yang parkir sembarangan demi semangkuk soto, efeknya satu ruas jalan jadi macet panjang. 

#3 Melawan arah saat di lampu merah

Saya juga mengamati, di jalanan Solo saat ini semakin marak pengendara yang nekat lawan arah dan mengambil jalan seenaknya. Dan, lucunya atau mungkin tragisnya, kejadian ini justru paling sering terjadi di area lampu merah. 

Kenapa demikian? Karena ketika antrean lampu merah sedang panjang, selalu saja ada satu dua orang yang tiba-tiba memutuskan untuk mengambil jalan dari arah berlawanan demi bisa berada di barisan paling depan. Mereka memotong jalur, melawan arus, dan memaksa pengendara dari arah lawan untuk mengalah. Padahal jelas-jelas perbuatannya salah.

Dari satu orang, tiba-tiba ada yang ikut, lama-lama jadi kebiasaan dan budaya yang akhirnya? Ya, kemacetan makin parah, pengguna jalan lain ikut terganggu, dan suasana jalan semakin kacau. Semua demi ingin duluan.

#4 Jalanan Solo menjadi arena balapan

Bagi saya, rasanya sudah tidak aman kalau ingin bepergian malam hari di Kota Solo. Bukan karena takut bertemu orang jahat, tetapi karena banyak pengendara yang suka kebut-kebutan atau balapan di jalanan. Saya sering melihat pengendara yang memaksimalkan gas kendaraannya. Seolah-olah jalanan adalah milik pribadi. 

Mungkin, sebagian besar dari orang yang kebut-kebutan itu merasa, Solo pada jam 12 malam sudah sepi ya sehingga boleh-boleh saja dijadikan area balap. Kejadian ini sering terjadi di Jalan Slamet Riyadi, Balekambang, hingga beberapa ruas jalan besar lainnya sering menjadi “arena balap” dadakan.

Tidak jarang, saya harus ekstra hati-hati karena tiba-tiba ada motor, mobil, bahkan bus melaju kencang dari belakang. Biasanya ada juga rombongan pengendara yang saling susul-susulan tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Rasanya benar-benar tidak aman. Apalagi, jika kita hanya ingin pulang atau pergi sebentar di malam hari.

Semoga Solo yang dulu dikenal sebagai kota yang santai, enak, dan nyaman bisa segera kembali. Semua alasan di atas membuat saya merasa bahwa Solo memang sudah masuk tahap darurat tertib berkendara semakin lama semakin semrawut. Saya pribadi berharap operasi zebra atau razia ketertiban dilakukan setiap hari, tanpa jeda, supaya perilaku-perilaku yang saya sebutkan tadi tidak berubah menjadi budaya buruk yang akhirnya membuat kota ini semakin tidak nyaman.

Penulis: Imanuel Joseph Phanata
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kasihan Solo, Selalu Dibandingkan dengan Jogja, padahal Perbandingannya Kerap Tidak Adil!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2025 oleh

Tags: Jalan Slamet Riyadijalanan di Solopengendara Solosolosurakarta
Imanuel Joseph Phanata

Imanuel Joseph Phanata

Mahasiswa semester 5 jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok yang hobi menulis di Mojok

ArtikelTerkait

4 Hal yang Tidak Akan Kita Temui di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo

4 Hal yang Tidak Akan Kita Temui di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo

1 Oktober 2023
3 Rekomendasi Warung Soto Solo yang Rasanya Terbukti Enak selain Soto Gading

3 Rekomendasi Warung Soto Solo yang Rasanya Terbukti Enak selain Soto Gading

5 Januari 2025
5 Aturan Tidak Tertulis di Solo, Saya Tulis supaya Kalian Tidak Kaget Saat Berkunjung ke Sini  Mojok.co daerah istimewa

5 Aturan Tidak Tertulis di Solo, Saya Tulis supaya Kalian Tidak Kaget Saat Berkunjung 

12 Desember 2024
3 Kuliner Solo yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

3 Kuliner Solo yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

24 November 2024
3 Kata yang Bikin Bingung Orang Riau yang Berada di Solo Mojok.co

3 Kata yang Bikin Bingung Orang Riau yang Berada di Solo

1 November 2024
Jogging di Stadion Manahan Solo Menyenangkan asal Bisa Berdamai dengan Hal-hal Ini Mojok

Jogging di Stadion Manahan Solo Nyaman asal Bisa Berdamai dengan Hal-hal Ini

24 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.