Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Minggat dari Jakarta dan Memutuskan Hidup di Padang Adalah Keputusan Terbaik Meski Harus Melawan Arus

Bunga Gracella Ardimay oleh Bunga Gracella Ardimay
2 November 2025
A A
Rasanya Hidup Nyaman Setelah Berani Minggat dari Jakarta (Unsplash)

Rasanya Hidup Nyaman Setelah Berani Minggat dari Jakarta (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Orang macam apa yang lahir besar di Jakarta, akhirnya malah memilih tuk kuliah dan merintis karir di pulau seberangnya? Orang-orang kebanyakan bilang itu ngelawan arus. Aneh, sukar dimengerti orang kebanyakan. Ya, orang itu saya.

Awalnya, saya memulai perjalanan ini dengan alasan untuk kuliah di Padang. Menurut saya, peluang diterimanya kuliah di Padang lebih besar dibandingkan memilih perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Walaupun, aslinya saya berdarah kental Minangkabau, lahir besarnya saja di Jakarta. Jadi, nyablak-nyablaknya orang Betawi, ada banget juga di saya.

Setelah lulus kuliah di awal tahun ini, saya bergegas pulang ke Jakarta untuk mencari kerja. Berbeda sekali rasanya pulang ketika sudah membawa gelar sarjana itu. Rasanya saya yang biasanya melihat Jakarta sebagai rumah, berubah menjadi arena pertarungan. Perasaan itu, saya tidak suka sekali, saya berpikir tuk menjadikan Jakarta cukup menjadi rumah saja.

Kalau ada yang bilang “Jakarta is not for everybody”, saya setuju dan menjadi bagian dari itu

Ternyata, takdir turut mendukung perasaan saya yang hendak pergi dari Jakarta. Sudah lebih dari lima bulan saya melamar pekerjaan di sana dan tak kunjung mendapatkan balasan. Iseng-iseng, saya melamar pekerjaan kontrak yang diunggah oleh kampus saya. Tak perlu heran, saya lolos ke tahap wawancara. Lucunya, ternyata yang mewawancara saya adalah dosen pembimbing tugas akhir saya.

Beliau sempat kaget saya mendaftarkan diri dalam program tersebut. Alih-alih menjadi agenda wawancara, pertemuan daring tersebut malah menjadi cerita kehidupan setelah lulus dengan beliau. 

Dosen saya mengatakan bahwa dia ragu untuk menerima saya. Dia takutnya pengeluaran saya untuk kembali ke Padang tidak sebanding dengan gaji yang akan diberikan. Kalau saja, saya tidak langsung pulang ke Jakarta, tentunya saya tidak perlu repot melamar, karena tentu akan dihubungi oleh beliau langsung.

Ternyata, beliau memberi kesempatan untuk saya mengikuti kegiatan tersebut, pergilah saya ke Padang beberapa hari setelah sesi wawancara itu. Per hari ini, terhitung sudah masuk lima bulan saya di bagian baratnya Sumatra. Banyak hal yang menjadi kelebihan kota ini dibandingkan Jakarta.

Lingkungan di Padang masih asri ketimbang Jakarta

Padang punya lingkungan yang masih asri. Kalau mau jalan-jalan, nggak perlu jauh-jauh, bisa langsung ke Pantai Padang. 

Baca Juga:

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa

Baiknya ke sana pakai transportasi umum, supaya nggak kena incaran tukang parkir bar-bar di sana. Ya, tapi kalau memang pakai kendaraan pribadi, setidaknya siapkan Rp2 ribu rupiah untuk motor, sementara untuk mobil 5 ribu rupiah. 

Dengan modal segitu, sudah bisa melepas penat setelah seharian bekerja. Kalau di Jakarta, pilihannya nggak jauh-jauh dari mall, yang bukannya ngelepas penat, malah nambah pikiran karena banyak lihat cenderung bikin kita banyak pengen. Ketika banyak pengin, tapi gak ada uangnya, bukannya malah jadi tambah pusing?

Makanan dan kafe di Padang masih terbilang murah

Salah satu yang nggak bisa didapatkan di Jakarta adalah kafe murah. Buat yang udah punya gaji UMR, mungkin masih bisa sedikit-sedikit untuk ngimbangin harga makanan di Jakarta. 

Namun, kalau yang masih berjuang buat dapat kerja, boro-boro punya kesempatan, kan? Kalau di Padang, masih bisa kita menemukan kafe yang ngasih harga kopinya Rp10 ribu. Udah gitu, ya, tahu lah, Padang surganya makanan enak, jadi nggak perlu khawatirin soal rasanya lagi. Kamu masih bisa dapat makan nasi bungkus enak dengan harga Rp10.000.

Kesempatan kerja dari kenalan

Alasan ketiga ini tentu sangat subjektif, karena saya memang lulusan sini dan punya banyak kenalan di Padang. Jadi, lebih mudah untuk mendapatkan tawaran pekerjaan dari orang-orang yang sudah mengenal saya sejak kuliah dulu.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan spesifik mengindahkan Kota Padang saja. Ini untuk menjadi sedikit sentilan kepada orang-orang yang gelisah dengan tindakan yang saya lakukan, yang kata mereka sebagai tindakan “lawan arus”. Sebab, tiap orang pasti punya pertimbangannya sendiri, dan jika itu menyenangkan mereka, kenapa tidak kita dukung saja?

Penulis: Bunga Gracella Ardimay

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Setelah 6 Tahun Merantau ke Luar Jawa, Saya Jadi Takut untuk Kembali Kerja di Jakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2025 oleh

Tags: JakartakarierKota Padangpadang
Bunga Gracella Ardimay

Bunga Gracella Ardimay

Perempuan berdarah Minangkabau yang lahir besar di Jakarta. Pencinta nasi tahu tempe dan cah kangkung. Suka cerita apa aja yang lagi gelisahin hati.

ArtikelTerkait

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Obsesi yang Dipaksakan (Unsplash)

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Hanya Sebatas Ambisi yang Manfaatnya Sangat Minim dan Kerugian yang Dirasakan Indonesia Bisa Sampai Kiamat

23 April 2024
jakarta

Memandang Jakarta Kali Pertama

13 September 2019
Berkarier Jadi Videografer Adalah Proses Panjang dan Ini Tipsnya! Terminal Mojok.co

Berkarier Jadi Videografer Adalah Proses Panjang dan Ini Tipsnya!

30 Maret 2022
Dua "Genre" Nasi Uduk Jakarta yang Perlu Diketahui Lebih Banyak Orang Mojok.co

Dua “Genre” Nasi Uduk Jakarta yang Perlu Diketahui Lebih Banyak Orang

24 Maret 2025
Derita yang Saya Rasakan Saat Naik Bus Sinar Jaya dari Jakarta ke Kawunganten Cilacap

Derita yang Saya Rasakan Saat Naik Bus Sinar Jaya dari Jakarta ke Kawunganten Cilacap

28 April 2023
Gen Z di Dunia Kerja: Punya Potensi, tapi Kurang Disukai Rekan Kerja Sendiri

Gen Z di Dunia Kerja: Punya Potensi, tapi Kurang Disukai Rekan Kerja Sendiri

29 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan Terminal

Di Balik Solo yang Syahdu Sehabis Hujan, Ada Ancaman yang Mengintai Pengguna Jalan

31 Mei 2026
Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker (Kota Banjarbaru via Wikimedia Commons)

Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker

26 Mei 2026
PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

28 Mei 2026
Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar”

28 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.