Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
28 Oktober 2025
A A
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi guru sekolah swasta ternyata bukan sekadar soal mengajar dan mendapatkan gaji kecil. Ada risiko-risiko tersembunyi yang membuat dunia pendidikan di sana terlihat lebih mblereng atau buram. Kisah ini datang langsung dari teman dekat saya, yang sudah lebih dari tiga tahun mengabdi di salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal.

Beberapa waktu lalu, kami sempat bertemu di sebuah warung kopi. Sambil menyeruput kopi, kami saling bertukar keluh kesah. Saya bercerita tentang ketidakpastian dunia usaha yang saya jalani, sementara dia membuka cerita pahitnya tentang pengalaman mengajar di sekolah swasta. Dari situ, saya baru sadar—ada sisi gelap yang bagi teman saya sudah menjadi konsumsi sehari-hari dan lumrah bagi guru lain.

Penasaran? Berikut saya rangkumkan sisi-sisi gelap itu, dari pengalaman nyata yang jarang menguap ke permukaan.

Status guru tetap yayasan (GTY) diperoleh dari kedekatan dengan kepala sekolah

Hal pertama yang bikin saya cukup tertegun, ternyata status GTY (Guru Tetap Yayasan) bagi  guru swasta sering kali penentu utamanya adalah faktor kedekatan dengan kepala sekolah. Di dunia usaha milik keluarga mungkin hal seperti ini lumrah. Tapi ini lembaga pendidikan, lho, tentu tidak bisa disamakan.

Bahkan ada guru yang sudah mengabdi sampai 7-8 tahun, tapi tetap belum diangkat menjadi GTY hanya karena kepala sekolah belum menandatangani surat rekomendasi ke pihak yayasan. Padahal, dari pihak yayasan sendiri sudah ada kebijakan yang jelas: guru yang mengabdi lebih dari satu tahun berhak diangkat jadi GTY. Dengan status GTY, tentu seorang guru akan mendapat gaji lebih layak bahkan bisa melebihi UMR, plus berbagai tunjangan tambahan. Tapi ya, entah kenapa, kepala sekolah masih saja menahan hak tersebut, tandas kawan saya sembari menelan asap rokok kretek.

Harus manut dengan guru senior

Selain urusan status profesinya, teman saya juga mengeluh soal dinamika internal antara guru yang cenderung melanggengkan relasi kuasa antara senior dan junior. “Mas, sering aku kepikiran untuk ngasih ide baru buat metode belajar, tapi malah ditolak sama guru senior. Katanya, “Dulu nggak gitu, sekarang kenapa ribet-ribet,” katanya sambil menatap jalan basah tersiram hujan.

Fenomena ini menurut teman saya sudah lumrah: guru junior harus mengikuti arus kebiasaan guru senior, meski cara itu kadang ketinggalan zaman atau kurang efektif. Belum lagi soal izin. Guru senior bisa seenaknya meninggalkan kelas atau datang terlambat. Sementara jika guru junior telat lima menit saja, sudah dianggap fatal banget. Kalau nekat membantah atau mencoba inovasi sendiri, bisa-bisa mendapat tatapan sinis, gosip di ruang guru, atau bahkan dikritik di depan murid.

Tak ayal posisi ini sering bikin guru muda kehilangan semangat kreatif. Alih-alih berinovasi, energi mereka banyak tersedot hanya untuk “menyesuaikan diri” dan menjaga hubungan baik.

Baca Juga:

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri

Tekanan moral dari orang tua murid lebih besar

Menjadi guru di sekolah swasta juga berarti harus siap menghadapi tekanan dari orang tua murid. Banyak orang tua, terutama dari kalangan menengah ke atas, memiliki ekspektasi tinggi dan cenderung mengawasi setiap langkah guru. Kesalahan kecil sekalipun bisa dianggap besar, dan kritik dari orang tua sering muncul tanpa kompromi.

Tekanan ini tidak hanya soal nilai atau prestasi akademik, tapi juga terkait cara mengajar, disiplin, dan pengelolaan kelas. Intervensi yang terlalu sering dari orang tua membatasi ruang guru untuk berkreasi dan mencoba metode baru. Akibatnya, guru bisa kehilangan motivasi, merasa kepercayaan diri terkikis, dan kreativitas dalam mengajar menjadi terhambat.

Banyak kerja tambahan tanpa hitungan sepadan

Menurut penuturan kawan saya yang terakhir adalah menjadi guru sekolah swasta berarti siap dengan pekerjaan tambahan yang tidak tercatat di kontrak kerja. Mulai dari mengisi administrasi berlapis, mengawal kegiatan ekstrakurikuler, hingga mendampingi murid atau konsultasi dengan orang tua murid di luar jam mengajar. Semua ini sering datang tiba-tiba, tanpa kompensasi tambahan atau apresiasi resmi dari pihak sekolah.

Beban “tambahan” ini jelas akan membuat guru selalu dalam posisi siap sedia, tanpa harus ada kepastian kapan tugas itu berakhir. Jam pribadi tersita, stres menumpuk, sementara gaji tetap sama rata dengan pasir di pantai. Bahkan beberapa guru memiliki beban kerja lebih ekstra dibandingkan dengan guru tetap di sekolah negeri, tapi apresiasi dan tunjangan jauh lebih minim.

Itulah empat sisi gelap yang kerap menyertai profesi guru sekolah swasta. Setiap pekerjaan pasti memiliki sisi terang dan gelapnya sendiri. Lagi pula, tidak semua sekolah swasta se-amburadul seperti cerita teman saya. Menariknya, di akhir sesi keluh kesah kemarin, teman saya merasa sedikit lega karena kini ada peluang hidup lebih layak berkat kebijakan pemerintah.

Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025, guru swasta kini berkesempatan mengikuti seleksi PPPK. Sebuah kabar yang tentu membawa harapan bagi ribuan guru yang masih setia untuk mengabdi. Semoga kesempatan ini benar-benar dirasakan oleh semua guru, karena pada akhirnya, kesejahteraan guru adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Jadi Guru Swasta yang Gajinya Tidak Seberapa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2025 oleh

Tags: gaji guru sekolah swastaguruguru sekolah swastasekolah swasta
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

jurusan pendidikan

Jangan-Jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadiin Hiasan Doang di Kampus

30 Juli 2019
Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang sekolah swasta

Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang

1 Agustus 2024
Siapa Bilang SPMB Sekolah Swasta Itu Lebih Gampang daripada Sekolah Negeri? Sini Maju!

Siapa Bilang SPMB Sekolah Swasta Itu Lebih Gampang daripada Sekolah Negeri? Sini Maju!

29 Juni 2025
peminat CASN menurun dibanding tahun sebelumnya mojok

Inilah Hal yang Membuat Pelamar CASN 2021 Menurun Dibanding Tahun-tahun Sebelumnya

3 Agustus 2021
guru bukan pegawai IT mojok

Menguasai IT Perlu, tapi Tugas Guru Bukan Itu

22 November 2020
guru tk jurusan pendidikan sekolah murid siswa mojok

4 Alasan Sebaiknya Kamu Jangan Masuk Jurusan Pendidikan

4 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Andai dapat rejeki nomplok Rp100 miliar, saya mau bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin Mojok.co

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

30 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
Motor Honda Vario 150, Sahabat Terbaik Toko Kelontong (Unsplash). daihatsu sigra

Honda Vario 150 LED Old, motor yang semakin tua justru semakin diburu, motor Honda terbaik!

27 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.