Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Laporan Praktikum Tulis Tangan Harus Segera Dimusnahkan!

Azzhafir Nayottama Abdillah oleh Azzhafir Nayottama Abdillah
22 September 2025
A A
Laporan Praktikum Tulis Tangan Harus Segera Dimusnahkan!

Laporan Praktikum Tulis Tangan Harus Segera Dimusnahkan!

Share on FacebookShare on Twitter

Kamu adalah mahasiswa sakti mandraguna apabila kamu berasal dari jurusan kuliah atau program studi yang menerapkan sistem Laporan Praktikum ditulis manual pake tangan dan kamu nggak ngeluh, top!

Perlu sobat ketahui, Laporan Praktikum (Laprak) itu adalah laporan yang isinya menjelaskan secara rinci hasil-hasil dari suatu kegiatan percobaan atau praktik, yang meliputi tujuan, metode, data yang diperoleh, analisis, hingga kesimpulan dari kegiatan tersebut, biasanya Laprak itu cuma ada di jurusan kuliah yang berasal dari rumpun ilmu Sains dan Teknologi (Saintek), contohnya ya Fakultas Teknik, Fakultas Farmasi, Fakultas Kehutanan… kalo FISIP? Laporan Demonstrasi kali ya.

Nah, yang jadi problematika adalah, laprak manual ini sering kali lebih bikin tangan penyet daripada bikin otak berkembang. Bayangin aja, udah capek praktikum dari jam 7 pagi sampe jam 3 sore, pulang-pulang masih harus nulis belasan halaman laprak. Tangan kiri pegang penggaris, tangan kanan narik pena kayak atlet panahan.

Salah sedikit? Coret. Ketumpahan kopi? Ya wassalam, ulang dari awal dan lebih kejam lagi, lupa makan! Sungguh menyeramkan bin mengerikan!

Kenapa harus tulis tangan?

Belum lagi kalau ketemu dosen atau asdos yang hobinya minta kerapian. Nulis harus rapi, margin harus sesuai, grafik harus pakai penggaris, tabel nggak boleh miring sedikit pun. Kadang laprak ini bukan lagi soal logika ilmiah, tapi soal siapa yang paling bisa cosplay jadi anak seni rupa. Jadi jangan heran kalau ada mahasiswa yang nilai analisisnya pas-pasan, tapi karena tulisannya kayak font Times New Roman 12, tetap dapat nilai bagus.

Padahal, kalau dipikir, esensi laporan itu kan menyampaikan hasil percobaan dengan jelas, sistematis, dan bisa dipahami. Nah, pertanyaannya apakah kejelasan laporan itu ditentukan dari seberapa tebal tinta pulpen merek Pilot Hi-Tec-C 0.5 yang kita habiskan? Atau dari berapa kali kita kehabisan correction pen gara-gara salah tulis angka?

Kocaknya lagi, di era modern ini semua hal udah migrasi ke digital. Tugas esai diketik, skripsi diketik, bahkan dosen sekarang kalau ngasih materi udah jarang tulis tangan di papan tulis, soale lebih sering tinggal “share PPT” via WhatsApp. Lha kok laporan praktikum masih kayak zaman kolonial? Jangan-jangan suatu saat ujian lab juga harus pakai batu tulis biar lebih otentik  dan nyeni?.

Dampak seram laporan praktikum manual

Dampak laprak manual itu bukan cuma bikin tangan pegel. Ada banyak mahasiswa yang akhirnya jadi “ahli fotokopi” laporan senior. Nggak usah munafik, budaya “copas tipis-tipis” atau budaya nyari wangsit senior berwujud awetan itu lahir karena sistemnya memang nyusahin. Asdos pun kadang udah tahu kalau ada yang jiplak, tapi pura-pura nggak lihat, toh yang penting laprakan masuk. Jadi, kalau dipikir-pikir, yang dipelajari bukan lagi ilmunya, tapi bagaimana bertahan hidup dengan metode survival of the fastest writing.

Baca Juga:

Emang Ngerjain Tugas dan Laporan Ditulis Tangan itu Masih Relevan, ya?

Laporan Praktikum kok Masih Aja Tulis Tangan, sih?

Yang lebih lucu sekaligus menyedihkan, ada juga mahasiswa yang putus asa trus nekat pakai jasa joki laprak tulis. Bayarnya bisa ratusan ribu per laporan, padahal itu duit hasil nabung seminggu cuma makan indomie. Eh, laprakan jokinya malah kena revisi. Dosen komentar santai, “Perbaiki analisisnya.” Lah, jokinya langsung ngilang, nggak bisa dihubungi, nggak mau nerima revisi. Jadi mahasiswa ini bukan cuma kehilangan duit, tapi juga kehilangan harapan atas Sang Penolong Laprak, yaitu joki

Ada pula yang lebih ekstrem, tukang jokinya nyerah duluan!. Katanya, “Maaf, Kak, ini revisinya ribet banget. Saya mundur.” nah lho, kalau joki aja nyerah, berarti laprakan ini tingkat kesulitannya udah nggak masuk akal, kaya nyari jerami di antara paku, ruwet!. Akhirnya mahasiswa balik lagi ke titik nol, nulis ulang dengan tangannya sendiri, sambil mikir, “mending dari awal nggak usah joki, duit bisa buat top up Robux.”

Namanya juga perjuangan, tapi…

Kalau dipikir-pikir, sistem laporan praktikum manual ini sebenarnya lebih mirip uji ketahanan fisik ketimbang latihan berpikir ilmiah. Tangan keriting, otak mumet, dompet menipis, bahkan joki pun angkat bendera putih. Yang tersisa cuma mahasiswa yang harus pura-pura tabah sambil menahan sakit di pergelangan tangan dan menahan perih ruas jari yang bentuknya kaya Indomie rasa Rendang itu, keriting banget!

Padahal, di zaman serba digital ini, laporan praktikum seharusnya bisa lebih modern, efisien, dan fokus ke isi, bukan ke kerapian tulisan. Bayangkan, kalau semua laprak diketik, mahasiswa bisa lebih banyak waktu buat beneran mikirin analisis, bukan sibuk nyari pulpen gel tinta paling awet.

Refleksinya simple, laprak manual bukan bikin mahasiswa lebih disiplin, tapi lebih sering bikin mahasiswa jadi ahli nyambat tingkat internasional. Kalau dipaksa terus, jangan-jangan nanti yang lulus dalam wujud jari keriting, ih serem!

Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Laporan Praktikum kok Masih Aja Tulis Tangan, sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2025 oleh

Tags: laporan praktikumlaporan praktikum tulis tangantulis tangan
Azzhafir Nayottama Abdillah

Azzhafir Nayottama Abdillah

Mahasiswa Ilmu Politik yang memiliki pengalaman menulis selama 5 tahun. Memiliki minat riset dan pendidikan.

ArtikelTerkait

Laporan Praktikum kok Masih Aja Tulis Tangan, sih?

Laporan Praktikum kok Masih Aja Tulis Tangan, sih?

8 Januari 2020
laporan ditulis tangan, tulisan tangan jelek penderitaan ciri arti manfaat tanda orang cerdas mojok.co

Emang Ngerjain Tugas dan Laporan Ditulis Tangan itu Masih Relevan, ya?

28 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lumpia Semarang Cerita Cinta yang Dibungkus Kulit Tipis (Wikimedia Commons)

Lumpia Semarang: Cerita Cinta Lelaki Tionghoa dan Perempuan Jawa yang Dibungkus Kulit Tipis

14 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Ribet dan Cepat Miskin (Unsplash)

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

19 Februari 2026
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026
Wisata Wonosobo Enak Dinikmati, tapi Tidak untuk Ditinggali (Unsplashj)

5 Wisata Wonosobo Selain Dieng yang Tak Kalah Indah untuk Dinikmati, meski Nggak Enak untuk Ditinggali

14 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.